Berapa Seyogyanya Income Seorang Muslim.?
Where there is a will there is a way, kata pepatah. Memang benar keinginan merupakan titik tolak sebelum sampai pada tujuan. Keinginan (dalam bahasa Islam disebut niat, azam) berangkat dari kesadara diri yang membuahkan keinginan kuat untuk melakukan satu tindakan konkrit. Misal kita ingin membeli komputer karena sadar bahwa pekerjaan tidak dapat tuntas tanpa tersedianya komputer. Kainginan ini selanjutnya mendorong untuk survei harga-harga komputer untuk kemudian membeli yang sesuai dengan persedian uang.
Seorang tidak mungkin mempunyai rumah tanpa didahului oleh keinginan. Kita menyadari bahwa betapa tidak nyamanya hidup berpindah-pindah rumah dari kontrakan ke kontrakan lainnya. Dari sini keinginan memiliki rumah sendiri muncul. Selanjutnya kita memutuskan untuk mengambil rumah melalui KPR. atau merintis dari membeli tanah, lalu membangun pondasi dan sarung demi seruang membangun rumah hingga akhirnya layak untuk dihuni.
Kita mencoba melihat sedikit kebelakang. Pada tulisan sebelumnya "Mengapa Muslim Dituntut Kaya" dikatakan bahwa UMRnya orang Islam adalah seukuran dengan nishab zakat. Maka kalau nishab zakat uang senilai Rp. 8.160.000 (misalnya), berarti penghasilan seorang Muslim setiap bulannya mencapai senilai rupiah tersebut. Berarti pula, jika penghasilan di bawah itu, menunjukkan bahwa ia seorang Muslim yang belum kaya. Persoalan ini, meskipun tidak berlandaskan hadits, patut mendapatkan perhatian setiap individu Muslim.
Income Para Da'i
Apabila orang Islam pada umumnya dituntut untuk memperoleh penghasilan minimal Rp. 8.160.000 /bulan, maka seyogyanya seorang da'i dapat lebih dari itu. Mengapa? Da'i adalah orang yang sadar akan kewajiban hidup. Ia memikul banyak tanggung jawab. Ia harus berdakwah dari satu tempat ke tempat lainnya setiap saatnya. Setiap kegiatan membutuhkan biaya. Dan setiap da'i pastilah memiliki setumpuk kegiatan. Jadi, ia perlu banyak uang untuk setiap kegiatannya. Maka Penghasilan minimal para da'i adalah 8.160.000 ditambah biaya dakwah/bulan. Ini sebagai misal saja.
Para da'i secara alami berkelas-kelas. Semakin tinggi kelasnya, jam terbang dakwahnya semakin padat, semakin jauh pula jarak tempuhnya. Tentu semakin banyak pula biaya yang ditbutuhkannya. Tetapi, semakin banyak pula relasinya. Ini adalah modal untuk membangun ekonominya kelak setelah ia sadar betul arti penting dari uang.
Amat disayangkan jika para da'i hanya mengandalkan dakwahnya dari biaya orang lain. Sementara ia sendiri bermalas-malasan mencari ekonomi yang lebih. Sebagian waktunya banyak luang dan mujahadah pun pentingnya membangun ekonomi bagi aktifis dakwah, diharapkan mereka bisa semakin cerdas dalam mengambil jatah rejekinya yang telah dipersiapkan oleh Allah swt.
Dengan demikian, ia akan semakin kreatif mengisi waktu. Kesejahteraan keluarga meningkat. Produktifitas bertambah dan semakin sibuk dirinya dengan kegiatan-kegiatan yang semakin bermanfaat.

Post a Comment