Header Ads

POTRET KELUARGA


POTRET KELUARGA
Oleh: Penderita Tuna Asmara





Apa sesungguhnya yang menjadi benang merah atas persoalan hidup, yang kita jalani dalam keluarga? Satu di antaranya kita mesti tahu potret keluarga kita seperti apa. Tahapan muhasabah ini penting untuk memudahkan kita mengubah keluarga yang biasa menjadi luar biasa. Atau paling tidak mengetahui potret keluarga kita, sehingga bagaimana mengubah arahnya―agar menjadi lebih baik. Tanpa itu kita akan mengalami kesulitan, dalam melakukan perubahan dan perbaikan terhadap keluarga kita.

“Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang–orang  yang shalih diantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (Q.S. al-Mu’min: 8).   

Ustadz. Umar Hidayat mengutip mengenai potret keluarga yang digambarkan oleh Ustadz. Budi Darmawan, ketika mengisi acara Rumah Keluarga Indonesia, dalam sebuah bukunya.
  • Potret keluarga kuburan, keluarga yang sepi karena suami istri malas untuk saling tegur sapa. Begitu pun anak jadi merasa asing di rumah sendiri, atau malahan anak hanya menjadi kurir atau penyampai pesan. Harapannya komunikasi lancar, tapi kenyataannya pola komunikasi menjadi semakin tidak jelas. Maksud baik diterima jelek. Maksudnya bergurau atau menggoda jadi salah terima, dianggap mengejeklah, merendahkanlah, tidak tahu dirilah dan sebagainya. Akhirnya timbullah perkelahian dalam rumah tangga hingga terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Rumah sepi tanpa suara, tak ada kenyamanan dan keramahan, sehingga seperti kuburan suasananya. 
  • Potret keluarga pasar, dicirikan suami dan istri terlalu perhitungan, masing-masing pihak merasa lebih banyak berkorban dibandingkan dengan pasangannya. Selalu saja ada yang bisa dimainkan untuk di perhitungkan, dari hal yang sepele hingga yang sifatnya sangat privasi dan menimbulkan sakit hati. Dari masalah bergurau hingga menjadi serius dan saling mengumpat, mereka lupa akan tujuan dari pernikahan.  
  • Potret keluarga arena silat, sehari-harinya dipenuhi oleh percekcokan, pertengkaran suami dan istri. Ibu dengan anaknya, ayah dengan anaknya, anaknya dengan anak yang lain, atau antar mereka semua. Ternyata ketidakcocokkan dalam keluarga yang menjadi layaknya arena tinju, suami dan istri tidak pernah berdiri di sudut yang sama. Mereka saling menyerang, saling mencari posisi untuk menang, saling mempertahankan diri agar tidak kalah. Yah, ke-ego-anlah yang menyebabkan mereka seperti itu, yang menggambarkan seperti arena silat.
  • Potret keluarga rumah sakit, walaupun gambarannya tidak seperti rumah sakit, tetapi di beberapa potret keluarga ini terjadi fokus yang terpecah pada status sosial. Jika datang pasien yang kurang mampu, pelayanannya jadi kurang memuaskan. Sementara itu, saat ada pasien yang punya uang banyak, dia akan dilayani dengan baik. Nah dipotret keluarga ini terjadi seperti itu, ada uang abang disayang, tak ada uang barang melayang. Potret keluarga yang sakit, sakit jiwa dan nuraninya.  
  • Potret keluarga sekolah, dalam pola interaksi saling asah dan asih, sesama anggota keluarga saling berbagi informasi yang bermanfaat untuk saling mendukung dan saling menguatkan. Saling mengajari dan mengajarkan, tak ada yang lebih pintar di antara mereka, semua saling belajar. Mereka menerima dari mana pun suara perbaikan, sadar akan kelemahannya dan bersedia menerima pelajaran dari yang lainnya. Seperti halnya sekolah saling berbagi.
  • Potret keluarga masjid, mungkin inilah sebaik-baiknya potret keluarga, keluarga yang berorientasi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Meyakini bahwa mereka kelak akan dijumpakan dalam satu paket, dijumpakan komplit dalam satu keluarga dalam surga-Nya. Seiring sejalan, harmonis, saling menjaga saling mendukung dan saling berbagi peran dan cinta.

Gambaran potret keluarga memberikan kita penjelasan bahwa seperti apa keluarga kita maka seperti itulah perasaan kita saat bersama mereka, lantas masih adakah kelurga jika tak ada lagi cinta? Keluarga yang hanya berisi  prasangka jumawa, saling curiga satu sama lain, di mana kah  letak kepercayaan itu? Ketika perjanjian teguh itu terucap dan menggetarkan Arsy-Nya, langit dan bumi pun terharu. Lantas, bagaimana mungkin Anda mengingkari janji setia itu? 

Maka marilah kita bangun madrasah tempat kita, madrasah tempat kita menghilangkan bekas-bekas keburukan, dan menggantinya dengan jejak-jejak keimanan. Madrasah tempat kita menempa jiwa dalam taat, madrasah tempat kita mengajar pasangan dan keturunan kita dengan apa yang Allah perintahkan. Yah, inilah madrasah yang kita panggil dengan rumah cinta, yang melimpahkan barakah dan rahmat-Nya. []

No comments

Powered by Blogger.