Pelajaran dari Kehidupan
Hidup mengajariku dua langkah dalam menyiasati manusia. Satul langkah kuikuti dalam hal yang bisa kudapatkan dari orang lain, dan satunya lagi kuikuti dalam hal apa yang bisa didapat orang lain dariku. Aku teramat senang menyerahkkan perasaanku pada sesuatu yang tidak bermanfaat, dan aku pun mulai tahu bagaimana berhenti menafkahkan kekayaan hidup.
Adapun langkahku dalam hal yang bisa kudapatkan dan orang lain adalah menerima watak dan perilaku mereka sebagai satu kesatuan. Aku tidak membeda-bedakan mereka berdasarkan perbedaan individual.
Semula ciptaan yang satu baguiku menyayatkan rasa sakit dan putus pengharapan puluhan bahkan ratusan kali. Dan setiap kali aku merasa benturan yang datang tiba-tiba sepertinya aku menyibak sesuatu yang baru dan belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Kemudian bersama waktu aku membiasakan diri menjadikan bagi semua orang satu perhitungan dalam perimbangan kasab dan kerugian. Kerugian pun setidaknya banyak menurun. Inilah sebenarnya pencaharian yang dijadikan.
Aku mencoba mengumpulkan perilaku pada jenis-jenisnya dan masing-masing kuberi judul; pada manusia ada pengaruh, pada manusia ada kekurangan, pada manusia ada kebodohan, pada manusia ada pertentangan dan hal-hal aneh, dan sebagainya seperti yang kita warisi secara turun temurun. Di situ tidak ada yang baru, dan pasti adanya pada manusia.
Jika aku mendapatkan sesuatu yang mengeruhkan dari orang lain, aku membawanya kembali pada judulnya. Ternyata kutemukan ia terdaftar di situ. Yang tidak pernah kutunggu tidak membuatku kaget. Pada manusiaa ada pengaruh, pada manusia ada kekurangan. Memang, betul, lalu, ada apa dengan semua itu.! Bukankah semua ini telah engkau ketahui sebelumnya.? Ya, aku sudah mengetahuinya berkali-kali. Lantas mengapa harus merasa aneh? Mengapa harus mengeluh dan mengaduh?
Lama kuamati diriku. Kuletakkan diriku dalam daftar. Aku pun tahu, ternyata dalam diriku ada juga watak dan perilaku seperti yang dimiliki orang lain. Maka, setiap kali mendapatkan perlakuan semacam itu dari orang lain selalu kukatakan, "Engkau juga begitu." Dengan demikian, tidak perlu diperhitungkan dan tidak pula harus mencaci orang lain.
Nah, adapun langkahku dalam hal yang bisa didapat orang lain dariku adalah menanyakan dirikku sendiri setiap kali merasa benci dan mengkritik mereka, "Apakah hal ini berarti bagiku?"
Dalam arti kata, "Apakah kahilangan ridha mereka membuatku utung? Dan apakah kehilangan itu membuatku rugi?
Jika mengandung untung dan rugi, berarti hal itu bermanfaat bagiku. Aku harus mengatasinya sebisa mungkin Tetapi jika tidak, aku tidak perlu capai dan berkurban.
Aku selalu mengandalkan standar praktis, karena lari selalu kuletakkan lima atau enam sosok orang yang kukenal. Kutahu mereka tergolong ashhabul khuthwah (teladan) bagi orang lain. Pun bahwa orang-orang tidak membenci dan mengkritisi mereka. Dan aku bertanya, "Apakah engkau suka menjadi seperti mereka? Suka mendapatkan keridhaan sebagaimana yang mereka raih?"
Jawaban atas pertayaan ini selalu memberi manfaat bagiku. Sebab, demikian itu menentukan tindakan yang harus kuambil. Atau, membebaskanku dari setiap pekerjaan. Pertanyaan itu pulalah yang menjelaskan kepadaku dalam banyak kesempatan bahwa keridhaan dan pujian adalah mata uang palsu, atau mata uang yang sebenar-benarnya.

Post a Comment