Ibnu Abbas Si Juru Damai

Beberapa waktu setelah peristiwa pembunuhan Khalifah Ustman bin Affa, kaum muslimin terkoyak persatuannya. Ali yang kemudian diangkat sebagai Khalifah menggantikan Utsman, dikucilkan dan dihina oleh sebagian kaum muslimin karena adanya kasus perbedaan pendapat dengan Muawiyah. Ibnu Abbas, seorang sahabat Nabi sekaligus sahabat Ali, merasa tidak nyaman melihat kondisi tersebut. Bagaimanapun, Ali sudah banyak berjuang bersama Rasulullah saw. dan kaum muslimin, Ali juga orang yang dicintai Rasulullah, karena perannya dan posisinya sebagai menantu. Tidak ada alasan untuk memupuk kebencian terhadap Ali. Karena itulah, Ibnu Abbas berkata pada Ali, "Wahai Amirul Mikminin, izinkanlah saya mendatangi orang-orang yang salah paham terhadap dirimu dan berbicara kepada mereka."
Kata Ali, "Saya khawatir risiko yang mungkin engkau terima dari mereka."
Jabwa Ibnu Abbas, "Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa."
Tidak butuh waktu lama Ibnu Abbas untuk mendatangi pihak yang berseberang dengan Ali. Ibnu Abbas masuk ke dalam majelis mereka. Kata mereka,"Selamat datang, wahai Ibnu Abbas. Apa maksud kedatangan Anda kemari.?"
Jawab Ibnu Abbas, "Saya datang untuk berbicara dengan Anda semua."
"Katakanlah, kami akan mendengarkan bicara Anda," kata meraka.
"Coba tuan-tuan katakan kepada saya, apa sebab tuan-tuan membenci anak paman Rasulullah yang sekaligus menantu beliau dan orang yang pertama iman dengan beliau?"
"Kami membencinya karena tiga perkara," jawab mereka.
"Apa itu?" tanya Ibnu Abbas lagi.
"Pertama, dia bertahkim (menggunakan hukum) kepada manusia tentang urusan agam Allah.
Kedua, dia memerangi Aisyah dan Muawiyah, tetapi tidak mengambil harta rampasan dan tawanan.
Ketiga, dia menanggalkan gelar 'Amirul Mikminin' dari dirinya, padahal kaum muslimin yang mengukuhkan dan mengangkatnya."
Kata Ibnu Abbas,"Sudikah tuan-tuan mendengar Al-Qur'an hadits Rasulullah yang akan saya bacakan? Tuan-tuan tentu tidak akan membantah keduanya. Apakah tuan-tuan bersedia mengubah pendirian tuan-tuan sesuai dengan maksud ayat dan hadits tersebut?"
Jawab mereka, "Tentu!"
Kata Ibnu Abbas, "Masalah pertama, bertahkim kepada manusia dalam urusan agama Allah. Allah swt. berfirman"
"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian membunih binantang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di atara kaum membunuhnya dengan segaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu..." (Al-Maidah: 95)
"Saya bersumpah kepada tuan-tuan dengan menyebut nama Allah, apakah putusan seseorang tentang hak darah dan jiwa serta perdamaian antara kaum Muslimin tidak lebih penting dibanding-kan seekor kelinci yang harganya sepertempat dirham?"
Jawab mereka, "Baiklah, kami tinggalkan masalah itu."
"Masalah kedua, Ali berperang tetapi dia tidak menawan para wanita. Mengenai masalah ini, sudikah tuan-tuan menawan Aisyah, lantas tuan-tuan halalkan dia seperti tawanan wanita lainnya? Jika tuan mengatakan 'ya', tuan-tuan kafir. Dan jika tuan-tuan menjawab 'dia bukan ibu kami', tuan-tuan juga kafir juga. Allah berfirman:
"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri dan istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka...(Al-Ahzab: 6)
"Nah, pilihan mana yang tuan-tuan suka. Mengakui ibu atau tidak?" Kata ibnu Abbas selanjutnya, "Marilah kita tinggalkan persoalan ini."
Jawab meraka, "Demi Allah, kami setuju."
"Mereka ketiga," kata Ibnu Abbas, "Ali menanggalkan gelar Amirul Mukminin dari dirinya. Sesungguhnya ketika Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, mula-mula Rasulullah menyuruh ditulis "Inilah perjanjian dari Muhammad Rasulullah", lantas kata kaum musyrikin, "Seandainya kami mengakui engkau Rasulullah, tentu kami tidak menghalangimu mengunjungi Baitullah, juga tidak memerangimu. Karena itu, cukup tuliskan namamu saja "Muhammad bin Abdullah'. Rasulullah memenuhi permintaan mereka seraya berkata, "Demi Allah, aku adalah Rasulullah sekalipun kalian tidak mempercayaiku."
"Bagaimana? tanya Ibnu Abbas, "Tidak pantaskah masalah memakai atau tidak memakai gelar Amirul Mukminin, kita tanggalkan saja?"
Jawab mereka, "Demi Allah, kami setuju."
Ibnu Abbas, orang yang pernah di doa kan oleh Rasulullah agar diberi ilmu oleh Allah, memang orang yang cerdas, termasuk cerdas dalam memainkan kata-kata saat bernegosiasi. Kecintaanya kepada Rasulullah, keluarga Rasul, dan sahabat-sahabat Rasul, menumbuhkan semangat untuk menjadi juru damai pada semua pihak yang berselisih, yang dalam hal ini meyebabkan Ali dihina, Berkat kepintarannya menggunakan hujah Al-Qur'an dan hadits, logika-logika yang dikemaskannya bisa diterima lawan bicara. Kaum muslimin yang tadinya menghina Ali, bisa kembali menerima dan menghormatinya sebagaimana mestinya.
Kisah di atas hanyalah sebagian dari ribuan Kisah Hikmah dari kaum muslimin generasi awal yang sarat dengan nilai-nilai kemanusian. Kebesaran jiwa seseorang ternyata sangat berpengaruh pada cara seseorang mewujudkan cintanya pada orang lain. Cara mencintai ini terkait dengan masalah motivasi, niat, ekspresi batin dan fisik terhadap orang yang dicintai. Kebesaran jiwa itu bisa dibentuk oleh pemahaman.
Ada sebuah kata bijak, 'Seseorang akan memberi apa yang ia miliki." Bila kita memiliki pemahaman yang baik tentang tujuan dan cara mencintai, kita pun bisa memberikan yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita.
Kisah di atas hanyalah sebagian dari ribuan Kisah Hikmah dari kaum muslimin generasi awal yang sarat dengan nilai-nilai kemanusian. Kebesaran jiwa seseorang ternyata sangat berpengaruh pada cara seseorang mewujudkan cintanya pada orang lain. Cara mencintai ini terkait dengan masalah motivasi, niat, ekspresi batin dan fisik terhadap orang yang dicintai. Kebesaran jiwa itu bisa dibentuk oleh pemahaman.
Ada sebuah kata bijak, 'Seseorang akan memberi apa yang ia miliki." Bila kita memiliki pemahaman yang baik tentang tujuan dan cara mencintai, kita pun bisa memberikan yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita.
Post a Comment