Header Ads

Hidup Itu Indah

Hidup itu indah

Hidup itu indah Yang membuatnya tak lagi indah adalah hewan bernama manusia. Manusia tidak hidup sebagaimana kehidupan jenis hewan lain, sesuai garis fitrah, tabiar, dan wahyu Allah. Ia hidup berdasarkan hukum yang dibuatnya sendiri, diadopsi dari keangkuhan, kesombongan, dan hawa nafsunya. Maka, tak heran bilamana jadi bumerang bagi diri sendiri dan memerangi orang lain.

Bisa jadi binatang buas yang satu saling membunuh dengan binatang buas yang lain, burung yang satu dengan burung yang lain, demi memperebutkan makanan atau si betina. Tetapi, pertarungan tersebut hanya berlangsung sesaat, tanpa perencanaan, dan tidak pula disertai dendam. Adapun manusia telah menjadi pengeruh kedamaian dan membuat kotor kehidupan. Dengan ingatanya ia menghidupkan masa lalu sehingga memelihara dendam kesumat, dan dengan ketajaman akalnya ia menciptakan masa depan untuk dirinya sendiri sehingga membawa ketakutan. Maka, antara masa lalu dan masa depannya diwarnai peperangan tiada henti, bisa karena balas dendam atas peristiwa kemarin yang dikenangnya, mencari kekuatan masa kini yang dihadapinya dan atau menjauhkan ketakutan hari esok yang membayanginya.

Hidup itu memang indah, tetapi keindahannya tidak melulu bisa dinikmati sekelompok kaum semata. Tidak juga hanya bisa disesap kasta tertentu. Keindahan itu adalah kebeningan estetika Tuhan yang dipancarkan Allah di langgit dan bumi. Dialah yang menyiptakan indera agar bisa terbuat menikmatinya. Maka, barangsiapa memiliki pendengaran, penglihatan, dan hati akan mendapatkan keindahan itu dalam setiap pandangan dan merasakannya dalam setiap keadaan. Orang-orang yang melewati keindahan itu tetapi menafikannya berarti telah mengalami kerusakan tabiat kehidupan pada dirinya. Dan, kontrol indera pada dirinya telah beku. Alhasil, antara dirinya dengan wujud yang hakiki dan perasaan yang sebenarnya telah putus.

Sesungguhnya keindahan adalah wasilah alam untuk melestarikan kehidupan dan keberlangsungan manusia dengan yang tersentak dipersatukan, dan yang terpisah dipertemukan. Selanjutnya, keindahan itu menjadi kebahagiaan jiwa, cahaya hati, dan kedamaian ruh. Barang siapa dipenuhi keindahan semacam itu di dunia ini, baik dalam rupa inderawi maupun maknawi, maka ia akan senantiasa muda di setiap waktu dan berseri di setiap ruang.

Hidup itu indah, dan tanda-tanda bisa merasakan keindahannya adalah keceriaan dan keriangan. Jika engkau menyaksikan kemurungan dan kesedihan, engkau akan menyaksikan perasaan yang disertai kesuraman, atau dibuat mengarat oleh keburukan, atau dibuat rusak oleh keberhamburan sehingga kesadaran jadi mati, keindahan jadi memantul, dan kebaikan jadi terbalik. Keindahan semesta seharusnya disambut oleh keindahan jiwa. Dan, kebeningan hidup semestinya diimbangi oleh kebeningan hati.

No comments

Powered by Blogger.