Konsep Diri Manusia Muslim Perjalanan Menemukan Jati Diri
Konsep Diri Manusia Muslim - Perjalanan Menemukan Jati Diri
Untuk dapat menyerap Islam dalam kepribadian kita, setiap Muslim harus:
- Memiliki Konsep diri yang jelas, yaitu memahami diri kita sebagai wadah kepribadian;
- Mengetahui model manusia Muslim Ideal, yaitu memahami Islam sebagai sesuatu yang mengisi wadah itu;
- Melakukan mengadaptasian, yaitu pengadaptasian antara isi dan wadahnya.
Kepribadian kita adalah wadah, sedangkan model manusia Muslim adalah sebagai sesuatu yang akan mengisi wadah itu. Cara kita yang akan melakukannya itulah yang disebut proses pangadaptasian.
Allah SWT. berfirman:
"Bertaqwalah kepada Allah menurut ukuran kemampuanmu." (Q.S. Al Taghabun, 64: 16). Hal ini berarti bahwa Allah mengetahui keterbatasan kita sebagai manusia dan dalam keterbatasan itulah ia ingin kita ber Islam.
"Bertaqwalah kepada Allah menurut ukuran kemampuanmu." (Q.S. Al Taghabun, 64: 16). Hal ini berarti bahwa Allah mengetahui keterbatasan kita sebagai manusia dan dalam keterbatasan itulah ia ingin kita ber Islam.
Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits;
"Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya."
Dengan mengetahui kadar kemampuan diri sendiri, kita bisa memosisikan diri secara tepat dalam berbagai situasi kehidupan.
Perintah-perintah dalam Islam itu begitu banyak: menuntut Ilmu, beribadah, belajar, berjihad, dan sebagainya. Tidak semua perintah dapat kita lakukan dengan sempurna. Itulah sebabnya di surga disediakan banyak pintu. Ada pintu shalat, zakat, haji, dan seterusnya. Batas kemampuan itulah yang mengharuskan kita untuk memili fokus tertentu dalam kehidupan kita.
Dalam suatu dialog dengan Abu Bakar, Rasulullah mengatakan bahwa sesungguhnya di surga itu ada banyak pintu dan setiap orang nanti ada yang masuk melalui pintu shalat, puasa, dan sebagainya. Kemudian Abu Bakar bertanya, "Adakah orang yang masuk melalui semua pintu itu?" Rasulullah manjawab, "Ada, dan aku berharap kamu adalah salah seorang di antaranya."
Jadi setiap manusia memiliki dua ciri keterbatasan:
- Sifat parsial, artinya kita tidak bisa memiliki/menguasai segala bidang;
- Dalam lingkaran yang sangat parsial itu kemampuan kita juga terbatas. Misalnya dalam bidang kedokteran, kita memiliki kelebihan dibandingkan lainnya, namu kita pun tetap saja terbatas dalam penguasaan bidang itu.
Dalam konteks keterbatasan itulah Allah mengatakan dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah Ayat 286: "Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya.". Hanya saja, untuk ibadah-ibadah yang sudah tetap waktu dan kapasitasnya, seperti shalat lima waktu, Allah telah mengukur kemampuan manusia dan pada dasarnya manusia memang sanggup melakukannya. Semua perintah yang sifatnya wajib khususnya fardhu 'ain dan waktunya sudah ditentukan dalam perhitungan Allah, pasti manusia bisa melakukannya. Oleh karena itu, perintah-perintah dibuat dalam urutan-urutannya.
Sabda Rasulullah diatas berguna bagi kita untuk:
- Menentukan fokus-fokus nilai Islam yang akan diperkuat;
- Memahami diri kita dan membantu dalam menentukan posisi kehidupan sosial.
Jadi, orang yang memiliki kualitas A jangan diberi tugas B. jika kita memiliki kualitas B, yang akan dipertanggung jawabkan ke pada Allah adalah apakah kita benar-benar mencapai kualitas B itu dengan baik? Allah tidak akan menuntut kita untuk mencapai kualitas A. Namun jika kita memiliki kualitas A, tetapi hasilnya B, maka selisih antara A dan B hasilnya dosa.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana mengetahuai bahwa ada selisih antara kualitas A dan B.?
Sekali lagi, hal itu bergantung pada pengetahuan tentang diri kita.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana mengetahuai bahwa ada selisih antara kualitas A dan B.?
Sekali lagi, hal itu bergantung pada pengetahuan tentang diri kita.
Mengapa kita perlu mengenal konsep diri? lihat kembali Al-Qur'an surat Al Taghabun ayat 16 di atas. Di sana, terbukti bahwa potensi manusia itu terbatas dan kita harus berislam dalam keterbatasan itu. Kemudian Rasulullah SAW. juga telah bersabda seperti yang di kutip diatas.
Artinya, Konsep diri akan membatu kita dalam memosikan diri dalam kehidupan sosial. Konsep diri juga membantu kita untuk bersifat tawadu. Tawadu berarti kemampuan memosisikan diri sewajarnya. Jadi, tawadu itu bukan berarti kita merasa tidak memiliki apa-apa.
Pendapat Ibnul Qayyim tentang pengenalan diri, dia mengatakan bahwa ada dua pengetahuan yang terpenting: 1. Ma'rifatullah, 2. Ma'rifatunnafs. Maksudnya ma'rufatullah (mengenal Allah) berarti mengetahui tujuan hidup, Ma'rifatunnafs (mengenal diri) berarti mengantarkan kita agar sampai pada tujuan tersebut.
Tiga langkah menyerap Islam dalam menjalani hidup:
- Memiliki konsep diri yang jelas, yaitu memahami diri kita sebagai wadah kepribadian;
- Mengetahuai model Manusia Muslim Ideal, memahami Islam sebagai sesuatu yang mengisi wadah itu;
- Melakukan pengadaptasian.
Sumber: Tulisan ini di kutip dari Buku Model Manusia Muslim Karya Anis Matta

Post a Comment