Header Ads

KETELADANAN DUA UMAR #2


KETELADANAN DUA UMAR #2

Oleh: Gilang al-Qanuni

Syahdan, sikap Umar bin Khattab tetap tegas dan berani terhadap para pejabat pemerintahannya yang kadang-kadang keliru dalam mempergunakan kekuasaan. Sekarang kita berpindah kepada kejadian yang membuat Umar luluh karena rasa kasihan dan iri, yaitu ketika ia menyelidiki salah seorang pejabatnya yang pada akhirnya ia mendapatkannya bersih dari tuduhan-tuduhan yang ada.
Suatu hari ia bertemu dengan orang yang mengadukan atas perlakuan salah seorang pejabatnya, yaitu Sa'id bin Amir al-Jumahi, yang mana pengaduan tersebut mengandung tiga poin:

Pertama, ia tidak keluar dari rumah untuk menemui rakyatnya kecuali setelah waktu siang tiba.
Kedua, ia tidak melayani seorang pun di malam hari.
Ketiga, ia hilang dari pandangan manusia satu hari pada tiap bulan. Ia tidak melihat seorang pun dan tidak ada seorang pun melihatnya.

Lalu Umar memanggilnya dan mempertemukannya dengan para pengaduh itu. Ia berkata kepada mereka, "Angkatlah bicara!" 

Mereka berkata, "Ia tidak keluar dari rumah untuk menemui rakyatnya, kecuali setelah waktu siang tiba." Umar menoleh ke arah Sa'id dan memintanya untuk menjawab.

Sa'id berkata, "Demi Allah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku tidak suka menyebutkan sebab-sebabnya, tetapi terpaksa aku akan menyebutnya di sini. Aku tidak mempunyai pembantu, sehingga aku membuat adonan bersama keluargaku, kemudian aku menunggunya hingga mengembang, dan aku memasaknya hingga menjadi roti. Setelah kerja tersebut beres, aku berwudhu lalu keluar menemui mereka."

Terpejamlah cahaya kegembiraan pada wajah Umar. Dan jelas baginya bahwa orang yang ia percaya terhadap agamanya, yang dipilih langsung olehnya tidak akan pernah disudutkan karena sebuah kesalahan yang ia lakukan. 

Kemudian Umar berkata kepada para pengadu, "Lalu apalagi?"
Mereka menjawab, "Ia tidak melayani seorang pun di malam hari."

Said berkata, "Demi Allah, sungguh aku tidak suka menyebutkan alasan-alasannya, tetapi terpaksa aku akan menyebutnya. Aku jadikan waktu siangku untuk melayani mereka dan malamku untuk Allah."

"Lalu apalagi yang kalian perlukan darinya?" Kata Umar kepada mereka.
"Ia memiliki satu hari dalam satu bulan, di mana ia tidak mau menemui seorang pun," ujar mereka. 

Sa'id menjawab, "Aku tidak mempunyai pembantu untuk mencuci pakaianku, dan pada hari itu aku mencucinya dan menunggunya hingga kering. Lalu aku keluar menemui rakyatku di akhir waktu siang."

Umar berkata dengan diselimuti rasa kegembiraan "Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan firasatku."

Sekarang kita berada di hadapan Umar bin Abdul Aziz, seraya memandangnya dari kejauhan. Istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, menuturkan kisah berikut; 

"Suatu ketika aku masuk menemuinya, ia tengah duduk di mushola rumah, dengan tangan menempel di pipi dan air mata berderai. Aku kemudian bertanya, kamu kenapa, kenapa kau menangis?"

Umar menjawab, "Bagaimana kamu ini, Fatimah, aku dibebani tanggung jawab berat untuk mengurus umat ini, lalu aku memikirkan orang miskin yang lapar, orang sakit tanpa ada yang mengurus, orang tak berpakaian yang keletihan, anak yatim yang sedih, orang teraniaya yang tertindas, orang asing, tawanan, orang tua renta, janda seorang diri yang menanggung banyak anak sementara rezekinya hanya sedikit, dan orang-orang lain semacam mereka ini di berbagai belahan bumi dan di berbagai penjuru negeri. Aku tahu pasti Allah menanyakan mereka padaku pada hari kiamat kelak, dan lawan saya yang membela mereka pada hari itu adalah Muhammad Saw, aku kuatir jika alasanku tidak kuat. Itulah kenapa aku menangis."

Teringat juga, ketika Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, didatangi sahabatnya, Muhammad bin Ka'ab al-Qurzhi, marilah  kita dengarkan penuturannya; 
"Suatu ketika aku masuk menemui Umar bin Abdul Aziz setelah diangkat sebagai khalifah. Tubuhnya kurus, rambutnya rontok, dan pucat. Padahal, dulu masih menjadi gubernur Madinah, setahu kami tubuhnya ideal, dan gemuk. Aku menatapnya dan pandangan saya tak beralih kepada yang lain, kemudian ia berkata kepada saya, "Hai Ibnu Ka'ab, kenapa kau menatapku seperti itu, belum pernah kau menatapku seperti itu sebelumnya?"

"Aku heran wahai Amirul Mukminin," sahutku. 
"Apa yang membuatmu heran," tanyanya.
Heran karena tubuhmu kurus, rambutmu rontok, dan kau pucat. Mana warna kulit yang dulu indah, rambut yang dulu bagus, dan tubuh yang dulu tambun?" Tanyaku. 

"Kalau begitu, kau akan lebih merasa aneh lagi padaku dan tidak lagi mengenaliku. Andai setelah tiga hari kau melihatku di dalam kubur, kedua mataku keluar, dan menempel di pipi. Cacing-cacing berada di lubang hidung dan mulutku," katanya.

Dia kemudian menangis, dan menangis.
Bentuk dan penampilan itu telah berubah. Layu sudah tubuh yang dulu indah dan penuh asupan nikmat karena pukulan-pukulan palu perasaan takut akan tanggung jawab. Itulah hari-hari awal yang dilalui Amirul Mukminin ketika menjabat sebagai Khalifah. 

Dan kita akan menyaksikan keajaiban lainnya. Lagi dan lagi. 


Referensi:

  • Khalid Muhammad Khalid. 2019. Khulafaur Rasul. Cet. V. Jakarta Timur: Penerbit Ummul Qura.

No comments

Powered by Blogger.