Saat Aku Jatuh Cinta
Penulis: Ummu Kalsum
Duh, jantung ini berdegup kencang saat ia tampak di depan mata. Ia berjalan perlahan, namun jiwa serasa berlari kencang. Ia tersenyum lembut, sehingga pesonanya mampu mengalihkan dunia. Ia menyapa, lalu hati serasa melayang-layang. Saat mengenalnya, yang aku tahu hanyalah bahagia, kelabakan, jantungan, geregetan dan senyum-senyum sendiri. Apa ini namanya cinta? Lebih tepatnya jatuh cinta?Ah, yang aku tahu ia mempesona. Ia mampu menarik perhatian ini agar memerhatikannya. Sejak mengenalnya, bayangnya selalu menari-nari di pikiran. Tapi... apakah perasaan ini benar???
Cinta begitu sulit dimengerti. Ia datang tanpa diundang, tak tahu kemana arahnya dan pada siapa akan tertuju. Tak ayal jika virus merah jambu telah menyerang seorang anak cucu Adam, maka ia pun akan kebingungan, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Meskipun banyak yang segera mengekspresikan cinta, namun ada juga yang memilih diam, memendam rasa sampai waktu yang akan menjawab semua penantian.
Cinta, kehadirannya mampu melumpuhkan akal, merubah perasaan serta membingungkan perbuatan. Yang baik akan berubah menjadi lebih baik, yang buruk rela berubah jadi baik, yang pintar tiba-tiba tampak bodoh, yang kuat mendadak lemah setelah terserang panah asmara itu.
Mencintai itu fitrah. Dan menikah itu ibadah. Pertemukanlah yang fitrah dengan ibadah, kemudian ikat ia, insya Allah akan menjadi berkah.
Setia Furqan Kholid selalu berkata “Jangan jatuh cinta, tapi bangun cinta” atau “Asyiknya bangun cinta”. Yah, saya setuju dengan beliau. Sebab seseorang yang sedang jatuh cinta, bisa jadi ia benar-benar jatuh, dibutakan oleh nalar atau nafsu, hingga akhirnya terasa sakit dan sulit untuk bangkit. Sementara orang yang sedang membangun cinta, akan terus melejit, mengabadikan cintanya hingga ke langit. Tak ada istilah sakit, namun yang ada hanyalah saling memotivasi dan menginspirasi agar terus bangkit.
Allah tak pernah melarang kita untuk mencintai. Namun yang salah adalah jika kita meluapkan rasa cinta itu bukan pada tempatnya. Belum ada ikatan halal, namun sudah menghalalkan sendiri. Allah tidak akan pernah melarang kita untuk mencintai, justru IA akan merestui bila kita senantiasa berjalan pada alur-Nya.
Sebagai hamba yang telah diberi perasaan, sepatutnya kita menjaga baik amanah itu. Sebagai anak Adam yang punya perasaan, sepatutnya kita melabuhkan hati ini pada seseorang yang tepat. Dan sebagai pengikut Rasulullah, sudah seharusnya kita mengolah rasa berdasarkan tuntunan dan petunjuk-Nya. Yah, mencintailah pada orang yang tepat. Yakni kekasih halalmu kelak.
Cinta memang mampu membutakan bagi ia yang benar-benar kehilangan kontrol diri. Bahkan tak mengingat siapa dia dan fitrahnya.
Pernah kujumpai seorang wanita yang begitu jatuh cinta, nyaris sampai tergila-gila pada seorang lelaki.Wanita ini adalah seorang pendatang baru di sebuah kota besar. Ia menghijrahkan dirinya dan berpisah dari orang tua agar hidup mandiri. Tak ada satu pun yang ia kenal di kota tersebut.
Selang beberapa bulan kemudian, berawal dari mencari kegiatan dan lingkungan yang positif di kota baru itu, akhirnya wanita ini bertemu dengan salah satu pria di sebuah masjid tempat diadakannya pengajian kota secara rutin. Karena pria itu shaleh, rajin membantu dan melindungi, sang wanita pun jatuh hati. Tiada hari tanpa memikirkan si pria. Menghubungi, ingin berkomunikasi dan ingin selalu dekat dengannya.
Duh,, niat yang awalnya ingin mandiri dan membanggakan orang tua, tiba-tiba diuji dengan cobaan cinta. Yah, siapapun akan mengalaminya. Namun semua orang akan menghadapinya dengan cara yang berbeda. Ada yang menanggapinya dengan santai, cuek, berhasil memendam rasa, mengungkapkan langsung, atau terjatuh pada cinta itu dan kesulitan untuk bangkit kembali, akibat cintanya bertepuk sebelah tangan.
Gimana sih rasanya jatuh cinta? saya yakin semua pernah merasakannya, walaupun hanya sekadar kagum. Perasaan akan berbunga-bunga seperti di musim semi, mendadak sejuk saat bertemu dia walaupun panas tengah terik, dan semua mendadak indah serta bahagia meskipun sebelumnya sedang sedih atau pun galau tingkat Internasional.
Jatuh cinta, lebih diidentikkan kepada pasangan. Ada yang kagum pada seorang akhwat atau ikhwan yang berpenampilan keren, tampan, cerdas, tajir, alim, bahkan ada pula yang jatuh cinta pada seseorang yang meneduhkan jika dipandang, menentramkan dan menyejukkan. Apapun alasannya, masing-masing kita semua memiliki kriteria yang berbeda dalam hal tersebut.
Lantas, apakah salah jika kita merasakannya? Tentu tidak! sebab Allah telah menciptakan hati agar kita bisa merasa, termasuk merasakan cinta. Yang salah adalah jika kita melanggar perintah-Nya dalam mengolah rasa.
Seperti apakah itu? contohnyaaa.... kamu jatuh cinta pada seseorang yang aliiim banget. Kamu belum siap untuk menikah tapi udah sok-sok’an siap di hadapannya. Kamu pun tebar pesona, tebar janji palsu, sampai tebar kata cinta. Ckckck.... akhirnya imannya pun terganggu karena sikap, tatapan, atau kata-katamu. Padahal sebelumnya ia sedang menikmati indahnya beribadah bersama Tuhan. Apakah itu baik, kawan?
Contoh lain, ia sedang fokus untuk kuliah dan mengejar impiannya. Tetapi karena rasa suka yang hanya sesaat itu, kamu pun tampil sebagai perebut perhatian, perebut cinta, bahkan perampas impian. Kasihan kan, si dia. Bisa jadi kehadiranmu bukan sebagai rahmat baginya namun sebagai pembawa petaka. Karena kau hancurkan hatinya, kau buyarkan kefokusannya, kemudian kau robohkan impiannya.
Maka dari itu, sebelum jauh melangkah, sebelum mengambil kesimpulan untuk jatuh cinta, sebelum yakin untuk mengungkapkan cinta, alangkah bijaknya kalau kita berpikir sematang-matangnya untuk bertingkah.
Jika kita benar-benar cinta dan siap mencinta, maka tembak ia segera! Jangan ragu untuk mengatakan ‘I Love U’ di depan orang tuanya. Dan ingat, biar proses nembaknya lebih afdhol, silahkan bawa rombongan keluarga.
Tetapi, bila kita masih ragu dan belum siap untuk menghalalkan perasaan, lebih baik rasa itu tersimpan rapi dan apik. Biarkan sang waktu yang menjawab. Apakah rasa itu akan menguat atau justru melemah dari hari ke hari. Memendam lebih indah ketimbang mengungkapkan namun berujung maksiat.
Mungkin, ada akhwat yang bertanya, “Kalo saya kak, harusnya gimana? Apa saya harus nembak juga?”
Nembak duluan, sebenarnya nggak masalah. Bukankah Khadijah ra. telah mencontohkannya? Saking kagum dan nggak pengennya didahului oleh yang lain, maka ia pun langsung mengungkapkan perasaannya pada Rasulullah saw. dan beruntung cintanya diterima. Namun, bagi seorang wanita yang hendak mengungkapkan perasaan, butuh mental yang kuat atau berani.
Jangan bilang kalau wanita yang mengungkapkan perasaannya adalah murahan? Astaghfirullah.... tidakkah kau lihat bunda Khadijah ra.?
Kalau memang ternyata belum sanggup seperti Khadijah ra., silahkan meniru pada Fatimah ra. dalam hal memendam rasa. Tak ia tampakkan sekali pun bentuk perasaannya di depan Ali ra., hingga akhirnya perasaan itu terungkap ketika mereka telah menikah.
Masih terlalu mudah kita menampakkan perasaan, masih terlalu mudah mengumbar kata kagum, dan terlalu mudah kita memakai media komunikasi untuk menjalankan misi kita yang belum tentu baik.
Kawan, bertaubat adalah salah satu hal yang bisa menggugurkan dosa kita yang terlalu memuja perasaan. Terlalu menjunjung tinggi ‘jatuh cinta’ yang harus diumbar kesana kemari. Niatkan, fokuskan, dan tujukan perasaan itu untuk kekasih halalmu kelak. Ungkapkan kata cinta itu hanya untuk kekasih sejatimu kelak, berikan pengorbanan yang sesungguhnya hanya untuk dia kelak. Agar ridho Allah senantiasa bersama langkahmu, keberkahan senantiasa hinggap di hatimu.

Post a Comment