ABU LAHAB: Paman Penentang yang Malang
ABU LAHAB: Paman Penentang yang Malang
Oleh: Gilang al-Qanuni
Nasab dan Silsilah
Abu Lahab adalah kakak seayah dari ayah Rasulullah, Abdullah bin Abdul Muthalib. Namun sebagai paman, bukan berarti pintu hidayah terbuka untuknya. Mata hatinya tertutup sehingga dia tidak sanggup melihat cahaya Allah melalui dakwah Rasulullah Saw. Abu Lahab meninggal pada 624 M atau 2 H.
Abu Lahab adalah putra aristokrat Makkah dan pembesar Bani Hasyim, Abdul Muthalib. Abdul Muthalib memiliki sepuluh atau sebelas anak laki-laki dan enam anak perempuan dari enam orang istri. Dari salah satu istrinya, Fathimah binti Amr ibn Aidz ibn Imran dari Bani Makhzum, lahir delapan anak; Abdullah, Zubair, Abu Thalib (alias Abd Manaf), Ummu Hakim (al-Baidha), Atikah, Murrah, Umaimah, dan Barrah. Abdullah adalah ayah Rasulullah Saw yang merupakan kembaran dari Ummu Hakim.
Dari istrinya yang lain, Natilah binti Kulaib ibn Malik ibn Jinab dari Bani Namir, lahir dua orang anak; Abbas dan Dhirar. Abdul Muthalib juga menikahi Halah binti Uhaib ibn Abd Manaf ibn Zharha dari Bani Zahrah dan memiliki tiga atau empat orang anak. Mereka adalah Hamzah, Muqawwim, Hajal (alias al-Mughirah) dan Shafiyyah. Sementara itu, dari istri lainnya, Shafiyyah berasal dari Bani Sha’sha’ah, Abdul Muthalib memiliki dua orang anak; Harits dan Qutsam.
Satu lagi istri Abdul Muthalib, Lubna, melahirkan anak semata wayang yang diberi nama Abdul Uzza ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf ibn Qushay. Dia kemudian dikenal dengan nama Abu Lahab. Julukan tersebut diberikan oleh ayahnya karena Abu Lahab memiliki wajah yang tampan serta berbadan gemuk dan gempal.
Silsilah tersebut menunjukkan bahwa Abu Lahab memiliki status dan kedudukan yang mulia sebagai Bani Hasyim. Dari silsilah tersebut terlihat bahwa Abu Lahab memiliki kekerabatan yang dekat dengan Rasulullah Saw masih kecil. Dikisahkan bahwa pada saat Muhammad lahir, banyak orang yang sangat gembira menyambut kelahiran beliau. Salah satunya adalah Tsuwaibah al-Islamiyyah, budak perempuan Abu Lahab.
Mengetahui keponakan tuannya lahir, Tsuwaibah bergegas mencari Abu Lahab untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Reaksi Abu Lahab pun sesuai dengan reaksi Tsuwaibah. Dia sangat senang dengan kehadiran keponakan barunya itu. Saking gembiranya, dia tak hentinya mengucapkan terima kasih kepada budak perempuannya itu. Bahkan tanpa menunggu lama, Abu Lahab langsung memerdekakan Tsuwaibah saat itu juga, meski riwayat lain menyebutnya bahwa Tsuwaibah baru dimerdekakan setelah Rasulullah Saw berhijrah ke Madinah. Selain itu, Tsuwaibah juga mendapat berkah lainnya, yaitu menjadi ibu susu Rasulullah Saw, meskipun hal tersebut tidak berlangsung lama, sampai Halimah dari Bani Sa’ad datang.
Kegembiraan Abu Lahab menyambut kelahiran keponakannya yang kelak menjadi salah seorang Rasul mendapat imbalan setimpal dari Allah Swt. Walaupun terus-menerus memesuhi Rasulullah Saw, Abu Lahab mendapatkan keringanan azab di alam kuburnya. Kisah tersebut menunjukkan bahwa secara pribadi, Abu Lahab tidak memilki masalah dengan Rasulullah Saw sebagai keponakannya. Namun, dia tidak pernah menerima ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw.
Si Tamak Penyayang Keluarga
Berbeda dengan putra Abdul Muthalib lainnya, Abu Lahab sangat tamak dengan harta. Dia sangat ambisius dan takut kehilangan kedudukannya. Jauh sebelum Islam datang, Abu Lahab pernah melakukan perbuatan tercela. Dia mencuri sesuatu yang sangat berharga bagi masyarakat Quraisy, kiswah atau kain penutup Ka’bah. Dia tidak memedulikan kesucian dan kedudukan Ka’bah yang sangat dihormati orang Arab pada saat itu.
Abu Lahab adalah pemuja kemapanan.
Dia juga dikenal sebagai tokoh anti-perubahan. Oleh karena itu, dia akan sangat bereaksi sangat keras begitu mencium hawa perubahan. Begitu pula dengan perubahan yang dibawa oleh keponakannya sendiri, Muhammad Saw. Dia merasa kedudukannya terancam saat Rasulullah Saw menyebarkan dakwahnya. Rasa takutnya perlahan-lahan berubah menjadi rasa benci. Dengan sikap konservatifnya, Abu Lahab memilih menjadi penantang Rasulullah Saw secara membabi buta.
Namun demikian, Abu Lahab juga dikenal memiliki sifat penyayang kepada keluarga, termasuk istri dan anak-anaknya, saking sayangnya kepada istrinya, Abu Lahab bahkan mudah dipengaruhi istrinya yang begitu membenci Rasulullah Saw. Sama dengan Abu Lahab, istrinya juga merasa kehadiran Rasulullah Saw mengancam kedudukan keluarga.
Awalnya, Abu Lahab berharap kelahiran Muhammad Saw menjadi pembawa keberuntungan bagi keluarga besarnya. Muhammad Saw dianggap akan mengangkat martabat dan kehormatan keluarga. Oleh karena itu, Abu Lahab pun menerima kedua putri Rasulullah Saw sebagai menantu bagi kedua anaknya. Akan tetapi, Abu Lahab berbalik arah setelah mengetahui Rasulullah Saw mulai mengubah kondisi sosial yang selama ini telah dianggap mapan dan menguntungkan keluarganya.
Abu Lahab merasa terancam. Dia tidak ingin diri dan keluarganya kelak menjadi korban dari perubahan yang dilakukan Rasulullah Saw. Oleh karena itu, menurutnya, tidak ada jalan lain, kecuali mencabut akar perubahan itu sebelum kian tumbuh menjalar. Abu Lahab bertekad memangkas akar tersebut sebelum bertambah besar. Maka, tekadnya sungguh bulan untuk menghentikan dakwah Rasulullah Saw.
Abu Lahab memiliki istri dan keturunan yang sama-sama memusuhi Islam. Permusuhan yang digaungkannya begitu membabi buta. Sikap inilah yang membedakan Abu Lahab dengan tokoh-tokoh Quraisy lainnya. Istrinya, Arwa binti Harb adalah kakak seayah Abu Sufyan ibn Harb. Dari pernikahannya, lahir tiga orang putra; Utbah, Mu’attib, dan Utaibah. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, Abu Lahab sering dipanggil Abu Utbah.
Sebelum Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul, hubungan beliau dengan Abu Lahab baik-baik saja, bahkan begitu mesra. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Abu Lahab sangat senang memiliki keponakan yang disayangi oleh semua anggota keluarganya, terutama ayahnya, Abdul Muthalib, dan adiknya, Abu Thalib. Kedekatan itu semakin erat saat Abu Lahab menerima kedua putri Rasulullah Saw sebagai menantunya. Utbah mempersunting Ruqayyah, putri kedua Rasulullah Saw, sedangkan Utaibah mempersunting Ummu Kultsum, putri ketiga beliau. Abu Lahab berharap hubungan pernikahan tersebut dapat mempererat hubungannya dengan Rasulullah Saw.
Ternyata, hubungan mesra kedua keluarga ini tidak bertahan lama. Begitu Rasulullah Saw diutus menjadi Rasul dan menerima wahyu, benih-benih konflik mulai timbul. Perasaan tidak senang mulai tampak pada diri Abu Lahab yang juga membawa-bawa keluarganya dalam permusuhan itu. Hubungan yang semula baik lambat laun menjadi renggang, bahkan putus. Dari yang semula keluarga dekat, Abu Lahab pun menjadi musuh bebuyutan.
Awal permusuhan
Abu Lahab adalah sosok yang cepat naik darah, dan sangat emosional. Dia sama sekali tidak bisa mengendalikan emosi saat amarahnya memuncak sampai ke ubun-ubun. Reaksi spontan dan emosional itu pula yang ditunjukkannya kepada Rasulullah Saw pada awal-awal dakwah beliau.
Tidak lama setelah itu, Rasulullah Saw mendapat perintah untuk berdakwah kepada para kerabatnya melalui firman Allah Swt,
"Dan berilah peringatan kepada orang-orang terdekatmu (Muhammad).” (Q.S. al-Syu’ara: 214).
Mendapat perintah tersebut, Rasulullah Saw lalu mendaki Bukit Shafa dan berseru, “Wa shabahah!” yang berarti “Selamat pagi!” Salam tersebut adalah sappan untuk warga Makkah.
Mendengar seruan tersebut, warga Makkah pun berduyun-duyun datang. Mereka bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pagi itu. Rasulullah Saw lalu meneriakkan sebuah pertanyaan, “Apakah kalianakan percaya jika aku katakana kepada kalian bahwa seekor kuda sedang menuju kemari dari balik bukit ini?”
Karena selama ini Rasulullah Saw dikenal sebagai orang yang baik dan dapat dipercaya, mereka serempak menjawab, “Kami tidak pernah mendapatimu berbohong.” Jawaban yang dilontarkan warga Makkah tersebut adalah jawaban penuh kejujuran. Mereka menjawab apa adanya karena tidak pernah sekalipun mendapati Rasulullah Saw berkata dusta, “Maka aku adalah pemberi peringatan akan azab dahsyat di hadapan kalian.” sambung Rasulullah Saw seketika.
Mendengar ucapan Rasulullah Saw, Abu Lahab terkejut. Dia menangkan bahwa pesan yang diucapkan Rasulullah Saw itu adalah isyarat perubahan. Dia menyangka Rasulullah Saw menunjukkan sikap berbahaya, yaitu ingin merebut pengaruhnya dan menjadi tokoh yanf suatu saat akan menjadi pesaing beratnya. Dia pun langsung berkomentar pedas penuh kemarahan, “Tabban laka, ya Muhammad. Celakalah kau, wahai Muhammad! Untuk inikah, kau kumpulkan kami?”
Seiring berjalannya waktu, Abu Lahab semakin tidak terima dengan sikap Rasulullah Saw. Warga Makkah saat itu lebih banyak mendengarkan Rasulullah Saw daripada dirinya. Maka, dia semakin merasa posisinya telah direbut Rasulullah Saw. Sikap jengkel Abu Lahab ini menyebabkan Allah menurunkan firman-Nya.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.”(Q.S. Lahab:1).
Namun, setelah turun ayat tersebut, Abu Lahab bukan bertobat, tetapi justru semakin jengkel kepada Rasulullah Saw.
Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw memanggil para kabilah satu per satu, di antaranya Bani Fihr, Bani Ghalib, Bani Lu’ay, Bani Tayyim, Bani Ka’ab, Bani Marrah, dan yang lainnya. Ketika perwakilan dari setiap kabilah sudah berkumpul, Rasulullah Saw pun berbicara di hadapan mereka, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk mengingatkan keluarga terdekatku. Kalianlah para keluarga terdekatku di antara kabilah-kabilah Quraisy yang lain. Aku tak dapat membela kalian di hadapan Allah dan tidak pula di akhirat kelak sampai kalian mengicapkan la ilaha illa Allah. Dengan demikian, aku bisa mempersaksikan kalimat itu di hadapan Allah dan bangsa Arab pun tunduk kepada kalian.”
Abu Lahab saat itu hadir kembali mengucapkan komentas pedanya, “Tabban laka, ya Muhammad. Celakalah kau wahai Muhammad!” Peristiwa itulah yang mengawali permusuhan Abu lahab. Sejak saat itu, mata hati Abu Lahab semakin buta dan tidak mau menerima kebenaran.
Lebih jauh, Abu Lahab sangat realistis melihat dunia ini. Sulit baginya untuk percaya pada hal-hal abstrak yang tak mungkin dia lihat secara kasatmata. Maka, apa yang disampaikan oleh keponakannya, Muhammad Saw, tak lebih daripada sekedar janji-janji muluk yang menurutnya, tak mungkin diwujudkan.
Suatu ketika, Abu Lahab pernah berujar dengan penuh ejekan, “Muhammad menjanjikanku sesuatu yang tak tampak. Menurutnya, itu akan terjadi setelah meninggal. Lalu, apa yang akan dia letakkan di kedua tanganku kelak?” tanyanya seraya meniup kedua telapak tangannya. “Dan, kalian sialan. Aku tak sedikit pun melihat jejak-jejak ucapan Muhammad membekas pada diri kalian.” pungkasnya saat berhadapan dengan kerabatnya yang lain.
Menantang Dakwah Muhammad
Abu Lahab semakin takut saat melihat jumlah Kaum Muslim bertambah banyak. Maka, dia melakukan segala upaya untuk meredam pengaruh Rasulullah Saw. Dia yakin bahwa Rasulullah Saw benar-benar merebut kekuasaan dari tangannya.
Diriwayatkan dari Rabiah ibn ‘Abbad al-Dailami bahwa dia pernah melihat Rasulullah Saw berdakwah di pasar Dzi al-Majaz. Rasulullah Saw bersabda, “Wahai orang-orang, katakana la ilaha illa Allah, maka kalian pasti beruntung.” Kata-kata tersebut terus beliau ulangi di tengah kerumunan warga yang berbaris mengikutinya. Namun, seorang pria yang matanya buta sebelah dengan alis agak panjang langsung menimpali, “Dia itu murtad dari agama nenek moyang. Dia pendusta!” kemudian Rabiah bertanya, “Siapa orang itu?” seseorang menjawab, “Pamannya, Abu Lahab.”
Gangguan semacam itu sering dihadapi Rasulullah Saw yang memang tinggal berdekatan dengan Abu Lahab. Bahkan, rumah beliau berada di antara rumah Abu Lahab dan rumah ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith yang juga membenci beliau. Karena kondisi tersebut, Rasulullah Saw seing disebut-sebut tinggal di antara dua tetangga yang paling jahat.
Di sebut sebagai tetangga yang paling jahat, karena keduanya sering kali meletakkan kotoran di pintu rumah Rasulullah Saw. Sampai-sampai, beliau tak habis pikir, bagaimana mungkin ada tetangga sejahat itu. Namun, Rasulullah Saw selalu bersabar. Sesekali beliau bertanya kepada bertanya kepada tetangga lainnya yang masih berkerabat, “Wahai Bani Abd Manaf! Tetangga seperti apa kalian ini?” beliau yakin tetangga lainnya masih berbaik hati kepada beliau.
Suatu waktu, Hamzah ibn Abdul Muthalib pernah melihat Abu Lahab melempari pintu rumah Rasulullah Saw dengan kotoran. Secara diam-diam, Hamzah mengambil sebagian kotoran tersebut, lalu melemparkannya kembali sehingga mengenai kepala Abu Lahab. Abu Lahab pun berteriak menggerutu, “Ah, dasar bodoh!” tukasnya kesal. Sejak hari itu, Abu Lahab tak lagi melemparkan kotoran ke rumah Rasulullah Saw secara langsung, tapi mengupah orang lain untuk melakukannya.
Melibatkan Keluarga
Bagi Abu Lahab, Islam dan Muhammad Saw adalah dua hal baru yang harus dimusuhi. Jika Abu Lahab mengatakan sesuatu kepada Rasulullah Saw tetapi beliau tidak mengindahkan kata-katanya, dia akan semakin berang. Abu Lahab selalu menganggap Muhammad adalah ‘anak kemarin sore’ yang tiba-tiba datang dan mencoba merebut pengaruh yang selama ini dia dapatkan dari warga Makkah.
Klimaksnya, setelah surah al-Lahab diturunkan, Abu Lahab menganggap bahwa permusuhan benar-benar sedang diproklamasikan. Dia mulai mengawali perlawanan yang sesungguhnya. Maka, segala sesuatu yang berhubungan dengan Rasulullah Saw harus dijauhi dan dimusnahkan.
Abu Lahab tidak peduli dengan hubungan kekerabatannya yang sudah dia jalin, bahkan setelah menjadi besan Rasulullah Saw. Dengan murka, Abu Lahab memanggil kedua putranya dan menyuruh mereka menceraikan putri Rasulullah Saw.
‘Utbah dan ‘Utaibah tidak dapat membantah. Kakak-beradik tersebut patuh dan tidak bisa menentang perintah ayahnya. ‘Utbah pun langsung mendatangi Rasulullah Saw sebelum mengikuti ayahnya ke Syam. Di hadapan Rasulullah Saw, dia berkata pedas, “Demi binatang yang terbenam, aku menyatakan diri kafir.” Kemudian, ‘Utbah mengeluarkan pernyataan talak kepada putri beliau. Tak cukup mengutarakan kemarahannya, anak Abu Lahab itu juga meludah di hadapan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw menanggapi sikap ‘Utbah secara dingin. Tidak ada kata-kata dan sikap kasar yang ditunjukkan beliau. Beliau hanya berdoa kepada Allah, “Ya Allah, biarkan dia dikuasai oleh salah seekor anjing-anjing-Mu).”
Tak lama setelah kejadian itu, tersiar kabar bahwa ‘Utbah diterkam oleh seekor singa dalam perjalanannya ke Syam. ‘Utbah meraung-raung kesakitan sambil berkata, “Bukankah sudah kukatakan bahwa Muhammad adalah orang yang paling jujur?” dia pun akhirnya meregang nyawa.
‘Utaibah yang mempersunting Ummu Kultsum juga melakukan hal yang sama dengan saudaranya. Dia menceraikan istrinya sesuai perintah ayahnya. Kedua kakak-beradik itu menikahi putri Rasulullah Saw tanpa sempat menggaulinya, mereka dinikahi oleh Ustman ibn Affan r.a dalam waktu yang berbeda.
Ustman menikahi Ruqayyah terlebih dahulu. Namun, Ruqayyah meninggal pada 2 H. Setelah itu, Ustman menikahi Ummu Kultsum yang juga meninggal selang lima tahun kemudian (7 H).
Melihat peristiwa nahas yang menimpa ‘Utbah, Abu Lahab tidak lantas menghentikan kebenciannya kepada Rasulullah Saw. Dia justru semakin memusuhi Rasulullah Saw. Bahkan, Abu Lahab belum merasa puas sebelum melihat orang lain juga ikut memusuhi Rasulullah Saw. Sebagai contoh, suatu ketika, Abu Lahab menemui Hindun binti ‘Utbah ibn Rabiah. Dia bertanya kepada Hindun, “Wahai Binti Utbah, sudahkan kamu menolong Latta dan Uzza, lalu menjauhi orang yang memusuhi mereka?” Hindun menjawab, “Sudah. Semoga kau dilimpahkan kebaikan, wahai Abu Utbah (julukan Abu Lahab).”
Mendengar jawaban tersebut, Abu Lahab gembira. Dia merasa sangat puas jika orang lain turut memusuhi Rasulullah Saw. Dia pun tidak tinggal diam dan terus mengumpulkan orang-orang yang membantunya dalam melancarkan permusuhannya terhadap Rasulullah Saw.
Mengganggu para sahabat Rasulullah Saw
Abu Lahab tidak pernah kehabisan cara untuk memusuhi Nabi Muhammad Saw dan Islam. Salah satu hal yang sering dilakukannya adalah melemahkan keimanan umat Islam dengan cara merendahkannya, menertawakan, dan mempermainkan para sahabat Rasulullah Saw yang beriman.
Untuk menguatkan semangat Rasulullah Saw dan meneguhkan keimanan para sahabat, Allah Swt menurunkan firman-Nya.
“Sesungguhnya Kami memeliharamu (Muhammad) dari (kejahatan) orang yang memperolok-olokkanmu.” (Q.S. al-Hijr: 95).
Ayat tersebut diturunkan untuk memberikan semangat kepada Rasulullah Saw dalam berdakwah. Orang-orang jahat yang dimaksud ayat itu adalah tokoh-tokoh Quraisy yang memusuhi Rasulullah Saw. Abu Lahab adalah salah satunya, selain ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith, Hakam ibn Abu al-Ashi, al-Aswad ibn ‘Abd Yaghuts, al-Ash ibn Wa’il, al-Walid ibn al-Mughirah, dan Harits ibn Ghaithalah al-Sahmi.
Berpihak kepada Musuh
Puncak kebencian Abu Lahab kepada Islam ditunjukkan saat Islam berada dalam posisi kritis. Kondisi tersebut terjadi pada tahu ke-7 hingga 10 kenabian tiga tahun sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Dakwah Islam menghadapi tekanan yang berat. Hal tersebut dipicu oleh kekhawatiran kafir Quraisy yang semakin besar melihat pesatnya perkembangan dakwah Islam. Apalagi, pada saat itu, sahabat yang hijrah ke Habasyah gagal dibawa pulang oleh utusan Quraisy, Amr ibn al-Ash.
Awalnya, penggawa kafir Quraisy berpikir bahwa tidak ada cara lain untuk menghentikan dakwah Rasulullah Saw kecuali membunuh beliau. Namun, ide tersebut ditentang Bani Hasyim yang merupakan keluarga dekat Rasulullah Saw yang tetap ingin melindungi beliau.
Melihat penentangan tersebut, para tokoh Quraisy marah besar kepada Bani Hasyim. Maka, mereka bersepakat untuk memboikot Bani Hasyim. Kesepakatan tersebut ditulis dalam sebuah piagam yang digantung setinggi-tingginya di dinding Ka’bah. Isi penting piagam tersebut adalah memboikot segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan Bani Hasyim, termasuk kegiatan sosial-ekonomi, seperti perdagangan, pernikahan, hingga pergaulan sehari-hari.
Kesepakatan boikot tersebut digunakan Abu Lahab untuk memperlemah kedudukan Umat Islam. Meski berasal dari Bani Hasyim, Abu Lahab bersama keluarganya justru memihak kepada musuh Bani Hasyim. Dia bahkan menjadi kekuatan utama dalam memberikan tekanan kepada umat Muslim. Dengan memanfaatkan pengaruh berhala Latta dan Uzza, Abu Lahab terus menghasut umat Muslim agar turut membenci Bani Hasyim.
Namun, lama-kelamaan, piagam boikot yang digantung di dinding Ka’bah itu hancur dimakan rayap. Setelah itu, kaum Quraisy pun terpecah dalam beberapa kelompok, boikot pun berakhir.
Akhir Tragis
Perang Badar merupakan sejarah yang penting untuk menyaksikan akhir kehidupan Abu Lahab. Abu Lahab adalah salah seorang tokoh Quraisy yang paling bersemangat mendukung perang tersebut. Bahkan, saat pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan menuju medan Perang Badar, Utbah ibn Rabiah berpikir untuk menarik kembali pasukan dan tidak meneruskan peperangan. Saat itu, Abu Lahab yang paling bersikeras menolak ide tersebut dan memaksa pasukan Quraisy untuk terus maju ke medan peperangan.
Meskipun menjadi tokoh yang paling bersemangat, pada kenyataannya Abu Lahba tidak ikut berperang. Kondisi fisiknya yang kurang sehat, tidak mengizinkan Abu Lahab mengikuti Perang Badar. Seperti para penggawa Quraisy lainnya yang berhalangan mengikuti mengikuti perang, Abu Lahab juga mengutus prajurit Quraisy untuk menggantikannya.
Abu Lahab mengutus al-Ash ibn Hisyam ibn al-Mughirah untuk menggantikannya. Hal tersebut disebabkan al-Ash mempunyai utang kepada Abu Lahab akibat kalah taruhan. Abu Lahab berujar kepada al-Ash, “Cukup dengan perang ini, maka utangmu kepadaku lunas.” Namun, utang itu ditebus al-Ash dengan nyawanya karena alam perang itu, dia mati terbunuh di tangan Umar bin Khattba.
Tidak lama setelah Perang Badar usai, yaitu hanya selang tujuh hari, Abu Lahab meninggal karena mengalami pembusukan lambung. Penyakit tersebut menimbulkan bau yang menyengat sehingga dia dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang menyebutnya penyakit ‘adsah atau tha’un. Setelah tiga hari bau busuk dari tubuh Abu Lahab tak kunjung hilang, keluarganya membuatkan lubang untuknya, kemudian mendorongnya ke dalam lubang tersebut dengan kayu panjang. Setelah itu mereka melemparinya dengan batu hingga tubuhnya terkubur. Orang lain tidak mau mendekat karena khawatir tertular dengan penyakitnya, persis seperti yang diceritakan dalam al-Qur’an.
Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kedua anak Abu Lahab tidak mau menguburkan hingga tiga hari. Mereka baru bertindak setelah orang-orang memprotes bau busuk yang timbul dari tubuh Abu Lahab. “Tidakkah kalian malu? Mayat ayah kalian sudah berbau busuk di dalam rumahnya?” seru orang-orang di sekitarnya. Mereka akhirnya mau menguburkan jasad ayahnya. Mereka hanya memercikkan air ke tubuh ayahnya dari jauh, kemudian membuangnya di dekat perkampungan kosong di dataran tinggi Makkah, lalu menimbunnya dengan batu.
Demikianlah akhir tragis dari sang penentang dakwah, Abu Lahab. []
Referensi:
Misran, Armansyah. 2018. Para Penentang Muhammad Saw. Bandung: Safina.

Post a Comment