Meneladani Orang-orang yang Memiliki Tekad Membaja
Muslim Quote - Orang-orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi adalah mereka yang tidak pernah merasa puas jika keinginannya hanyalh keinginan hewani semata; melakukan sesuatu hanya untuk memuaskan dahaga perut dan seksnya saja. Tapi, ia akan selalu bersungguh-sungguh berada dalam lingkaran kemuliaan syariat Allah, sehigga ia menjadi bagian dari wali Allah di dunia, khalifah-nya di muka bumi ini, dan kelak mendapatkan keridhaan-Nya di akhirat kelak.
Orang-orang yang mempunyai cita-cita besar akan menganggap dunia ini sebagi tempat persinggahan sementara, sehingga ia dapat keluar dari kekuasaan perut dan hawa nafsunya. Ia tak pernah merasa malu atas apa yang diperoleh dan tidak terus menumpuk atau memperbanyak apa yang telah ia dapatkan.
Ketika para salafushalih memahami perintah-perintah Allah swt, mentadabburi hakikat dunia, dan perjalanan hidup menuju akhirat, mereka pun menghindarkan diri dari kemegahan dunia dan memalingkan hati mereka dari perhiasannya, yang dapat merusak hati mereka. Itulah yang membuat cita-cita mereka yang paling Agung.
"Sesungguhnya, Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas.
Meninggalkan dunia dan takut pada fitnahnya.Ketika mereka melihat dunia ini, mereka akhirnya mengetahui.Bahwa ia bukanlah negeri kehidupan nan abadi.Mereka menjadikannya sebagai samudra nan luas.Amal saleh mereka sebagai bahtera yang mengarunginya."
Mereka adalah hamba-hamba Allah yang bersungguh-sungguh untuk melenyapkan segala sesuatu yang merintangi perjalanan mereka menuju tujuan hakiki yang akan mereka raih.
Syekh Abdul Qadir Jailani berkata kepada putranya, "Wahai anakku, hendaknya cita-citamu jangan sekedar apa yang engkau makan, atau apa yang engkau minum, yang engkau pakai, yang engkau nikahi, dna apa yang engkau tinggalkan. Sebab, semua itu adalah kehendak hawa nafsu. Di manakah cita-cita hatimu dari semua itu?
Cita-citamu terletak pada apa yang menjadi kebutuhanmu. Jadikanlah cita-citamu keridhaan Tuhanmu dan segala apa yang ada pada-Nya."
Cita-citamu terletak pada apa yang menjadi kebutuhanmu. Jadikanlah cita-citamu keridhaan Tuhanmu dan segala apa yang ada pada-Nya."
Kisah Para Ulama Salaf dalam Meraih Cinta-cita
Sejaha kebudayaan Islam telah menorehkan tinta emas tentang kisah para ulama salaf yang sangat menarik, melalui cita-cita mereka yang tinggi, pandangan mereka yang sangat mendalam terhadap sesuatu, berpalingnya mereka dari berbagai masalah yang remeh dan tidak berguna, serta keteguhan loyalitas mereka terhadap agama yang hanif; agam yang membawa kemulian dan keagungan.
Sebuah kisah tentah hal ini diceritakan oleh Ibnu Syibah. Dia berkata, "Saat itu, umar Ibnul Khaththab berangkat menuju Syam bersama dengan Abu Ubaidah Bin Jarrah. Namun, mereka terhadang oleh arus sungai. Umar kemudian turun dari untanya, melepaskan alas kaki, dan menggatungkannya di bahu. Kemudian dia memegangn tali kekang untanya dan menyebrangi sugai itu.
Meyaksikan itu Abu Ubaidah berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, engkau melakukan hal ini? Meletakkan alas kaki, lalu meletakkannya di atas bahumu. Setelah itu, engkau berjalan dengan untamu menyebrangi parit itu? Aku tidak mengira bahwa penduduk negeri ini akan memuliakanmu dengan apa yang engkau lakukan.'
Umar kemudian berkata,"Wahai Abu Ubaidah, andai saja bukan engkau yang mengucapkan itu, niscaya aku akan menghukumnya sebagai pelajaran bagi umat Muhammad. Sesungguhnya, kita dahulu adalah kaum yang hina, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Jika saja kita mencari kemuliaan di luar kemuliaan yang Allah berikan, niscaya Ia akan menghinakan kita."
Kisah Syekh Islam, Imam An-Nawawi;
Ketika seseorang memandang Imam An-Nawawi, ia akan menduga Imam-An-nawawi adalah seorang fakir miskin yang berasal dari sebuah desa, sehingga ia pun akan diacuhkan. Namun, ketika Imam An-Nawawi mulai bercerita dan menyampaikan pelajarannya, orang-orang pun akan memandang takjib kepadanya, seperti menyaksikan sebuah berlian yang tersingkap di hadapan mereka. Kecerdasannya tiada tanding. Demikian pula sifat zuhud dan takwa yang melekat pada dirinya.
Ketika seseorang memandang Imam An-Nawawi, ia akan menduga Imam-An-nawawi adalah seorang fakir miskin yang berasal dari sebuah desa, sehingga ia pun akan diacuhkan. Namun, ketika Imam An-Nawawi mulai bercerita dan menyampaikan pelajarannya, orang-orang pun akan memandang takjib kepadanya, seperti menyaksikan sebuah berlian yang tersingkap di hadapan mereka. Kecerdasannya tiada tanding. Demikian pula sifat zuhud dan takwa yang melekat pada dirinya.
Tentu saja, itu bukanlah suatu keanehan kerena tanah yang tampak kotor merupakan tempat tersimpannya bongkahan emas. Namun, setiap orang, di setiap zaman dan tempat, akan selalau tertipu oleh keindahan penampilan. Ketika mereka menyaksikan seseorang yang berpenampilan menarik, mereka akan segera bertepuk tangan seraya memuji dan mengangungkannya, walaupun mereka belum tahu apa yang ada di balik penampilan orang itu. Tidak tertutup kemungkinan, di balik penampilannya yang menarik, perasaan orang itu kering, pikirannya kalut, dan hatinya bingung.

Post a Comment