Etos Kerja Seorang Muslim
Etos Kerja Seorang Muslim - Yang perlu untuk segera dibangkitkan dari diri kaum Muslimin adalah menyangkut etos kerja. Gairah berkerja, semangat bekerja mencari karunia Allah kurang menyertai umat Islam pada umumnya. sehingga hanya sedikit saja dari kalangan mereka yang sukses di bidang ekonomi, sementara sebagian besar aspek perekonomian masih dikuasai oleh orang-orang di luar Islam.
Sebagai akibatnya, banyak dari kalangan umat Islam yang menjadi "pengemis" kepada orang-orang di luar Islam. Ada yang tukang buat proposal, ada yang langsung berupa permohonan cash, ada yang pura-pura cari dana sumbangan dan beragam bentuk lainnya. Maka sudah saatnya, seorang Muslim menyadari pentingnya mempunyai penghasilan yang besar.
Antara dakwah dan Kerja
Berdakwah bukanlah pekerjaan yang ringan. Ia menyita pikiran, waktu dan tenaga. Seringkali juga menguras harta atau dalam kondisi tertentu bahkan bertaruh nyawa. Ini berarti kaum muslimin khususya aktifis dakwah dituntut mengkompromikan berbagai persoalan sehingga semuanya dapat berjalan lancar.
Sebagaimana orang kebanyakan, seorang muslim memikul beban keluarga atau paling tidak dirinya sendiri. Ia butuh makan minum, butuh pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan manusiawi lainnya. Manusia purba mungkin hanya membutuhkan makanan dan tempat tinggal ala kadarnya. Pakaian juga asal menutup bagian-bagian tertentu dari tubuh, unsur estetis hampir tak pernah telintas dalam benak mereka. Mereka berfikir terbatas, sekedar bagaimana mempertahankan hidup.
Kaum Muslimin bukanlah manusia purba. Mereka hidup di dunia masa kini. Mereka sebagaimana juga manusia lainnya, selain memerlukan makan, juga memerlukan pelayanan kesehatan, kendaraan, hiburan (rihlah), buku-buku bacaan, informasi dan kebutuhan jasa-jasa lainnya. Kebutuhan manusia memang terus meningkat sehingga makin banyak dan beragam pula barang dan jasa yang harus tersedia.
Diatas baru disebutkan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia belum di singgung tentang kebutuhan dasar yang mempunyai nilai estetis, misalnya rumah yang asri atau mungil, krusi sofa, meja makan dari kaca dan seterusnya. Makan munumpun demikian, seorang Muslim butuh makan nasi bergizi tinggi, ayam goreng, sate kambing, Butuh minum susu, madu, es teh, es jeruk, dll. Semua ini diperuntukan agar kesehatanya tetap fit, karenan seorang muslim membutuhkan energi ekstra dibanding orang kebanyakan. Dan ini semua membutuhkan alat rukar, uang.!!
Untuk zaman dahulu, apa yang penyusun sampaikan mungkin masih merupakan barang mewah bagi kebanyakan orang. Tetapi pada masa sekarang, hal-hal itu bukan seseuatu kemewahan, ia sudah menjadi kebutuhan. Kita bisa melihat berbagai perubahan pada berbagai nilai barang dan jasa. Sepuluh tahun yang lalu, kendaraan motor, masih merupakan barang mewah. Sehingga hanya sebagian orang saja yang memilikinya. Apalagi kendaraan roda empat, lebih sedikit orang yang mempunyainya. Contoh lainnya handphone. Di setiap sudut kota atau bahkan pelosok, orang-orang sudah membawa telepon selular ini. Di kantor-kantor, para mahasiswa, para pengawai pun sudah sangat akrab dengan dengan telpon genggam. Ia telah menjadi barang biasa yang dipakai oleh semua kalangan. Dan baru berlaku beberapa waktu terakhir saja. Sepuluh tahun yang lalu mungkin masih menjadi barang lux atau kebutuhan mewah. Tapi dalam sekejap ternyata bisa berubah menjadi hal yang biasa.

Post a Comment