Header Ads

Menjaga Persaudaraan Sesama Muslim dengan Saling Berbagi Hadiah

Menjaga Persaudaraan Sesama Muslim dengan Saling Berbagi Hadiah

Suatu saat seorang sahabat menghadiahi saya kopi. Saya ragu ia tahu saya pencinta kopi lokal Arabika specialty. Saya amat yakin, ia mencoba menjaga persaudaraan dengan saling berbagi hadiah. Dan hadiah yang diberikannya berupa kopi renteng instan yang beken dengan bintang iklannya bekas penyanyi kritis; musisi yang kini enggan bersuara vokal pada rezim yang membayarnya.

Ini teknis saja buat belikan secara cepat karena ia mendadak bersua saya. Jadi, bukan soal ia tak ada uang karena toh teman saya mampu. Hanya, ia tak tahu pada selera temannya.

Tentu saja saya tak (lagi) mengonsumsi kopi serbuk macam itu. Maka, segera terpikirkan: agar lebih manfaat, dihadiahkanlah pada orang lain. Sementara, menariknya, sang teman tadi hari-hari berikutnya acap mengonsumsi kopi premium dari mancanegara. Kopi bebijian bermutu tinggi. Saya tahu karena ia mengunggah dengan ayem di social media.

Mengokohkan jiwa dari soal kopi adalah tidak berupaya menilai apa pun atas pemberian orang yang diniatkan baik. Mungkin ia sangka kita hanya sebatas begini seleranya dan tak perlu "boros" sampai dihadiahi benda mahal sebab hanya mubazir.

Dari sini saya pun belajar tentang mengukur selera. Ketika hendak menghadiahkan ke teman, benda yang bakal diberikan mestilah sepadan dan sesuai dengan konsumsi sehari-hari saya. Bukan melulu soal benda konsumsi sekali pakai macam kopi, melainkan juga benda awet macam buku.

Sebagai ilustrasi: Lebih berfaedah membelikan karya anyar Dr Salim Segaf bagi seorang al-akh ketimbang saya kirimkan buku tulisan Anis Matta padanya. Sebab ia memerlukan nama pertama kendati bisa saja saya "sentimen" mempromosikan nama yang disengitinya semata-mata agar ada perimbangan. Pun pada al-akh yang mendamba syarah syeikh sunnah meski beberapa kali sang syeikh berlebihan pada jama'ah dakwah yang bukan puaknya. Tak jadi beban bila saya mengikuti kemantapan "selera" orang yang saya hadiahi.

Di pihak berbeda, saya tetap sebisa mungkin menyimpan kenang-kenangan para teman, tentu yang tak sekali pakai lantas habis, demi menjaga persahabatan. Betapapun kadar nilainya bersahaja belaka tapi saya yakin pada masanya akan ada faedah--semisal racun tikus, buku apkir penuh compang camping, ataukah piring yang terbawa, hingga buku yang mencaci pemikiran tokoh yang saya ibrahi.

Sumber: Yusuf Maulana

No comments

Powered by Blogger.