Lari Melawan Bahasa Ta'ashub (Fanatik Buta)
Lari Melawan Bahasa Ta'ashub (Fanatik Buta)
Oleh: Yusuf Maulana
Ta'ashub adalah istilah dalam Islam yang artinya fanatik buta. Ta'ashub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainkan sebuah penyakit yang secara sadar atau tidak sadar mampu menginfeksi siapa saja. Penyakit ini termasuk penyakit yang berbahaya dan memiliki kemampuan untuk merusak tatanan syariat Islam.
Dalam salah satu halaman karyanya _Tabyinu Kadzib al-Muftari fima Nusriba lil Imam Abi Hasan al-Asy’ari_, Ibnu Asakir (yang bernama lengkap Abu al-Qasim al-Hafidz Tsiqatuddin Ali al-Dimasyqi asy-Syafi’i) bercerita: “Semenjak dahulu ulama-ulama Hanbali selalu meminta tolong kepada ulama-ulama Asy’ari dalam menghadapi pelaku-pelaku bid’ah, karena merekalah yang ahli dalam ilmu kalam. Maka siapa pun dari Hanbali yang berbicara melawan pelaku bid’ah, pada hakikatnya ia berbicara dengan lisan Asy’ari dan sesiapa pun yang telah berhasil membahas sesuatu masalah dalam ushuluddin, pada dasarnya dari ulama-ulama Asy’arilah ia belajar.”
Dr. Majid Irsan Kaylani (2009) menyampaikan cerita di atas dalam karyanya, _Hakadha Zahara Jailu Shalahu al-Din wa Hakadha ‘Adat al-Quds_ (terjemah Malaysia: _Kebangkitan Generasi Salahuddin dan Kembalinya al-Aqsha ke Pangkuan Islam_). Pada buku yang sama, Dr. Kaylani menuliskan pula cerita lain:
Pada tahun 521 H, salah seorang tokoh terkenal dari mazhab Asy’ari, Abu Fath al-Isfiraini, ke kota Baghdad. Dia mengambil masjid sebagai tempat memberi pelajaran dan nasihat. Banyak sekali orang berkumpul di sekelilingnya untuk mendengarkan pelajaran dan nasihat, dan banyak pula di antara mereka yang terpengaruh olehnya.
Situasi tersebut membuat para pengikut mazhab Hanbali marah, maka berkumpullah mereka lalu masuk ke dalam masjid di mana Abu Fath sedang memberi pelajaran, dan menyerbunya. Kemudian mereka keluar ke jalan-jalan sambil meneriakkan kata-kata, “Ini adalah hari kemenangan Hanbali, bukan Syafi’i dan bukan pula Asy’ari!”
Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Asy’ari tak pernah anjurkan adab memenggal kehormatan Muslim berbeda pandangan mazhab. Sayangnya, selepas mereka tiada, kegaduhan akibat persengitan sesama saudara seiman tak terelakkan. Dan hari ini, semangat kesumat dengan fondasi ashabiyyah masih kokoh. Meski bersungut marah kalau kita sematkan kepada pelakunya. Meski bernada tegas mendaku peniti jalan Salafush-Shaleh; meski berlanggam tandas sebagai pemangku Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah—selalu ada fragmen kekerasan bahasa dan pudarnya adab. Diperbuat oleh para sosok beratribut ulama anutan mazhab ataupun manhaj.
Hari ini dan di sini, saat kita masih jadi mayoritas tak disegani oleh para pemusuh risalah Ilahi, retakan ukhuwah itu seolah enggan ditambal. Memilih bersuara sengit membinatangi ataupun mencibir bid’ah saudara seiman hanya karena menempuh jalan berbeda. Saat berdiam untuk tidak memvonis, memfatwa, saudara seiman begitu sukar ketimbang panggilan merapat kepada kekuasaan yang masih hadirkan syubhat adab.
Sekadar ada Muslimin ingin bersilaturahim, berkumpul dalam tajuk reuni 212, banyak saudara seimannya belingsutan. Menuding dengan sangkaan tidak-tidak hingga keluar ragam komentar dan vonis tidak patut. Dari yang menghukumi anasir pengganggu keamanan hingga soal bagian dari gerak-gerik Khawarij. Benar, mungkin saja pada penghelat acara reuni itu bermuatan politik. Soalannya: apakah ada unsur melanggar hukum hingga ancaman stabilitas? Pengalaman yang terjadi dua tahun belakangan ketika ada kumpul-kumpul massa ratusan ribu ternyata berjalan lancar dan aman. Berbeda dengan syak awal kalangan aparat hingga pendukung kekuasaan.
Baiklah kalau ada yang terusik, mari kritik dengan bahasa elegan. Awalnya karena curiga politik, lantas memetik nash agama, ditunjuklah penuh kesumat Muslimin yang hendak menyampaikan aspirasi di acara semacam reuni itu. Dikobarkanlah hal-hal yang tidak perlu. Andaikata kegiatan semacam itu, bahkan skala besar, digelar pendukung kekuasaan, Muslimin pun tak perlu mencibir. Biarkan saja selagi aturan hukum dan kenyamanan juga kebersihan dijaga dengan baik. Jangan sampai ada pemilahan; kalau ini boleh, kalau itu dikecam.
Bahasa keras hari ini mengudara di mana-mana di ruang publik. Yang menyedihkan, itu diteladankan pula oleh para penguasa negeri dan lingkarannya. Lihat saja soal sontoloyo, genderuwo, sampai tabok; bahasa-bahasa jauh dari adab dan pikiran jernih. Dan ini setali ketika merespons soal kumpul Muslimin. Yang seharusnya biasa saja, karena toh mereka bisa dengan mudah meminta sokongan Istana untuk membuat acara tandingan, malah disikapi penuh kesumat. Dalam berdemokrasi, urusan aksi banyak orang berjilid-jilid tak perlu direspons dengan mata menanar. Asal itu tadi: jangan ada anarki; adab dijaga, siapa pun pihak pengusungnya.
Dari kalangan islamis sendiri, ada baiknya perhelatan semacam reuni 212 tidak sekadar menabalkan perjuangan simbolis protes pada kekuasaan yang tidak ramah pada aspirasi (sebagian) umat Islam. Perlu ada strategi dan langkah mitigasi berdialektika dengan kekuasaan, selalim apa pun pada umat. Jangan sampai umat hanya unjuk kekuatan baru di segi jumlah massa. Gelombang kesadaran dan kritisisme atas kelaliman penguasa sesungguhnya satu modal. Modal untuk bangkit dan hadirnya kekuatan Islam yang lebih berpikir kritis tapi tak semata-mata memperjuangkan sentimen simbol. Ini agar tidak jatuh pada ta’ashub baru, disadari ataupun tidak. Dari soal ayat Quran yang dinista, sepatutnya esok dan luas perjuangan umat mestinya diarahkan ke problem umat yang lebih mendasar. Problem yang justru menganga diperbuat lancung kekuasaan; reklamasi, penggusuran, ketidakadilan penegakan hukum soal tambang dan sawit, dan banyak kasus lainnya yang bisa didekati dengan maqashid syariah andaikata islamis mau beranjak memperbaiki elan vital gerakan kebangsaan yang memadukan substansi pesan risalah Nabi.
Inilah satu perspektif melawan kebiadaban berbahasa, baik sesama islamis ataukah alat kekuasaan yang semena-mena jumawa mengasari kita. Yang itu bermula dari koreksi dan refleksi cara kita memandang dan bergerak menilai soalan umat.
Oleh: Yusuf Maulana
Ta'ashub adalah istilah dalam Islam yang artinya fanatik buta. Ta'ashub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainkan sebuah penyakit yang secara sadar atau tidak sadar mampu menginfeksi siapa saja. Penyakit ini termasuk penyakit yang berbahaya dan memiliki kemampuan untuk merusak tatanan syariat Islam.
Dalam salah satu halaman karyanya _Tabyinu Kadzib al-Muftari fima Nusriba lil Imam Abi Hasan al-Asy’ari_, Ibnu Asakir (yang bernama lengkap Abu al-Qasim al-Hafidz Tsiqatuddin Ali al-Dimasyqi asy-Syafi’i) bercerita: “Semenjak dahulu ulama-ulama Hanbali selalu meminta tolong kepada ulama-ulama Asy’ari dalam menghadapi pelaku-pelaku bid’ah, karena merekalah yang ahli dalam ilmu kalam. Maka siapa pun dari Hanbali yang berbicara melawan pelaku bid’ah, pada hakikatnya ia berbicara dengan lisan Asy’ari dan sesiapa pun yang telah berhasil membahas sesuatu masalah dalam ushuluddin, pada dasarnya dari ulama-ulama Asy’arilah ia belajar.”
Dr. Majid Irsan Kaylani (2009) menyampaikan cerita di atas dalam karyanya, _Hakadha Zahara Jailu Shalahu al-Din wa Hakadha ‘Adat al-Quds_ (terjemah Malaysia: _Kebangkitan Generasi Salahuddin dan Kembalinya al-Aqsha ke Pangkuan Islam_). Pada buku yang sama, Dr. Kaylani menuliskan pula cerita lain:
Pada tahun 521 H, salah seorang tokoh terkenal dari mazhab Asy’ari, Abu Fath al-Isfiraini, ke kota Baghdad. Dia mengambil masjid sebagai tempat memberi pelajaran dan nasihat. Banyak sekali orang berkumpul di sekelilingnya untuk mendengarkan pelajaran dan nasihat, dan banyak pula di antara mereka yang terpengaruh olehnya.
Situasi tersebut membuat para pengikut mazhab Hanbali marah, maka berkumpullah mereka lalu masuk ke dalam masjid di mana Abu Fath sedang memberi pelajaran, dan menyerbunya. Kemudian mereka keluar ke jalan-jalan sambil meneriakkan kata-kata, “Ini adalah hari kemenangan Hanbali, bukan Syafi’i dan bukan pula Asy’ari!”
Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Asy’ari tak pernah anjurkan adab memenggal kehormatan Muslim berbeda pandangan mazhab. Sayangnya, selepas mereka tiada, kegaduhan akibat persengitan sesama saudara seiman tak terelakkan. Dan hari ini, semangat kesumat dengan fondasi ashabiyyah masih kokoh. Meski bersungut marah kalau kita sematkan kepada pelakunya. Meski bernada tegas mendaku peniti jalan Salafush-Shaleh; meski berlanggam tandas sebagai pemangku Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah—selalu ada fragmen kekerasan bahasa dan pudarnya adab. Diperbuat oleh para sosok beratribut ulama anutan mazhab ataupun manhaj.
Hari ini dan di sini, saat kita masih jadi mayoritas tak disegani oleh para pemusuh risalah Ilahi, retakan ukhuwah itu seolah enggan ditambal. Memilih bersuara sengit membinatangi ataupun mencibir bid’ah saudara seiman hanya karena menempuh jalan berbeda. Saat berdiam untuk tidak memvonis, memfatwa, saudara seiman begitu sukar ketimbang panggilan merapat kepada kekuasaan yang masih hadirkan syubhat adab.
Sekadar ada Muslimin ingin bersilaturahim, berkumpul dalam tajuk reuni 212, banyak saudara seimannya belingsutan. Menuding dengan sangkaan tidak-tidak hingga keluar ragam komentar dan vonis tidak patut. Dari yang menghukumi anasir pengganggu keamanan hingga soal bagian dari gerak-gerik Khawarij. Benar, mungkin saja pada penghelat acara reuni itu bermuatan politik. Soalannya: apakah ada unsur melanggar hukum hingga ancaman stabilitas? Pengalaman yang terjadi dua tahun belakangan ketika ada kumpul-kumpul massa ratusan ribu ternyata berjalan lancar dan aman. Berbeda dengan syak awal kalangan aparat hingga pendukung kekuasaan.
Baiklah kalau ada yang terusik, mari kritik dengan bahasa elegan. Awalnya karena curiga politik, lantas memetik nash agama, ditunjuklah penuh kesumat Muslimin yang hendak menyampaikan aspirasi di acara semacam reuni itu. Dikobarkanlah hal-hal yang tidak perlu. Andaikata kegiatan semacam itu, bahkan skala besar, digelar pendukung kekuasaan, Muslimin pun tak perlu mencibir. Biarkan saja selagi aturan hukum dan kenyamanan juga kebersihan dijaga dengan baik. Jangan sampai ada pemilahan; kalau ini boleh, kalau itu dikecam.
Bahasa keras hari ini mengudara di mana-mana di ruang publik. Yang menyedihkan, itu diteladankan pula oleh para penguasa negeri dan lingkarannya. Lihat saja soal sontoloyo, genderuwo, sampai tabok; bahasa-bahasa jauh dari adab dan pikiran jernih. Dan ini setali ketika merespons soal kumpul Muslimin. Yang seharusnya biasa saja, karena toh mereka bisa dengan mudah meminta sokongan Istana untuk membuat acara tandingan, malah disikapi penuh kesumat. Dalam berdemokrasi, urusan aksi banyak orang berjilid-jilid tak perlu direspons dengan mata menanar. Asal itu tadi: jangan ada anarki; adab dijaga, siapa pun pihak pengusungnya.
Dari kalangan islamis sendiri, ada baiknya perhelatan semacam reuni 212 tidak sekadar menabalkan perjuangan simbolis protes pada kekuasaan yang tidak ramah pada aspirasi (sebagian) umat Islam. Perlu ada strategi dan langkah mitigasi berdialektika dengan kekuasaan, selalim apa pun pada umat. Jangan sampai umat hanya unjuk kekuatan baru di segi jumlah massa. Gelombang kesadaran dan kritisisme atas kelaliman penguasa sesungguhnya satu modal. Modal untuk bangkit dan hadirnya kekuatan Islam yang lebih berpikir kritis tapi tak semata-mata memperjuangkan sentimen simbol. Ini agar tidak jatuh pada ta’ashub baru, disadari ataupun tidak. Dari soal ayat Quran yang dinista, sepatutnya esok dan luas perjuangan umat mestinya diarahkan ke problem umat yang lebih mendasar. Problem yang justru menganga diperbuat lancung kekuasaan; reklamasi, penggusuran, ketidakadilan penegakan hukum soal tambang dan sawit, dan banyak kasus lainnya yang bisa didekati dengan maqashid syariah andaikata islamis mau beranjak memperbaiki elan vital gerakan kebangsaan yang memadukan substansi pesan risalah Nabi.
Inilah satu perspektif melawan kebiadaban berbahasa, baik sesama islamis ataukah alat kekuasaan yang semena-mena jumawa mengasari kita. Yang itu bermula dari koreksi dan refleksi cara kita memandang dan bergerak menilai soalan umat.

Post a Comment