Header Ads

Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Keluarga

Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Keluarga

Di antara kewajiban seorang Muslim yang utama yaitu menunaikan hak-hak keluarga yang ada pada dirinya. Berikut ini adalah kewajiban-kewajiab seorang Muslim terhadap keluarganya yang harus dipenuhi:


Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Orang Tua

  1. Berbakti kepada kedua orang tua (Ibu dan Bapak)
    Sebagai seorang anak, seorang Muslim harus berbakti kepada ibu bapaknya (birul walidin), Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah swt dalam Al-Qur'an Surat Luqman[31]: 14; "Dan kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang amat sangat".
    Ibu yang telah susah payah mengandung dan menyusuianya selama dua tahun dan Bapak yang telah menafkahinya hingga ia menjadi remaja dan dewasa, Kebaikan keduanya tiak bisa dinilai dengan materi. Amatlah sangat durhaka jika seorang anak tidak berbaikti kepada orang tuanya.

    Ajaran Islam memberi penekanan khusus perihal berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan pun ketika keduanya mengajak kepada kemusyirikan, seorang Muslim harus tetap bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Dalam hal ini Allah berfirman, "Dan apabila mereka memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduannya di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku. Kemudian hanya kepadaKu tempat kalian kembali, lalu aku beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan". (QS. Luqman[31]: 15).

    Dalam QS. Al-Isra' ayat 23-24 Allah memerintahkan orang Islam agar bersifat lembut kepada orang tua, firman-Nya; "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Apabila salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah sampai pada usia lanjut, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya 'Hus' dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi aku di waktu kecil.".
  2. Tetap Berbakti Meskipun Keduanya Non Muslim
    Meskipun kedua orang tua seorang Muslim belum mendapat hidayah, ia diwajibkan tetap berbuat baik kepadanya. Peristiwa ini pernah dialami oleh Asma binti Abu Bakar ketika ia bercerita, "Pada masa Rasulullah, ibuku pernah mendatangiku sedangkan dia masih musyrik. Lalu aku meminta petunjuk kepada Rasulullah saw., ibuku telah datang kepadaku dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan dengannya?, "Benar, sambunglah hubungan dengan ibumu," Jawab beliau. 
    (Muttafaqun 'alaih).
  3. Mendahulukan Ibu, kemudian Bapak
    Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak mendapat pergaulan baik dariku?" Rasulullah saw. menjawab; "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" "Ibumu," Jawab Rasulullah. "Kemudian siapa lagi", Orang itu bertanya lagi. "Ibumu," jawab Rasulullah saw. Dan orang itu bertanya lagi, "Kemudia siapa lagi?" "Kemudian Bapakmu." (Muttafaqun 'Alaih).
    Dari hadits di atas, kita melihat bahwa Nabi saw mengajarkan kepada anak-anak Muslim agar berbuat baik kepada Ibunya tiga kali lipat dibanding terhadap bapaknya. Dengan kata lain, Islam mengajarkan agar mendahulukan berbaikti kepada Ibu dahulu lalu baru kepada bapak.
  4. Berbuat baik kepada shabat orang tua
    Termasuk berbakti kepada orang tua ialah bila kita tetap menyambung tali silaturahim kepada sahabat-sahabat orang tua kita. Dalam riwat Muslim, Nabi saw. berpesan, "Jagalah hubungan baik dengan orang-orang yang dicintai ayahmu, jaganlah kamu memutuskannya yang menyebabkan Allah memadamkan cahayamu".

Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Istri

Seorang Muslim yang telah menikah, kewajibanya bertambah yakni terhadap Istrinya. Menikah merupakan sunnah Rasulullah saw, namu hukumnya bisa menjadi wajib ketia seorang Muslim telah mampu untuk menikah. Dengan menikah, hidup dapat menjadi tentram. Ada tempat berbagi rasa bahagia dan duka yang sah. Kasih sayang bisa dicurahkan kepada yang berhak sesuai tuntutan fitrah insani. Allah berfirman, "Dan di antara tanta-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan pasangan dari jenismu sendiri, agar kalian merasa tentram bersamanya. Dan dia menjadikan di antara sesama kalian rasa kasih dan sayang" (QS. Ar-Ruum [30]: 21).
Seorang Muslim harus memperlakukan Isterinya dengan baik. Ia harus didik agar senantiasa menjadi Istri Shaliha yang dapat menyertai suami tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat. Seorang Muslim harus memaikan peran sebagai qowwam dalam bahtera rumah tangganya. Jika ia benar-benar memahami ajaran Islam, maka ia akan menjadi pemimpin keluarganya dengan segenap tanggung jawab di pundaknya.
Seorang suami yang shalih dan mena'ati ajaran agamanya, juga akan berusaha menyerasikan antara keridlaan orang tua dengan kewajibannya terhadapa isteri. Dengan demikian, ia akan menjadi suami yang sukses dan ideal di mata istri dan kedua orang tuanya.


Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Anak

Seorang Muslim yang telah dikaruniakan anak, bertambah pulalah kewajibannya. Ia harus mencari nafkah yang lebih banyak lagi untuk menafkahi anaknya. Dia bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya dengan memilihkan sekolah Islami bagi anak-anaknya hingga pendidikan agama mereka terjaga.
Anak-anak perlu mendapat kasih sayang dan perhatian. Sebagai kepala keluarga, seorang Muslim harus pandai mengatur waktunya antara waktu kerja, ibadah, bermasyarakat dan keluarga. Anak-anak perlu diperlakukan secara adil dan mendapat kasih sayang yang sama.
  1. Tanggung jawab besar terhadap Anak
    Anak merupakan anggota keluarga yang harus diberi pendidikan agama sehingga kelak ia menjadi anak yang shalih. Allah berfirman; "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu".
    Dalam sebuah hadits, Nabi saw bersabda, "Perintahkan kepada anak-anakmu untuk mengerjakan shalat pada saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila mereka enggan mengerjakannya pada saat mereka berusia sepuluh tahn." (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).
  2. Menanamkan Akhlakul Karimah
    Akhlak adalah kebiasaan sepontan yang dilakukan seseorang tanpa dipikirkan lagi. Pendidikan akhlak akan sangat berkesan jika dilakukan saat seseorang masih anak-anak. Dari sebab ini, Islam menekankan pendidikan akhlak terhadap anak-anak.
    Saat orang tua bergaul dengan anak-anak-nya, ia tentu dapat menyelami kedalaman jiwa anaknya. Ia tahu saat-saat yang tepat untuk mengajarkan pendidikan akhlak kepada mereka. Yang tak kalah urgen dalam pendidikan ini adalah mengajarkan kepada anak-anak bagaimana cara mencintai Rasulullah saw.

Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Kerabat

Kewajiban selanjutnya adalah terhadap saudara-saudara sendiri. Mereka adalah kakak atau adik sekandung, atau sebapak, atau seibu dan seterusnya yang mempunyai kekerabatan. Mencintai saudara-saudara sendiri seraya menyambung tali silaturrahim amat dianjurkan dalam Islam.
Sebaliknya, bertengkar atau bercanda yang menyakitkan apalagi menggunjing saudara-saudara sendiri amat dibenci dalam Islam. Tolong-menolong dengan saudara-saudara sendiri nilainya dua kali lipat dibanding menolong orang lain. Bila ada saudaranya miskin, sementara ia menjadi orang berkecukupan, maka saudaranya lebih berhak mendapat dermanya sebelum yang lainnya.
Seorang Muslim juga berkewajiban mendo'akan saudaranya meskipun dari kejauhan. Pendek kata, persoalan tolong-menolong tidak hanya dalam wujud fisik nyata, tetapi yang bersifat abstrak spiritual juga tak kalah pentingnya.
  1. Penghormatan Islam Terhadap Kerabat
    Perhatian Islam terhadap hak-hak kerabat anatara lain ditunjukkan dalam firman Allah swt, "Sembalah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatum, orang-orang miskin, tentangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggkan diri." (QS. An-Nisa [4]: 36).
    Dalam ayat lain, Allah juga menyatakan, "Dan berikanlah kepada kerabatmu hak-hak mereka, kepada orang miskin dan kepada orang yang dalam perjalanan. Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros" (QS. Al-Isra [17]: 26).
  2. Menyambung Silaturahim
    Bersilaturahim amat dianjurkan dalam Islam, apalagi terhadap kerabat sendiri. Seorang Muslim hendaklah memperhatikan pula adab bersilaturahim sesuai ajar Islam. Mengenai keutamaan silaturahim ini, Nabi saw pernah bersabda, "Barangsiapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim".
    (Mutafaq 'alaih).
    Sebaliknya, Rasulullah saw. menyampaikan acama kepada siapa yang memutuskan silaturahim. Sebdanya, "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan siltarurahim." (Muttafa alaih).

No comments

Powered by Blogger.