Header Ads

ANDALUSIA KEMARIN, PALESTINA HARI INI

ANDALUSIA KEMARIN,  PALESTINA HARI INI
Oleh: Gilang Ramadhan

Sang Jenderal memasuki Damaskus  bersama pasukannya. Kemudian mendatangi makam terkenal di luar Masjid Umayyah lalu menendangnya, dan berseru: “Perang Salib telah berakhir sekarang! Bangun Shalahuddin, kami telah kembali! Kehadiranku di sini menahbiskan kemenangan salib terhadap bulan sabit.”  Begitulah ungkapan terkenal Jenderal Gouraud saat berhasil merebut kembali Damaskus dari kaum Muslimin setelah pertempuran Maissaloun.

Mengenang kembali ketika kekalahan kaum Muslimin dalam Perang Salib I, tiadalah karena perpecahan di tubuh kaum Muslimin sendiri. Ketika antar saudara berperang, anak tega mengusir ayahnya, penguasa tega mengalirkan darah orang lain demi jabatan dan kekuasaan.
Apakah sejarah itu, kita masih mengharapkan datangnya kemenangan dan kejayaan? Seorang penyair bertutur:
Jangan mencelaku, karena semuanya telah jelas.
Hati menangisi keadaan para pemuda.
Di antara kemabukan dan foya-foya.
Bergoyang-goyang laksana pemilik hijab (perempuan).
Apakah kalian menginginkan nyanyian orang-orang mabuk.
Padahal al-Quds sedang dikelilingi anak-anak anjing?
Hai pemuda yang suka bermain-main, di mana kemuliaan kalian?
Jika ada tekad kuat mencari kemuliaan, ada seribu pintu tersedia.

Teringat juga, ketika kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Salib II, tiada lain karena kaum Muslimin bersatu sementara pasukan Salib justru mengalami perpecahan. Benarlah kata pepatah, “Janganlah berbuat seperti sapu yang meninggalkan ikatannya, sebatang lidi tidak berarti apa-apa, tetapi dalam satu ikatan sapu akan mampu menyapu segala-galanya.

Apakah yang mendorong kekuatan-kekuatan Eropa untuk menyerbu dunia Muslim?

Yang pertama, adalah faktor perdagangan. Dorongan ini sudah ada sejak lama, bahkan pada rangkaian perang salib, terutama di antara bangsa Italia di Genoa dan Venesia.

Yang kedua, adalah alasan keuangan. Misalnya pendudukan Mesir oleh Inggris serta penaklukan Tunisia dan Maroko oleh Prancis, adalah untuk menagih hutang. Di ketiga negeri itu, para kreditor Barat membujuk pengusaha untuk berfoya-foya dan membeli barang-barang mewah yang tak berguna. Misalnya, pengusaha Maroko terbujuk untuk membeli kereta mewah, sementara jalan raya yang baik itu belum ada. (Tradisi inilah yang berlanjut pada kebiasaan pedagang senjata di dunia Barat dengan menawarkan senjata mutakhir yang super modern kepada bangsa Iran dan Arab yang nyata-nyata tidak pandai mengoperasikannya).

Yang ketiga, yang bersifat politik-ekonomi. Ialah pengamanan jalan dagang, seperti misalnya Inggris mengharapkan agar Mesir, Aden,Iraq dan negara-negara teluk Parsi berada di dalam tangan penguasa-penguasa yang aman sehingga jalan-jalan ke India terjamin keamanannya. Oleh karena itu, negeri-negeri tersebut disebut sebagai ‘mutiara permata kota’ imperium Inggris. Selanjutnya ada usaha untuk melindungi India dari ancaman Rusia dari utara yang tercermin dalam perang-perang Afghanistan. Oleh karena itu, Inggris mengamankan jalur ke Afghanistan  melalui Baluchistan dan Sind. Sebaliknya Rusia yang terancam oleh pendudukan Inggris itu segera menguasai Asia Tengah untuk (melindungi perut lemahnya dari tusukan yang berasal dari Afghanisan).

Adapun alasan lainnya, yang kurang meyakinkan adalah bisikan Inggris kepada Prancis untuk menjalankan peperangan, yang sebetulnya tidak perlu, di Sudan Barat melawan teokrat-teokrat Muslim fanatik, yang berjihad melawan Prancis tanpa mengetahui bahwa Prancis sebenarnya hanya ingin menjalankan jalannya ke sungai Nil: ‘binatang ini jahat, jika diserang balik menyerang’, demikian sebuah pepatah Prancis. Apapun alasan-alasan negeri Eropa tersebut, negeri Muslimlah yang menjadi korbannya, dan arena dihujani pukulan-pukulan itu, kaum Muslim tak ada waktu untuk bersantai-santai.

Setelah keruntuhan Granada, Christopher Columbus, sang penemu benua Amerika—seperti kliam mereka, mendesak Raja Ferdinand Ratu Isabella  agar segera menguasai Palestina dan membalas dendam kekalahan pasukan Salib. Pikiran untuk menguasai Palestina semenjak kaum Frank (Prancis) diusir keluar dari kota mulia tersebut, telah menjadi kesadaran penuh Gereja Katolik yang membawahi gereja-gereja lain. Bahkan Columbus, terlepas dari perkiraannya bahwa dirinya sudah sampai ke Kepulauan India Barat, tetap tidak lupa untuk mengirimi Ferdinand-Isabella sepucuk surat yang isinya meminta keduanya supaya segera melancarkan Perang Salib untuk menduduki dan menguasai Palestina, tahun 1501 M. Sejarah kembali terulang.

Menurut Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam buku Model Kebangkitan Umat Islam;Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina. Ketika negara-negara kolonial dan gerakan Zionisme ingin menciptakan suasana yang kondusif bagi berdirinya negara Israel dan seluruh kekuatannya. Maka disusunlah perencanaan dan strategis praktis untuk memecah belah kawasan Syam dan mengembalikannya pada kondisi masa lalu yang menjadi kunci keberhasilan Perang Salib I. Saat itu kawasan Syam dicabik-cabik oleh penyakit sektarianisme,mazhabisme, dan pengkotak-kotakan kekuasaan politik dan para penguasa kecil yang dikenal dengan Atabik Syam.

Konspirasi jahat ini, dijelaskan oleh seorang perwira tentara Inggris, Lawrence, sahabat bangsa Arab! Dalam sebuah laporan rahasia yang dipublikasikan pada tahun 1960-an, Lawrence menerangkan bahwa para perancang strategi di negara-negara kolonial -termasuk Lawrence sendiri-  sudah menyetujui perjanjian Balfour pada tahun 1906 M dan bukan pada tahun 1917 M seperti yang diketahui selama ini. Saat itu mereka menetapkan bahwa di antara syarat yang harus dipenuhi untuk merealisasikan isi perjanjian Balfour adalah memecah belah Syam menjadi negara-negara kecil yang lemah. Sekaligus menjadi tembok pertahanan yang kokoh bagi negara Israel dari arah timur dan utara, sehingga Negara Israel benar-benar eksis di atas seluruh tanah Palestina dan setelah itu baru mencaplok negara-negara kecil tersebut satu demi satu.

Sahabatku, persoalan Palestina ini sejatinya mirip dengan Andalusia. Anda lihat, bagaimana tahun 1992 M diadakan kesepakatan damai antara Yahudi dan Palestina. Kesepakatan yang sama juga diadakan di antara semua dunia di salah satu kota Andalusia kuno, yakni Madrid. Perundingan damai biasanya dilakukan di Oslo yang dijaga oleh Amerika, Rusia, dan negara-negara lainnya. Namun ini diadakan di Madrid. Dan keheranan kita terjawab, bahwa alasan diadakannya perundingan pada tahun 1992 ialah untuk mengenang runtuhnya Andalusia yang sudah lewat lima ratus tahun yang lalu.

Di tengah-tengah agenda perundingan ini, di jalan-jalan raya Kota Madrid diadakan pawai, pesta, dan arak-arakan untuk memperingati kekalahan kaum Muslimin dan kemenangan orang-orang Kristen dalam pertempuran lama yang terjadi lima ratus tahun lalu. Seolah-olah mereka tengah mengirim sepucuk surat yang isinya, “Lihat, sejarah akan terulang.”

Seorang penyair bertutur:
Terlupakan! Zaman itu mengandung hikmah pelajaran.
Engkau terlelap, tapi zaman tetap tersadar.
[]


Referensi : 

  • Dr. Majid Irsan al-Kilani. 2019. Model Kebangkitan Umat Islam;Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina. Depok: Mahdara Publishing.
  • Dr. Raghib as-Sirjani. 2013. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia.Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar.
  • Dr. Tariq Suwaidan. 2015. Dari Puncak Andalusia. Cet. I. Jakarta: Penerbit Zaman.
  • G.H. Jansen. 1983. Islam Militan;sebuah uraian dan analisa yang tajam tentang konfrontasi antara Islam dengan Barat saat ini. Cet. II. Bandung: Penerbit Pustaka.
  • Mohammad Fauzil Adhim dkk. 2016. Bergiat Dakwah Merajut Ukhuwah. Yogyakarta: Pro-U Media.

No comments

Powered by Blogger.