Kekuatan Terpendam Dalam diri Seorang Muslim
Ada banyak potensi dan kekuatan yang terpendam dalam diri setiap Muslim. Kekuatan yang dapat menyingkap dan mendorong seorang Muslim untuk melakukan banyak hal. Namun, sangat banyak di antara mereka yang tidak mengetahui bangaimana potensi dan kekuatan yang terpendam dalam dirinya. Kekuatan itu pun luput dari perhatian mereka, sehingga tak kunjung memberi konstribusi dan manfaat bagi mereka agar dapat bangkit dari keterpurukan.
Ketika seorang Muslim memperhatikan sisi ini, keimanan akan masuk ke dalam dirinya disertai dengan wahyu Ilahi yang menunjukkan tentang hal ini. Perhatian itu tidak dapat memalingkan wajah manusia untuk melihat kemampuan, rahasia, kekuatan, dan potensi yang ada dalam dirinya. Allah swt. berfirman, "Pada diri kalian, tidakkah kalian memperhatikan.?" (Q.S Adz-Dzaariyat: 21)
Seorang mukmin bijak mengungkapkan makna ayat tersebut melalui penggalan syairnya di bawah ini;
"Obat itu adalah apa yang ada padamu dan apa yang engkau tahu darinya.
Engkau menyangka dirimu hanyalah manusia kerdil Namun, alam raya nan luas ini dapat tunduk padamu.?"
Al-Qur'an yang mulia ini juga senantiasa membimbing kita. Al-Qur'an menjelaskan bahwa perubahan hakiki yang terjadi dalam diri manusia bukan semata-mata berasal dari usaha yang dilakukannya untuk mengubah apa yang ada dalam diri mereka, tetapi itu merupakan nikmat dan pertolongan yang Allah berikan. Firman-Nya, "Sesungguhnya, Allah takkan mengubah nasib suatu kaum apabila mereka tidak mengubah diri mereka sendiri," (Q.S Ar-Ra'd: 11).
Di sini, Allah SWT menyatukan kebeneran melalui kebenaran dan pertolongan-Nya kepada manusia serta adanya usaha dan kerja dari mereka untuk mengubah diri mereka sendiri.
Oleh karena itu, Allah yang maha mulia tidak pernah memberikan kemenangan bagi para pemalas, juga tidak memberikan kekuasan bagi para pecundang. "Allah tidak memberi petunjuk bagi kaum yang fasik." (Al-Maa'idah: 108) dan firman-Nya, "Bagaimana mungkin Allah memberi petunjuk bagu suatu kaum yang kafir kepada-Nya setelah mereka beriman?" (Ali Imran: 86)
Jadi, sesungguhnya, Allah swt. tidak pernah menghilangkan pahala-Nya bagi orang-orang yang melakukan kebaikan, dan Allah swt., dengan hak menyatakan bahwa, keberhasilan dan pencapaian cita-cita hanya dapat diraih bila disertai dengan perjuangan dan kesabaran. Firman-Nya, "Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kemi ketika mereka sabar." (As-Sajdah: 24) dan firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran:200).
Kerja keras yang disertai dengan kehendak membaja merupakan langkah awal untuk meraih keberhasilan di atas jalan panjang yang harus dilitasi setiap manusia. Orang-orang yang dapat mengarungi samudra dan menerjang badai serta golombang adalah orang-orang yang memiliki cita-cita yang besar.
"Kan kucampkkan segala kesulitan untuk meraih kesuksesan.
Takkan tercapai tingginya cita, kecuali dengan kesabaran."
Benar, cita-cita dan tujuan takkan tercapai, kecuali dengan kerja keras, kucuran keringan, perjuangan, dan kesulitan. Siapa pun yang mengatakan selain hal ini, maka dia adalah orang yang sedang bermimpi di siang bolong dan tidak mengetahui hakikat yang sesungguhnya.
"Jangan anggap keagungan itu adalah segantang kurma yang engkau makan. Takkan kaucapai keagungan sebelum kau telan kesabaran."
Mahabenar Allah dengan firman-Nya;
"Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami, niscaya Kami tunjukkan pada mereka jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang berbuat kebaikan." (Al-Ankabuut: 69)
Maka petunjuk itu datang setelah adanya perjuangan, pengorbanan, baik dengan jiwa, harta, waktu, maupun tenaga, Inilah karakter orang-orang yang beriman, di mana ukhuwah imaniah dan akidah yang kokoh takkan melekat dalam diri mereka, kecuali setelah mereka memiliki akar keteguhan dan kekuatan kehendak.
Mahabenar Allah yang menjelaskan hal ini dengan firman-Nya, "Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu (adalah kaum) yang satu sama lain saling melindungi." (Al-anfaal: 72) dan firman-Nya, "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang bernar-benar beriman." (Al-Anfal: 74)
Unsur yang sangat berperan dalam membangkitkan kemauan kuat dan menumbuhkan cita-cita yang tinggi serta menanamkan tujuan agung adalah keimanan. Unsur inilah yang memberi manusia bekal, yang tak pernah habis, dan mendorongnya untuk meraih apa yang dicita-citakannya. Melalui sarana dan fasilitas yang tersedia, perencanaan yang matang, dan sistem yang tepat serta terencana, Anda dapat "menciptakan kematian" dalam diri seseorang dan menghidupkan apa yang telah mati dalam lubuk hatinya.
Sumber: Di salin dari Mukaddimah Buku Al-Iman Wa Iqadz Al-Quwa Al-Khofiyyah - Prof. Dr. Taufiq Yusuf Al-Wa'iy.

Post a Comment