Header Ads

Mengapa Seorang Muslim Dituntut Kaya

Mengapa Muslim di Tuntut kaya

"Dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat", firman Allah berulangkali dalam kita suci Al-qur'an. "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya", dalam Qur'an surat Ali'Imran [3]: 77. Dan ayat-ayat Al-Qur'an lain menyebutkan banyak amal ibadah yang tidak dapat terealisasi kecuali dengan adanya biaya (uang) yang cukup banyak. Berarti, amal tersebut hanya dapat dilakukan oleh umat Islam yang mempunyai cukup materi alias kaya.

Rukun Islam ketiga, zakat, adalah mengeluarkan ukuran tertentu dari harta si pemilik yang diberikan kepada orang lain yang berhak menerimanya. Kita tidak bisa menjadi muzakki kalau tidak punya banyak harta. Mungkin kita tidak termasuk ke dalam delapan golongan yang berhak menerima zakat, karena kita mempunyai penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarga. Tetapi tentu tidak mempunyai kesempatan menambah pahala dari zakat karena harta yang tidak mencukupi. Jadi, untuk bisa berzakat seperti tantanggan, harus meningkatkan pendapatan dari yang diperoleh sebelumnya.

Seperti dimaklumi, nisbah zakat emas adalah 20 mitqal atau 96 gram. Jika dihitung dengan rupiah, maka jumlah emal X harga /gram, yakni sekitar 96x 85.000 = Rp. 8.160.000 (delapan juta seratus enam puluh ribu rupiah).

Jika kita mempunyai simpanan harta sejumlah itu dan telah mencapai haul, barulah patut mengeluarkan zakat sebanyak 2,5 persen. Kita berhak atas pahala dari Allah swt.

Untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci, seorang Muslim memerlukan biaya kurang lebih Rp. 30.000.000. jika bersama istri berarti dikalikan dua, sehingga menjadi 60.0000.000. Uang sejumlah itu sebenarnya tidak banyak, hanya mungkin sebagian kita belum punya. oleh karenanya, untuk menunaikan ibadah haji, harus memiliki uang lebih dari sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kita tentu maklum, bahwa untuk dapat beribadah dengan nyaman kita membutuhkan masjid yang permanen, cukup sarana. Berapa uang yang harus kita sediakan untuk membangun masjid serupa itu.? Tentu miliyaran rupiah kan?
Ini baru tiga contoh saja, masih banyak contoh lain ibadah yang membutuhkan biaya tak terhingga. Jawaban singkat dari masalah ini kita harus punya banyak uang. Dengan kata lain kita harus kaya. Kita dapat menunaikan ibadah haji, memelihara anak yatim, membangun masjid, menyantuni fakir miskin, menyekolahkan anak-anak secara layak dan lain-lain. Kita bisa minum sus dan madu, bisa makan makanan yang bergizi tinggi, daging, sate, cake, ikan segara dan seterusmya.
Untuk semua itu, kita harus kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Ketahanan dan kekuatan fisik dibutuhkan untuk kerja keras. Fisik yang lemah apalagi sakit-sakitan tentu tidak mampu melakukannya. Kita perlu melatih terus otak agar terbiasa berpikir cerdas. Ibarat pisau, otak akan tumpul bisa tidak diasah. Otak harus terlatih berpikir cerdas dan akurat dalam memutuskan suatu kasus. Kasusnya sekarang adalah kita membutuhkan penghasilan yang melebihi kebutuhan sehari-hari.

Selanjutnya kerja fisik dan otak perlu dibingkai dengan kerja hati, ikhlas. Dengan ikhlas, jerih paya kita tidak sebatas bernilai duniawi, tetapi juga memiliki bobot ukhrawi. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Menurut keterangan dari para ustd, bahwa seyogyanya penghasilan minimum seorang Muslim atau UMR nya orang Islam adalah senilai nishab zakat. Artinya, kalaulah penghasilan kita masih di bawah nishab zakat, berarti kita termasuk orang miskin. Menurut keterangan ini, kebanyakan Muslimin dewasa ini berarti masih termasuk ke dalam golongan miskin atau setidaknya di bawah golongan menengah (pas-pas).

No comments

Powered by Blogger.