Muslim Prestatif
![]() |
| B.J Habibie - Tauladan Muslim Prestatif |
Muslim Prestatif
Prestasi tinggi adalah impian setiap muslim. Mereka yang berprestasi biasanya diikuti dengan mendapatkan kekayaan, kemashuran, dan decak kagum. Dan tidak dapat dipungkiri setiap orang yang berhasil dan berprestasi adalah orang yang telah menjalani banyak kesulitan, penghinaan, cacian bahkan kebangkrutan.
Pada dasarnya siapa pun bisa berprestasi sesuai bakat yang dimilikinya. Betapa tidak, Allah swt membekali setiap kita dengan sejumlah bakat yang seringkali kita sendiri belum mengetahuinya. Kita baru akan terhenyak manakala melihat orang lain berprestasi dan kita merasa iri terhadapanya. Lalu kita mulai mempelajari peluang-peluang yang bisa menhantarkan kita untuk berprestasi.
Sebagai Muslim, menjadi orang berprestasi selayaknya disadari sejak dini. Sebab sebuatan Muslim yang melekat pada diri kita, seyogyanya mendorong untuk meraih suatu prestasi gemilang.
Dari dalam jati diri kemusliman itulah lahir apa yang kita namakan Muslim Prestatif.
Rahasia Menjadi Muslim Prestatif
- Kemampuan mengoreksi sikap mental supaya bisa lebih ulet dalam menempa diri
- Lingkungan atau sistem yang harus kondusif dan mampu merangsang kita untuk berprestasi
- Sebagimana sejatinya menjadi ciri khas Muslim; silaturahim.
Startegi Mencapai Keunggulan
- Berfikir Jernih
Secara Islmiah, orang yang mempunya kemampuan kontrol emosi dan pengendalian pikiran yang baik akan dapat berbuat dan berpikir dengan jitu. Sebaliknya, setiap orang yang kontrol emosinya tidak baik, tidak akan bisa melakukan sesuatu dengan tepat. Selain itu, orang dalam kelemahan seperti ini, hampir dapat dipastikan tidak akan bisa menggali potensi terbesar yang ada pada dirinya. Tegasnya, hanya orang-orang yang mampunyai kemampuan mengendalikan diri dengan baiklah yang akan tampil unggul. - Berpikir Unggul
Seringkali kita dapati beberapa pengusaha yang sukses dan unggul di kantornya, namun ternyata malah gagal di tempat lain.
Berpikir unggul dapat diibaratkan seperti kapal selam yang tengah berada di lautan yang dalam. Dari sana sini air begitu dahsyat menekan. Belum lagi makhluk-makhluk laut yang buas datang menghadang. Kendatipun demikian, toh sang kapal selam tidak tenggelam, bahkan terus melaju dengan tenang. Mengapa demikian? Semua itu dikarenakan kapal selam mempunyai sistem yang sangat canggih sehinggah mampu memilah dan memilih mana yang boleh masuk dan mana yang tidak. - Menciptakan Karya Unggul
Kosep ketiga untuk menjadi Muslim unggul adalah mampu menciptakan karya yang unggul, yang membuat kita memiliki kemuliaan harga diri.
Syahdan, jauh sebelum menjadi Presiden RI, B.J. Habibie suatu ketika melakukan kunjungan kehormatan ke Kerajaan Arab Saudi. Oleh penguasa setempat tenyata ia diperlakukan tidak ubahnya bagai seorang raja. Ke mana-mana ia mendapat pengawalan ketat, sementara tidur nya pun di Istana kerajaan. Mengapa ia diperlakukan sedemikan terhormat? Jawabnya hanya satu, yakni karena Habibie adalah sosok tokoh Muslim yang memiliki potensi mampu mengharumkan nama Islam lewat prestasi dan karya unggul yang telah diciptakannya.
Maka demikian halnya kalau ingin menjadi manusia unggul. Kita harus mulai merintis diri untuk memiliki karya atau keunggulan pribadi yang membuat kita mempunyai harga dalam kehidupan ini. Ketahuilah bahwa Allah sangat menyukai hamba-hamba Nya yang mulai gemar berdakwah dengan karya nyata dari pada sekedar lisan belaka. - Menata Ulang karekater dan Cinta-cita
Setiap orang membutuhkan suatu pola atau suasana yang membuatnya bisa melihat aneka kekurangan yang melekat pada diri sendiri. Kita pun memerlukan kemampuan untuk mengubah diri. Meka tugas kita sekarang adalah menciptakan suatu pola atau suasana yang sperti itu.
Kalau ada yang tidak beres dan perlu segera ditata ulang itu, di antaranya adalah karakter kita. Diri sekian karakter buruk yang potensial ada dalam diri kita, salah satunya adalah berpikiran dan berwawasan sempit serta pendek.
Padahal, seorang pakar yang pernah meneliti ratusan orang yang telah berhasil meraih tampuk kesuksesan, menemukan dua ciri yang membuat mereka tangguh, melesat, berprestasi dan membawa manfaat besar bagi banyak orang. Pertama, memiliki tujuan dan visi yang jelas yang harus ditempuhnya. Kedua, sanggup berkorban untuk meraih apa yang mereka jadikan visi dalam hidupnya.
Sebagian pakar menyimpulkan secara pesimistis bahwa umat Islam saat ini pikirannya rata-rata pendek-pendek dan terlalu sederhana. Akibatnya, tidak uasah kaget kalau kita menjadi rajin tertipu. Hanya dengan iming-iming sesuatu yang tampak menggurkan saja langsung terjebak. Persis seperti seekor tikus yang masuk ke sebuah perangkap yang di dalamnya terdapat pancingan berupa makanan. Cara berpikir kita ternya baru sampai melihat makanannya, bukan ke jebakannya.
Artinya pikiran kita belum taktis strategis jauh ke depan. Bahkan tidak jarang seseorang yang saking terlalu sederhana cara berpikirnya, ketika ditanya mengapa ia mau beriktiar, dijawabnya; ya, untuk mencari makan anak istri, Padahal menurut Ali bin Abi Thalib, orang yang berpikirnya sebatas isi perut, maka derajatnya pun tidak jauh berbeda dengan yang keluar dari dalam perutnya.
Salah satu "prosedur" ringkas yang membuat kita bisa berke dudukan di sisi Allah adalah rindukanlah untuk menjadi orang yang paling banyak manfaatnya bagi sesama manusia. Ini lebih jelas bentuknya, sehingga dapat diukur pula pencapaiannya.
Wujud konkritnya atara lain ditunjukkan dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu di bangku sekolah, sehingga selalu mendapatkan prestasi tertinggu. Seusai menjalani masa pendidikan, berusaha berprestasi di bidang yang digeluti, sehigga mendapat tempat terhirmat di tengah-tengah masyarakat.
Tampaknya mulai sekarang kita memang haru mulai menghkaji dan menata ulang cita-cita yang pernah diguratkan di dalam lubuk hati. Hendaknya kita segera memahatkan tekad untuk mulai mengingkatkan kualitas cinta-cita, sehingga tidak sekedar berkubang untuk kesuksesan meraih segala yang berbau aseksoris duniawi belaka.

Post a Comment