Zaman Keemasan Intelektual
Zaman Keemasan Intelektual
Resume buku: LOST ISLAMIC HISTORY
Abad ke sembilan hingga abad ketiga belas menandari era perkembangan ilmiah, agama, filsafat dan budaya di Dunia Islam dengan skala serta kedalaman yang belum pernah disaksikan dalam sejarah dunia baik sebelum maupun sesudahnya.
Bani Abbasiyah pada awal tahun 800-an membentang dari atlantik ke indus dengan ibu kotanya Baghdad. Baghdad merupakan merupakan kota dunia dengan lebih dari satu juta jiwa penduduknya dan dengan beragam budaya, Yunani, Koptik, Persia dan India.
Di masa ini didirikan HOUSE OF WISDOM, BATIUL HIKMAH. Merupakan universitas, perpustakaan, lembaga terjemahan, laboratorium penelitian, dalam satu kampus. Para cendikiwan paling terkenal di seluruh dunia, Muslim atau Non-Muslim berdatangan ke Bahdad untuk ambil bagian dalam proyek ini.
Apa kehebatan Zaman keemasan Muslim tersebut?
Islam merobohkan perbedaan kelompok. Sebelum Islam akan sulit orang dari Mesir mengajar di Persia, karena perbedaan bahasa. Setelah Islam semua itu tidak terjadi lagi.
Bahasa Arab menjadi pemersatu orang-orang yang berbeda latar belakang. Jika ia seorang Muslim, apakah ia berasal dari Persia atau barbar, setidaknya bisa berbahasa arab untuk memahami Al-Quran dan berdoa.
Islam memerintahkan akuisisi Pengetahuan dan menjadikan penelitian sebagai bagian dari ibadah. Jalan ke surga lebih mudah ditempuh oleh mereka yang menempuh jalan untuk mencari ilmu.
MATEMATIKA
Di zaman Islam, matematika dipandang ilmu suci. Karena dengan ilmu matematika diharapkan dapat menemukan aturan alami dunia. Sehingga muncul rasa kagum dan cinta kepada Allah; belajar matematika sama dengan suatu bentuk perjalanan religious.
ASTRONOMI
Astronomi, di dalam al-Quran dikatakan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan yang tapat. Bintang dapat dijadikan petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut. Luasnya kekuasaan Islam, dengan sendirinya membutuhkan ilmu astronomi. Inilah dua hal keimanan yang mendorong Muslim mempelajari Astronomi.
FILSAFAT
Al-Ghozali berpendapat bahwa keimanan seseorang tidak seharus sepenuhnya didasarkan kepada penalaran filosofis. Ia menentang penggunaan filsafat jika seseorang tidak memiliki dasar yang kuat dalam keyakinan Islam tradisional. Jalan yang benar kepada Allah adalah melalui ketaatan mutlak kepadaNya dan pemurnian jiwa dari hasrat duniawi.

Post a Comment