Header Ads

Meninggalkan Kemaksiatan

Meninggalkan Kemaksiatan



Manusia memiliki tiga hal yang membedakannya dengan makhluk-makhluk lain; malaikat, jin, setan, binatang, dan tumbuhan. Tiga hal tersebut adalah akal pikiran, hawa nafsu, dan hati nurani. Ketiganya saling mempengaruhi dan tarik-menarik sesuai kondisi keimanan seseorang. Bila seseorang berada dalam kondisi keimanan yang bagus, ketiga hal tersebut akan menjadii potensi positif bagi manusia, dan jika sebaliknya, maka akan menjadi potensi negatif yang merusak manusia itu sendiri. 

Pada dasarnya manusia telah diberi bekal oleh Allah untuk mengenali hal-hal yang akan berpengaruh pada jiwa seseorang. Disebutkan dalam surat Asy-Syams ayat 7-8,
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Pada dasarnya manusia sangat mungkin menerima kebaikan atau keburukan. Agar manusia selalu terjaga jiwanya, Rasulullah saw. telah memberi tuntunan, seperti yang tersebut dalam hadits berikut,
Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash r.a., ia berkata bahwa Rasulullah bersabda,
"Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga hawa nafsu-nya mengikuti apa yang telah aku bawa." (Hadits ke-41 dalam Al-Arba'in An-Nawawiyah)

Meninggalkan tuntunan Rasulullah saw. untuk mengikuti hawa nafsu dan tenggelam dalam kemaksiatan merupakan bentuk pengingkaran terhadap nikmat Allah swt. Konsekuensi dari perilaku mencintai adalah melakukan hal-hal yang dicintai kekasih dan meninggalkan hal yang dibenci kekasih. Jika menyatakan diri mencintai Allah, sungguh aneh jika bermuka dua, melakukan ibadah sekaligus bermaksiat. Mengerjakan shalat, menunaikan puasa, bahkan haji, tetapi juga melakukan korupsi, menzalimi orang, mencari nafkah dengan cara yang haram, berkubang dalam kemaksiatan syahwat. 

Dalam buku "Syarah Arbai'in Anawawiyah" yang di tulis oleh Dr. Muthafa Al-buqha dan Muhyiddin Mista disebutkan bahwa Ibnu Rajab berkata: "Semua Maksiat pada dasarnya adalam memerangi Allah." seraya mengutip pendapat Hasan bin Adham, Ibnu Rajab menambahkan, "Apakah pendapat Hasan bin Adham, Ibnu Rajab menambahkan, "Apakah kamu akan memerangi Allah? Karena barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah, maka ia telah memerangi-Nya. Semakin besar dosa dari kemaksiatan, maka semakin berani ia dalam memerangi Allah."

No comments

Powered by Blogger.