Header Ads

Orbit Manusia dalam Keimana Mereka terhadap Sesuatu

 Orbit Manusia dalam Keimanan

Ibnu Qayyim berkata, "Kesempurnaan manusia dan orbit mereka terbagi dua: mengetahui kebenaran daripada kebatilan dan mengutamakan kebenaran daripada kebatilan, bertekad kuat untuk meneguhkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, lalu kemudia bekerja untuk dengan segala kemampuan dan potensinya untuk memimpin dunia dan menebar kebaikan di dalamnya. Mahabenar Allah dengan firman-Nya, "Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk." (Al-Bayyinah: 7).

Dalam sebuah doa dikatakan, "Ya Allah, tunukkan padaku kebenaran itu benar adanya, dan berilah aku kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkan pula padaku bahwa kebatilan itu batil, dan berilah aku kemampuan untuk menghindarinya."

Mereka adalah orang-orang yang dilimpahkan padanya pengetahuan dan didukung oleh kekuatan kehendak untuk bekerja dan beramal. Mereka adalah orang-orang yang digambarakan Allah dalam Al-Qur'an, "Orang-orang yang beriman dan beramal saleh." Dan firmanya-Nya, "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu orang yang keadaanya berada dalam gelap guluta yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (Al-An'aam: 122)
Maka, hanya dengan kehidupan imaniyah, yang disinari cahaya Ilahiyah, yang mampu mendapatkan tekad membaja, dan dengan cahaya Allah ilmu pengetahuan dapat dimiliki.  Para pemimpin dengan kriteria seperti ini adalah para Rasul Allah yang bergelar 'Ulul 'Azmi'

Adapun manusia sebagai makhluk Allah, maka mereka terbagi dalam empat kelompok dengan bashirah dan kekuatan yang berbeda-beda.
Pertama, manusia yang memiliki bashirah dan kekuatan sebagaimana yang di jelaskan di atas, bahwa mereka adalah para Nabi dengan kedudukan paling mulia di sisi Allah.

Kedua, kebaikan dari kelompok manusia di atas, atau mereka yang tidak memiliki bashirah dalam iman mereka, dan juga tidak memiliki kekuatan untuk merealisasikan kebenaran. Inilah kelompok manusia dengan jumlah yang paling besar; pandangan mereka hanya sebatas pandangan mata, semangat yang lemah, dan hati yang sakit. Kehadiran mereka hanya mempersempit ruang hidup ini dan membuat harga-harga kebutuhan melambung tinggi. Tak ada manfaat dari kebersamaan mereka, kecuali cela dan kehinaan.
Ketiga, mereka yang memiliki bashirah terhadap petunjuk dan kebenaran dan mengetahunya dengan baik, namu mereka lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk merealisasikannya. Mereka juga tidak menyerukan di hadapan manusia. Ini adalah kondisi seorang mukmin yang lemah imannya. Padahal mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mikmin yang lemah.

Keempat, kelompok manusia yang memiliki kekuatan, tekad dan kemauan besar, tapi memiliki bashirah yang lemah dalam keimanan. Ia tak mampu membedakan antara wali Allah dan wali setan, tapi senantiasa menganggap bahwa semua yang hitam itu adalah kurma dan yang bengkak pada tubuh manusia adalah lemak dan menganggap bahwa obat yang bermanfaat kesehataan itu adalah racun semata.

Sumber: di salin dari Buku Al-Iman Wa Iqads AL-Quwa Al-Khofiyyah - Prof. Dr. Taufiq Yusuf Al-Wa'iy

No comments

Powered by Blogger.