Header Ads

Kepuasan Seorang Mukmin yang Bercita-cita Tinggi

Kepuasan Seorang Mukmin yang bercita-cita tinggi

Seorang mukmin yang memiliki keinginan dan cita-cita yang tinggi, tidak akan menghasilkan karya yang kecil. Ia tidak akan puas dengan perkara yang kecil. Ia suka menangani masalah-masalah besar dalam kehidupannya. Seorang penyair berkata, "Aku katakan kepada burung elang yang terbang tinggi di atas sana, 'Turunlah kemari, agar kau rasakan udara nan sejuk. 'Namun kepada ku ia berkata, 'Pada kepak sayap dan asaku, ada langit biru, dan hamparan bumi nan indah menghijauh di bawah sana."

Hamparan bumi nan indah menghijau ini tidak diketahui oleh penduduk bumi. Sebab, bagi mereka yang ada di bumi, yang tampak hanyalah hamparan tanah.
"Bila engkau berada pada sebuah perkara besar, jangan puas sebelum kau capai bintang di langit. Ketika engkau teguk cawan kematian karena perkara yang ringan, bagai cawan kematian yang engkau reguk karena masalah besar."

Al-Barudi berkata,
"Bangkitlah dan capai singgasana kemulian nan menjulang sebagai burung elang yang hanya memilih ketinggian angkasa. 
Tinggalkan perkara yang remeh agar ia menyingkir darimu.
Pada kedalaman laut, air tampak mengalir lemah.
Para lelaki pemberani akan mencapai angan dan cintanya, Namun, orang yang lemah jiwanya, hanya dapat duduk termangu."

Mereka yang memiliki tekad dan cita-cita yang tinggi mengetahui dengan baik, bahwa apabila ia tidak mampu memberi manfaat kepada orang-orang yang hidup di dunia ini, ia tidak berarti apa-apa bagi orang lain.
Itulah yang membuat dirinya tidak pernah rela berada di pinggiran sejarah kemanusian. Ia harus berada dalam salah satu inti kekuatan yang membawa pengaruh dan meninggalkan jejak mendalam bagi generasi sesudahnya.

Pemilik cita-cita yang tinggi adalah sekelompok manusia yang ketika orang lain menyaksikan kemustahilan pada satu masalah, maka tekad dan kemauannya semakin tajam dan menguat untuk menaklukkannya. Dengan taufik dan karunia Allah, ia pun akan menghasilkan apa yang telah dihasilkan oleh mereka yang memiliki kehendak yang kuat dan cita-cita yang tinggi. Dengan bertakwakal kepada Allah, ia juga senantiasa berusaha menaklukkan segala kesulitan dan tantangan yang menghadang langkah kakinya, tanpa harus tergantung kepada siapa pun.

Oleh karena itu, ada yang mengatakan, "Cita-cita yang tinggi bukan berarti keluar dari realitas. "Karena cita-cita yang kuat adalah ambisi yang selalu menerjang. Orang yang memiliki cita-cita yang tinggi akan berjalan menuju puncak keimanan, tidak pernah tinggal diam, dan tidak pernah berpasrah diri atas kenyataan yang ia hadapi.
"Jadilah seorang lelaki yang tapak kakinya berpijak di atas tanah, namun obsesi dan citanya menggantung tinggi di atas bintang kejora"
Bahkan, cintanya melampaui ketinggian bintang kejora, tak pernah puas sebelum ia meraih ketinggian surga.

Umar bin Abdul Azis berkata kepada Dakkin ketika ia datang padanya, "Wahai Dakkin, sesungguhnya, aku pemilik jiwa yang ambisius. Ketika kuraih kekuasaan yang jiwaku selama ini ambisius padanya, maka surga adalah ambisi jiwaku berikutnya."

Imam Ibnul Jauzi berkata. "Barang siapa yang memangaatkan pikirannya yang jernih, niscaya ia akan terarahkan untuk meraih tempat yang mulia, dan menghindarkannya dari berpuasa diri segala kekurangan yang hasilkan."

Abu Thayyib Al-Mutanabbi berkata, "Aku tak melihat celah pada diri seseorang, kecuali saat ia melakukan pekerjaan yang remeh, walau mampu melakukan pekerjaan yang besar. Tujuan akhir seorang yang berakal adalah menggapai puncak prestasi."

No comments

Powered by Blogger.