Header Ads

MATA RANTAI RASISME


MATA RANTAI RASISME
Oleh: Gilang al-Qanuni



Sekarang kita bersama para sahabat, di suatu tempat yang dipenuh sesaki oleh manusia, ada ribuan jamaah haji di bukit Arafah ini. Seorang pria berada di atas tunggangan untanya berkata, "Wahai Manusia, dengarlah baik-baik. Aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih dapat bersama kalian.  Simaklah apa yang akan kukatakan dan sampaikanlah kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini. ...Setiap manusia adalah anak Adam dan Hawa. Orang Arab tidak lebih istimewa dari orang bukan Arab. Dan orang bukan Arab tidak lebih istimewa dari orang Arab. Demikian pula orang kulit putih tidak lebih istimewa dibanding orang kulit hitam. Dan orang kulit hitam tidak lebih istimewa dibanding orang kulit merah, kecuali karena takwa dan amal shalihnya. Ketahuilah bahwa setiap orang Muslim adalah saudara bagi orang Muslim lainnya. Tidak boleh ia mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan izin dan ridhanya. Jangan kalian saling menzalimi. Ingatlah suatu hari nanti kalian akan bertemu Allah dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian." Pria itu adalah Nabi kita yang mulia Rasulullah Saw. 

Ludwing von Rohden (1815-1889), tokoh misionaris Jerman, berpendapat bahwa semua manusia adalah keturunan Nabi Nuh yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ada lima warna kulit yang dimiliki keturunan Nabi Nuh itu: putih, kuning, merah, coklat, dan hitam. Menurutnya, warna kulit ditentukan oleh kadar dosa masing-masing. Semakin berdosa sebuah bangsa, maka akan semakin hitam warna kulitnya.

Sejak lama para ilmuwan menganggap ras sebagai fakta biologis. Konon ras manusia terdiri dari tiga induk; kaukasoid, negroid, dan mongoloid. Masing-masing dikatakan berasal dari kawasan di mana mereka dulunya tinggal, yaitu pegunungan Kaukasus di selatan Rusia, wilayah Nigeria di Afrika, dan daerah Mongolia di Asia. Tipologi ini senada dengan legenda Israiliyat yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa di dunia adalah keturunan dari tiga anak Nabi Nuh: Sam (nenek moyang ras Timur Tengah), Ham (nenek moyang ras Afrika), dan Yafits (nenek moyang ras Eropa), meski kemudian pengelompokan ini lebih banyak dipakai untuk menyebut rumpun bahasa yaitu rumpun Semitik, rumpun Afrika, dan rumpun Indo-Eropa.

Namun, mengatakan bahwa ras adalah fakta biologi sebenarnya membawa konsekuensi politik yang saling bercanggah. Tipologi di atas secara tidak langsung menganggap bangsa-bangsa selain kulit putih, kulit hitam, dan kulit kuning sebagai bukan manusia. Sebab kalau orang-orang berkulit kemerahan dan sawo matang juga dianggap manusia, maka tindakan menindas, memperbudak, dan menghabisi mereka (seperti yang dilakukan terhadap penduduk asli benua Amerika dan Australia) adalah sangat biadab dan tidak bisa dibenarkan sama sekali. Di sisi lain, kalau perbedaan ras memang karena faktor keturunan, maka orang dapat mengklaim bahwa rasnya lebih unggul dari ras lainnya. Akan tetapi jalan pikiran semacam ini jika diikuti akan mengulang tragedi kebiadaban yang pernah terjadi saat Reconquista di Spanyol, di era Kolonialisme, pada zaman kekuasaan Nazi di Jerman, dan selama konflik di Palestina, Bosnia, Kosovo, Chechnya, sehingga timbul istilah pembunuhan ras (genosida), pembersihan etnis, dan lain sebagainya.

Istilah rasisme umumnya dipahami sebagai sebuah pandangan atau kesadaran bahwa ras saya lebih unggul dari ras lainnya, bahwasanya kecerdasan keterampilan, kecenderungan maupun perilaku seseorang disebabkan dan ditentukan oleh rasnya. Rasisme dapat menjangkit siapa saja. Tidak jarang terjadi di suatu tempat anggota ras tertentu menjadi korban manakala di tempat lain justru menjadi pelaku. Seperti kasus George Floyd baru-baru ini, yang disebabkan oleh pandemi rasisme dan diskriminasi. Apatah lagi, mengakibatkan demonstrasi besar-besaran di Amerika Serikat. 

Manifestasi rasisme yang paling mencolok adalah praktek perbudakan, di mana korbannya yang kebanyakan, jika bukan semuanya kulit hitam diperlakukan sebagai binatang ternak. Bagi orang-orang Eropa, warna hitam adalah lambang kejahatan, kekurangan, kehinaan, dan kutukan. Kata hitam mempunyai konotasi jelek, kotor, licik, dosa, dan kematian. Mitos yang coba dikukuhkan ialah bahwa orang-orang berkulit hitam itu liar dan tak berakal, buas dan pemakan daging manusia. Sepulangnya dari kepulauan Amerika, Christopher Columbus melaporkan bahwa penduduk yang ditemui di sana sangat sederhana, masih liar, dan biadab, memangsa manusia, kasar, dan kejam. Ekspedisi Portugis yang dipimpin oleh Vasco Da Gama tidak hanya berniaga barang, tapi juga menjual budak-budak yang mereka bawa dari Afrika dan Asia. Bisnis rasis ini kian marak setelah Spanyol, Belanda, Inggris, dan Perancis menyusul dan berlomba-lomba membuat koloni di Afrika, Asia, dan Amerika.

Hanya dalam tempo 20 tahun setelah Columbus menginjakkan kakinya di sebuah pulau di Karibia (Amerika), wilayah yang tadinya berpenduduk itu berubah kosong. Sekitar 8 juta penghuni pulau yang diberi nama Hisponiola itu mati akibat disiksa dan dibunuh. Para ahli demografi historis memperkirakan, hanya dalam beberapa generasi, sekitar 80 juta atau 90% hingga 98% penduduk asli benua Amerika mati terbunuh. Sesudah melakukan aksi 'pembersihan massal' terhadap kaum pribumi, bangsa-bangsa Eropa yang bertapak di 'dunia baru' itu kemudian merasa perlu mendatangkan orang-orang kulit hitam. Setiap tahun tidak kurang dari 100.000 orang ditangkap, diculik dan diangkut dari kawasan pesisir Barat Afrika. Dengan cara paksa, sogokan, atau tipuan untuk dipekerjakan sebagai budak di ladang pertanian, perkebunan, pabrik, dan pertambangan. Keuntungan yang diperoleh dari bisnis budak saat itu diakui begitu menggiurkan sehingga makin merajalela dan nyaris mustahil dihentikan. Tak mengherankan jika dibutuhkan waktu berabad-abad serta korban tak terbilang untuk menghapuskannya.

Selama tahun 1930-an di Eropa, pada masa perang, dan perasaan bersalah atas kecenderungan rasisme sebagai bagian tak terpisahkan dari proyek-proyek kolonial. Kesadaran dan keterlibatan orang-orang Eropa baik di Eropa Barat maupun Timur, dalam pembasmian warga Yahudi dan Gipsi di negara mereka selama perang dunia kedua hanya baru-baru ini terungkap. Di sebagian besar dunia Barat, penyangkalan Holocaust (genosida) dan rasisme secara terang-terangan dianggap sebagai tindakan kriminal, dan anti-semitisme tidak lagi ditoleransi dalam bentuk apapun. Namun sentimen ini tidak begitu berlaku atas Islam. Di Bosnia lebih dari 8000 orang termasuk wanita dan anak-anak tewas dibantai oleh tentara Serbia pada tahun 1995. Selain pembunuhan besar-besaran, serdadu-serdadu brutal Serbia juga memperkosa puluhan ribu perempuan Bosnia. Kebiadaban rasis juga terjadi di Palestina, puluhan ribu orang Muslim telah menjadi korban pembantaian tentara Yahudi-Zionis sejak Israel didirikan pada tahun 1948.

Dalam sejarah umat manusia, watak rasis Barat dibungkus dengan kemasan menarik. Pemikiran barat yang memusuhi Rasulullah Saw mengindikasikan adanya persoalan rasis tersebut. Meskipun diakui sebagai simbol perjuangan persamaan hakiki umat manusia, Muhammad Saw tetap saja di benci. Selain itu, beliau menempatkan diri sebagai suri teladan yang nyata tentang interaksi sesama manusia tanpa pembatas apapun; menegaskan bahwa golongan manusia yang satu, dengan golongan manusia yang lain tidak ada yang lebih unggul selain ditentukan oleh keimanan dan kedekatan pada Allah. Alhasil, perbedaan rasial lenyap dalam kamus peradaban Islam yang ajaran-ajarannya- sebagaimana diketahui Barat- bersumberkan dari risalah Islam dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Sayangnya, para intelektual Barat tidak menerima begitu saja dengan senang hati ajaran-ajaran Islam yang berisikan persamaan antar manusia. 

Nabi Saw bersabda, "Siapa yang memerdekakan seorang budak, maka Allah akan membebaskannya dari siksa api neraka, setiap anggota badannya; tangan dengan tangan, kaki dengan kaki, dan kemaluan dengan kemaluan. " (H.R Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, dan Imam Ahmad). Memerdekakan di sini bisa dengan cara melepaskan haknya sebagai tuan, dengan cara membeli atau menembus dari tuan pemilik budak yang bersangkutan lalu membebaskannya. Beliau Saw sendiri selama hidupnya membebaskan tidak kurang dari 63 budak, sedangkan Aisyah r.a istri beliau memerdekakan 67 hamba sahaya. Kalau Abdullah ibn Umar membebaskan sekitar 1000 orang budak, maka pengusaha Abd al-Rahman ibn Auf membeli 30.000 budak untuk kemudian dimerdekakan.

Kebijakan dan teladan ini ditiru oleh kaum Muslimin dari generasi mendatang hingga lama-kelamaan perbudakan berhasil dilenyapkan. Bandingkan dengan perbudakan oleh bangsa-bangsa Eropa yang berlangsung hingga abad ke-19. Budak-budak itu tidak diperlakukan sebagai manusia. Penguasa El Salvador, Guatemala, Honduras, Nicaragua dan Costa Rica baru mengakhirinya pada tahun 1833, diikuti oleh Inggris pada tahun 1833, Perancis pada tahun 1848 dan negara-negara di Amerika Selatan (Colombia Argentina, Venezuela, dan Peru) pada tahun 1850-an. Sedangkan Amerika Serikat baru menghapuskannya pada tahun 1865.

Peradaban Islam telah mendeklarasikan Hak Asasi Manusia sejak 1400 tahun silam. Sedangkan  Perserikatan Bangsa-Bangsa baru mendeklarasikannya pada tahun 1948 (mengeluarkan Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia). Islam adalah satu-satunya agama yang dengan tegas menantang dan berupaya melepaskan manusia dari belenggu perbudakan. Banyak ayat di dalam al-Qur'an yang menyinggung hal tersebut. Seperti dalam firman Allah Swt, "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu, dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui."
(Q.S. Ar-Rum: 22).

Ada juga yang menyangkut kebhinekaan ras, etnis, dan suku, semestinya mendorong manusia agar saling mengenal, saling menghargai, saling melindungi (Q.S. al-Hujurat:13). Bekerjasama, tolong-menolong, dan bahu-membahu dalam meraih kebahagiaan dan mengatasi masalah bersama (Q.S. al-Maidah: 2). Dan masih banyak ayat lagi, yang menyinggung hal tersebut. 

Seharusnya, Barat belajar kepada Islam, bagaimana mengikis dan melenyapkan rasisme. Dengan meresapi dan mempraktekkan ajaran Islam; kemanusiaan dan persaudaraan. Sebagaimana sabda Nabi Saw, "Dengar dan taatilah pemimpin kalian, walaupun pemimpin kalian adalah seorang budak hitam yang kepalanya seperti dipenuhi bisul." (H.R. Bukhari).  [ ]









Referensi:
Ali A. Allawi. 2015. Krisis peradaban Islam: antara kebangkitan dan keruntuhan total. Bandung: Penerbit Mizan.

Dr. Bassem Khafagy. 2018. Mengapa Barat Benci Muhammad? Studi Analitis Akar Permusuhan terhadap Nabi Umat Islam. Jogjakarta: Salma pustaka Utama.

Dr. Syamsuddin Arif dkk. 2008. Jurnal Kajian Islam: Imperialisme. Depok: Lembaga dan Pengembangan al-Insan. 


No comments

Powered by Blogger.