Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Sosial Masyarakat
Sebagai makhluk sosial, Seorang Muslim tidak dapat hidup sendiri. Ia pastilah hidup di tengah-tengah masyarakat. Untuk dapat hidup tenteram aman bersama mereka, dibutuhkan, sikap pengertian antara sesama warga dan sikap konsisten terhadap hukum yang berlaku. Tentu tidak etis jika seorang Muslim memberi contoh melanggar hukum kepada masyarakat. Oleh karena itu, ia harus memiliki sifat-sifat terpuji.
Jujur dan tidak suka dusta
Seorang yang jujur akan mendapat simpati dan kepercayaan semua orang. Seorang pedagang yang jujur akan memperoleh kepercayaan pembeli hingga ia pun bisa sukses dalam berbisnis. Seorang Muslim yang jujur, juga akan memperoleh kepercayaan yang tinggi dari masyarakat. Ia akan menjadi rujukan dan sumber problem solver.
Sebaliknya, orang yang suka dusta akan dibenci masyarakat. Ia akan mengalami kesulitan dalam bergaul. Orang-orang akan selalu mencurigainya dan mendustakan pula pembicaraan-nya. Dusta amat dibenci dalam Islam dan Nabi menjadikannya salah satu sifat orang munafik. Beliau bersabda, "Ciri orang munafik ada tiga, jika ia berbicara, dusta; jika ia berjanji, menyelisihi; dan jika dipercaya, khianat."
Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan. Sedangkan kebaikan menuntun ke surga. Seorang yang membiasakan jujur dan senantiasa berlaku jujur, ia pasti ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang berdusta dan ia senantiasa berdusta, pasti dicatat di sisi Allah sebagai pendusta" (Muttafaq'alaih).
Tidak suka mengorek aib orang lain
Orang akan merasa terancam kehormatannya kalau punya tetangga yang suka mengorek aib-Nya dan lalu menceritakannya kepada orang lain. Kebiasaan mengorek aib ini lama-lama akan membuat dirinya sendiri terasing dari masyarakat karena orang lain akan membenci sifatnya.
Islam melarang mencari-cari kekurangan orang lain dan mensejajarkan-Nya dengan larangan dari sifat-sifat tercela lainnya.
Dalam sebuah hadis yang terkenal Nabi saw bersabda, "Janganlah kamu saling menghasut, mengecoh, membenci, jauh menjauhi. Dan jangan pula sebagian dari kamu menjual di atas penjualan orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh saling menganiaya, membiarkan, mendustakan dan saling menghina". (HR. Muslim).
Selalu memenuhi janji
Dalam sosial masyarakat tentulah banyak kesepakatan-kesepakatan yang dibuat oleh mereka sendiri untuk kepentingan bersama. Dan setiap warganya harus menaati kesepakatan itu. Ini adalah perjanjian internal anggota suatu masyarakat. Kalau ada masalah di lapangan, tentu harus ada keterangan yang jelas mengapa seseorang menyelisihi kesepakatan bersama itu. Tetapi kalau tidak, berarti ia mengkhianati perjanjian. Jelas orang semacam ini akan membuat kekacauan di masyarakat. Ia akan menjadi parasit yang bisa merembet membahayakan bersama.
Dalam Islam memenuhi janji merupakan suatu yang diserukan. Dalam Al-qur'an surat Al-Isra[7]: 34 Allah SAW berfirman; "Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti dimintai tanggung jawabnya".
Sabar dan Pemaaf
Dalam kehidupan sosial masyarakat, tentulah ada persaingan hidup. Dalam persaingan tersebut, terkadang ada saja kecurangan baik disengaja atau pun tidak. Salah satu kunci untuk tetap terjaganya keharmonisan dalam sosial bermasyarakat ialah harus ada saling merelakan. Sifat ini akan muncul ketika sifat sabar telah tertanam dalam lubuk hati. Jadi sabar amat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Berkaitan dengan sabar ini. Allah swt berfirman dalam Al-qur'an: "Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka saling mewasiati untuk menetapi kebenaran dan saling mewasiati untuk menetapi kesabara" (QS. Al-'Asgr[103]: 2-3).
Sabar hendaknya bergandeng dengan sifat pemaaf. Supaya tidak merasa sakit hati berkepanjangan, dan tidak menjadi pendendam, maka sifat pemaaf harus dimiliki oleh sitiap Muslim. Nabi sendiri adalah orang yang sangat pemaaf.
Allah swt juga memerintahkan hambanya untuk menjadi pemaaf. Pendek kata, pemaaf menjadi salah satu ciri sifat Seorang Muslim sejati. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran[3]: 134, "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesahan orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan".
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari-Muslim, Nabiw saw menjelaskan tentang siap sebenarnya orang kuat itu. Sabdanya, "Bukanlah orang yang kuat itu, yang menang dalam bekelahi, Tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah".
Tawadlu' dan tidak Sombong
Nabi SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah menwahyukan kepadaku untuk bertawadlu', sehingga tidak berbangga atas orang lain dan seseorang tidak berbuat malampai batas terhadap orang lain pula". (HR. Muslim).
Allah SAW berfirman, "Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qashash[28]: 84).
Tawadhu atau rendah hati adalah sikap paling mendasar untuk dapat hidup sukses. Orang yang rendah hati akan banyak waktu untuk belajar kepada orang lain. Sementara orang yang sombong akan kehilangan banyak waktu. Ia akan selalu lebih atas orang lain hingga ia pun malas untuk belajar. Padahal justru karena merasa serba lebih itulah ia menjadi serba kurang.
Setiap kali Seorang Muslim bertawadlu', Allah swt akan mengangkatnya ke derajat yang lebih tinggi dan diberikan kehormatan dan kemulian.
Menegakkan Amar Makruf dan Nahyi Mungkar
Masyarakat akan senantiasa mendapat rahmat dan hidayah Allah swt jika mereka senantiasa dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah, "Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya akan kami bukakan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi."
Sebab itu maka dua pilar utama pengundang barakah ini haru dijaga agar masyarakat menetapinya. Dan penjagaan yang jitu adalah dengan menegakkan amar makrf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat. Ketiadaan orang yang melakukan hal ini dalam suatu masyarakat berarti mereka semua berada di ambang kehancuran masal.
Pentingnya amar makruf nahyi munkar ditegaskan oleh Nabi saw dengan sabdanya, "Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman," (HR. Muslim)
Dalam pandangan Al-Qur'an, orang-orang yang sukses (al-muflihun) adalah mereka yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Jadi bila Seorang Muslim ingin memperoleh kejayaan hidup di dunia maupun di akhirat, ia harus melakukan tuga ini.
Tidak Menipu dan Berkhianat
Bila dalam sebuah komunitas masyarakat terdapat penipu, apalagi yang ditipu tetangga sendiri, maka persengketaan tidak bisa dihindarkan. Terlebih lagi yang dikhianati itu, misalnya orang banyak dalam suatu RT, tentu akibat yang diterima si penipu dan pengkhianat akan dahsyat.
Menipu berarti ia mengecoh orang lain. Dan berkhianat berarti ia tidak amanah terhadap tugas dan kewajiban yang dipikulnya. Islam menjadikan keduanya sebagai dua sifat yang amat tercela. Nabi sendiri berikrar bahwa siapa yang menipu bukan termasuk gologannya, lalu menjadikan si penghianat sebagai orang munafik.
Lembut dan Penyayang
Lemah lembut dan penyayang adalah sifat Allah swt. Jika seorang hamba dikaruniai sifat ini, berarti ia berpeluang mendapatkan kebaikan yang banyak. Allah Maha lembut (Lathiif) dan Maha Penyayang (Rahim) kepada semua makhluk-Nya.
Dua sifat utama ini amat diperlukan dalam bergaul dalam sosial masyarakat. Bayangkan, jika dalam suatu komunitas masyarakat, orang-orangnya keras-keras perangainya, apa yang dirasakan oleh setiap warganya. Tentu ketegangan tak pernah lepas dari diri mereka. Oleh karena itu, semua warga masyarakat harus memiliki sifat lembut dan penyayang.
Memiliki Sifat Malu
Mengapa sifat malu diperlukan dalam hidup bermasyarakat?, Karena malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan. Nabi saw adalah orang yang sangat pemalu. Beliau lebih pemalu dibanding gadis yang berada dalam pingitan. Bahkan dalam salah satu sabdanya beliau menegaskan;
"Iman itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, Yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illalllah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah satu cabang dari iman" (Muttafaq alaih).
Adil dalam Mengambil Keputusan
Adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya. Adil dalam keputusan berarti tidak berlaku aniaya terhadap pihak yang tidak bersalah. Umat Islam banyak diperintahkan untuk berlaku adil dan memanf untuk itulah Islam diberikan kepada umat manusia. Dalam surat An-Nisa: 58 misalnya, Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya Allah menyeru kalian menyampaikan amanat kepada ahlinya. Dan apabila kalian menghukumi di antara sesama manusia, hendaklah kalian menghukuminya dengan adil."
Simbol keadilan dalam Islam diproklamirkan langsung oleh Rasulullah saw. ketika beliau bersabda, "Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, pasti aku memotong tnaganya."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Sumber Referensi:
(HR. Bukhari dan Muslim).
Sumber Referensi:
- Irfan Supandi, 2012: Agenda Muslim - Membangun Pribadi Muslim Prestatif
- Abdullah Gymnastiar, 2002: Menjadi Muslim Prestatif

Post a Comment