Header Ads

Contoh Kekayaan Umat Muslimin Terdahulu

Harta kekayaan umat Muslim

Dalam Hadits Arba'in An-Nawawiyah nomor 19, dikisahkan fragmen singkat yang diriwayatkan oleh Iman Turmudzi dari sahabat Abdullah bin Abbas, ia berkata;  Suatu hari saya berada dibelakang (dibonceng) Nabi saw, lalu beliau bersabda, "Wahai ghulam! (panggilan untuk anak yang masih kecil), aku akan mengajarimu beberapa kalimat, peliharalah Allah, pasti Dia akan memeliharamu. Jika kamu meminta sesuatu, mintalah kepada Allah dan jika kamu meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya jika umat bersepakat untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah kepadamu. Demikian juga jika mereka bersepakat untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah kepadamu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran kerta (dari tinta)."
Ketika pelajaran ini disampaikan Rasulullah saw kepada Ibnu Abbas, keduanya berboncengan menunggangi sebuah keledai yang biasa dipakai oleh Rasulullah saw untuk meninjau masyarakat, Demikianlah, apabila beliau bermaksud ingin mengetahui kondisi Umat Muslimin, beliau berkeliling kampung dengan menunggangi keledai kesayangannya. Beliau saw, punya kendaraan lain selain dari kuda dan unta yang telah disebutkan. Semua beliau gunakan sesuai dengan fungsinya masing-masing secara proposional. Sehingga paling tidak, beliau saw mempunyai kendaraan pribadi tiga macam: unta, kuda, dan keledai.
Pada masa Rasul dan bertahun-tahun sesudahnya belum dikenal kendaraan-kendaraan seperti yang ada sekarang (mobil, motor, pesawat, dll). Kita bisa menganalogikan seberapa kendaraan Rasul saw dengan kendaraan yang ada saat ini. Yang jelas, nilai kuda dan unta pada masa itu, kira-kira senilai dengan kendaraan bonafit masa sekarang. Ada pun keledai, barangkali setara dengan nilai sebuah kendaraan roda dua (motor) wallahu'alam.
Selebihnya dari apa yang dipaparkan, Nabi saw adalah orang yang sangat kaya. Setiap kali terjadi peperangan dan lalu memperoleh gahnimah, maka 1/5 merupakan jatah Allah dan Rasul-Nya. Bisa diperkirakan, jumlah kekayaan pribadi Rasulullah saw seandainya Beliau mengumpulkan atau menabung harta itu untuk dirinya sendiri. Tetapi, subhanallah, Beliau hanya mengambil sedikit saja dari harta itu untuk diri dan keluarganya, selebihnya Beliau infaqkan untuk umat dan dakwah Islam.
Kezuhudan Nabi tak tertandingi. Seorang, yang kalau mau, bisa menjadi terkaya di dunia, hidup dalam kesahajaan. Hartanya yang banyak Beliau infakkan di jalan Allah. Harta tak memalingkan dirinya dari tugas dakwah dan beribadah. Malah justru sebalinya, menjadi alat untuk perjuangan dan dakwahnya. Beliau adalah sebaik-baik teladan baik secara aqli maupun naqli.
Demikian pula para sahabat Rasulullah saw, semenjak belum masuk Islam, baik Muhajirin maupun Anshor, adalah para petani atau pedagang yang sukses. Tak terkecuali yang pernah menjadi budak, para sahabat rata-rata berasal dari keluarga berkecukupan memiliki latar belakang perekonomian yang tinggi. Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Mus'ab bin Umar adalah bisnisman-bisnisman unggul tak tertandingi. Mereka menguasai ilmu-ilmu perdagangan sehingga sukses dalam usahanya.
Setelah para sahabat masuk Islam, hartanya dijadikan modal untuk berdakwah. Memang pada awal-awal Islam, terutama ketika periode Makkah, Harta meka tersedot untuk dakwah dan penyebaran Islam. Mereka pun hidup dalam kondisi pas-pasan atau bahkan kemiskinan dan kelaparan. Setelah berhijrah ke Madinah para sahabat mulai menata berbagai aspek kehidupan. Dalam bidang perekonomian, mereka mengerjakan ladang yang diterimanya dari sahabat Anshor. Sebagian lainnya kembali ke perdagangan dan bidang jasa. Aktifitas perekonomian mereka kerjakan secara rutin dengan segala kesungguhan. Sambil memperbaiki taraf hidup ekonominya, para sahabat baik Anshor maupun Muhajirin, tetap konsisten pada dakwah.
Semenjak diturunkan syari'at jihad, Nabi dan para sahabat berulang kali mengadakan kontak fisik bersenjata melawan para penentang Islam. Peperangan tersebut ada yang bersifat semi mobilisasi (pasukan dalam jumlah besar) atau hanya mengerahkan sariyyah saja (sejumlah kecil pasukan). Setiap kali para sahabat mengikuti pertempuran, dan lalu memenangkannya, maka mereka pulang membawa kemenangan dan ghanimah yang jumlahnya tidak sedikit. Syekh Muhammad Khudhari Bek dalam bukunya Nurul Yaqin fi Siirati Sayyidil Mursalin, menyebutkan sebagian kecil harta ghanimah (dan fai) yang diperoleh Nabi dan para sahabat sejak disyariatkan jihad hingga Rasulullah saw wafat.
No Nama Peperangan Panglima Waktu Ghanimah
1. Sariyyah  Abdullah bin Jahsy Akhir Rajab, 2H  Seluruh iring-irng ekspedisi dagang (tidak disebutkan perinciannya). 
2. Perang Badar  Nabi saw  17 Ramadhan, 2H  Harta benda yang banyak (tidak dirinci), 68 orang tawanan perang yang masing-masing ditebus dengan 4ribu dirham dan 4ribu dinar. Ada yang dengan mengajari baca 10 orang muslim, dll.
3. Perang Qoinuqa  Nabi saw Pertengahan syawal,
Tahun 2H
Seluruh kekayaan Yahudi Qainuqa selain wanita dan anak-anaknya.
4. Perang Sawiq  Nabi saw  5 Dzulhijah, 2H Karung-karung berisi tepung 
5. Sariyyah  Zaid bin Haritsah Jumadil akhir, 3H Sebagian dari kafilah + orang-orang yang berjalan kaki 
6. Perang bani
Nadhir
 Nabi saw  Tahun 4H  Seluruh ternak unta bani Nadhir 
7. Perang Dzatur Riqo  Nabi saw Rabiul Awal, 4H  Semua kaum perempuan 
8. Perang Daumatul
Jandal
 Nabi saw Rabiul Awal, 5H Seluruh ternak dan sebagian gembalanya 
9. Perang Bani
Musthaliq
 Nabi saw Sya'ban, 5H Kaum wanita+anak-anak, dua ribu ekor unta, 5 ribu ekor kambing. 
10. Perang Bani
Quraizhah
 Nabi saw Tahun 5H 1500 pedang, 300 baju besi, 2000 tombak. 500 perisai dan senjata-senjata lainnya, kurma, dan tawanan. 
11. Sariyyah  Muhammad bin
 Maslamah
Tahun 6H Unta dan kambing. 
12. Sariyyah  Ukasyah bin Mihson Tahun 6H  100 ekor unta 
13. Sariyyah   Ubaidah Amar bin
 Jarrah
Rabiul Awal, 6H  Semua ternak penduduk Dzul Qishash 
14. Sariyyah   Zaid bin Haritsah Tahun 6H  Semua ternak unta dan domba + beberapa tawanan.
15. Sariyyah   Zaid bin Haritsah Jumadil Akhir, 6H  Semua ternak unta dan domba. 
16. Sariyyah  Ali bin Abi Tholib Sya'ban, 6H Ternak 
17. Perang Khaibar Nabi saw Muharram, 7H Roti, kurma, makanan, perabotan rumah tangga, harta benda, ternak, perabotan dari tembaga & keramik, 100 buah besi, 400 billah pedang, 1000 pucuk tombak. 500 buah busur panah buatan Arab, perhiasan berupa gelang, anting, dan perhiasan.
18. Sariyyah  Uyainah bin Hishn Tahun 7H Hewan ternak 
19. Sariyyah   Ghalib bin Abdullah
 al Laitsiy
Shofar, 8H Ternak unta dan kambing 
20. Sariyyah   Ghalib bin Abdullah
 al Laitsiy
 Tahun 8H Ternak sangat banyak (tiap tentara memperoleh bagian 10 ekor unta)
21. Perang Hunain   Nabi saw   Tahun 8H 24.000 ekor unta, 40.000 ekor lebih kambing, 4000 uqiyah emas. 
22. Sariyyah   Ali bin Abi Tholib  Rabiul Awal, 9H  Ternak + para tawanan. 
Tabel: perolehan harta rampasan perang (gahanima) baik yang dipimpin langsung oleh Nabi saw, maupun perang yang tidak di ikuti secara langsung oleh Nabi (Sariyyah).

Disamping perolehan ghanimah yang disebutkan dalam tabel, Syeh Muhammad Khudhori Bek mengatakan masih ada sejumlah ghanimah yang diperoleh umat Muslimin dalam peperangan dan sariyyah lainnya.
Ini baru sebagian kecil ghanimah yang diperoleh pada masa Nabi saw. Sementara ghanimah yang diperoleh para sahabat sesudahnya, jauh lebih banyak lagi. Dari tabel diatas, kita bisa melihat gambaran ghanimah yang didapatkan oleh para mujahidin. Di hari-hari ketika tidak ada peperangan, mereka mengembangkannya dengan berbisnis atau mengambil penggembala untuk mengurusi hewan-hewan ternaknya atau dengan menanam saham (mudharabah). Dengan begitu uang terus mengalir, tanpa harus mengurusi aktifitas dakwah. Mereka berlatih hidup berwiraswasta, berbisnis dan bertani tanpa terikat oleh aturan-aturan birokrasi.

Banyak kasus yang mengindikasikan para sahabat hidup dengan kecukupan (meskipun tetap ada sahabat yang hidup dalam kondisi pas-pasan). Ketika menjelang perang Tabuk, tahun 9H, Rasulullah saw memerintahkan orang-orang kaya supaya menyediakan perbekalan bagi orang-orang yang tidak mampu. Maka sahabat Abu Bakar mendermakan uang sebanyak 4000 dirham, Umar mendermakan setengah dari miliknya, Ustman bin Affan mengeluarkan biaya sebanyak 10.000 dinar, 300 ekor unta lengkap dengan pelananya dan 50 ekor kuda, Abdurrahman bin Auf mendermakan 100 Uqiyyah emas, sahabat Al Abbas dan Thalhah mendermakan hartanya yang jumlahnya cukup banyak, Ashim bin Adiy menyedekahkan 70 wasaq kurma. Dan sahabat-sahabat lain berbuat serupa pula. Para sahabiyah juga ikut andil, mereka memberikan berbagai perhiasan pribadinya.
Tentang kondisi kekayaan para sahabat juga dapat kita temukan gambarannya dalam hadits Arba'in no. 25. Dalam hadits tersebut orang-orang miskin menggandukan kepada Rasulullah tentang kemisikinannya hingga menyebabkan mereka tiadak dapat kesempatan memperoleh pahala shadaqoh seperti halnya orang-orang kaya. Dari pengaduan tersebut, tampak adanya para sahabat yang telah menjadi orang-orang kaya (ahlu dutsur), yang menginfakkan hatanya di jalan Allah sehingga mereka berhak atas pahalanya. Jadi, bila Umat Muslimin sekarang bisa mejadi orang kaya, maka peluang mereka untuk beramal melebihi dari pada orang Islam yang miskin.



Referensi:
  • Hadits Arba'in An-Nawawiyah
  • Syaikh Muhammad Khudlari Bek: Nurul Yaqin Siirati Sayyidil Mursalin.
  • Irfan Sufandi: Agenda Muslim - Membangun Pribadi Muslim Berprestasi

No comments

Powered by Blogger.