Akhlak Seorang Muslim Saat Bekerja
Islam menuntun kita untuk menghargai waktu setinggi-tingginya. Waktu adalah modal sekaligus merupakan amanah yang wajib dijaga. Waktu adalah perekam sejarah setiap insan di alam ini, apakah ia mulia atau nista. Tidak sedikit orang cukup potensial, tetapi tidak bisa menjadi unggul karena tidak cerdas memenej waktu. Kalau dalam setiap perpindahan waktu kita mampu melakukan yang terbaik, maka insaya Allah kesuksesan antri menunggu kita.
Yang menjadi persoalan sesungguhnya bukan terletak pada waktu, sebab semua waktu itu baik. Bukankah Allah swt bersumpah dengan semua waktu yang berlaku di alam ini.?
"Demi masa (demi waktu ashar), demi waktu dhuha, demi malam, demi waktu shubuh, demi siang dan seterusnya. Pendek kata, tidak ada waktu sial seperti anggapan segelintir orang bungung di masa dulu dan kini. Yang menjadi masalah besar adalah bagaimana mengisi waktu dengan optimal.
"Demi masa (demi waktu ashar), demi waktu dhuha, demi malam, demi waktu shubuh, demi siang dan seterusnya. Pendek kata, tidak ada waktu sial seperti anggapan segelintir orang bungung di masa dulu dan kini. Yang menjadi masalah besar adalah bagaimana mengisi waktu dengan optimal.
Banyak strategi yang bisa kita terapkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya ialah dengan memakai rumus: sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, atau sambil menyelam minum air. Maknanya, dalam satu waktu, dapat dilakukan dua, tiga aktifitas yang berbeda secara bersamaan sehingga menghemat waktu.
Rumus ini kita terapkan sebagai berikut, bekerja membutuhkan waktu berjam-jam, terkadang bisa sehari penuh. Anda yang pagi berangkat ke kantor, lalu sore haru baru pulang, berarti sekitar 8 jam berada di tempat kerja. Pendangan di pasar mulai menjelang shubuh sampai sore hari telah menghabiskan 8 jam seorang muslim dituntut mampu menyelesaikan sejumlah kewajibannya terhadap Allah maupun manusia. Untuk itu, ia dapat berbisnis atau bekerja (bagi yang di kantor-kantor) dengan berdakwah sekaligus. Modal utamanya ialah akhlak yang baik dan prestasi kerja yang tinggi.
Seorang bussinessman yang berakhlak mulia, pasti berprestasi tinggi. Akhlak yang baik adalah tonggak utama dalam dakwah iallah. Akhlak mulia merupakan senjata ampuh menarik orang ke dalam kebaikan. Sehingga Nabi saw memproklamirkan,
Inna bu'itsu li-utammima makarimal akhlak.
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak."
Sebagai suri tauladan orang-orang berakal, Rasulullah SAW menarik hati manusia karena kemulian akhlaknya. Tuhan Allah pun menyanjungnya ketika dia Berfirman, "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak mulia." (QS. 68:4). Jadi jelaslah kunci utama dakhwah ialah akhlak. Setiap Muslim lebih membutuhkan kepada akhlak dari pada yang lainnya, ia adalah kebutuhan primer yang harus dimiliki.
Ketika seorang Muslim mampu menunjukkan akhlak yang baik saat ia bekerja, berarti ia melakukan dua hal penting dalam satu waktu yaitu Kerja dan Dakwah.

Post a Comment