Pejuang Dakwah Milenial
Pejuang Dakwah Milenial
Oleh: Rusnaeni
Jalan yang sangat panjang lagi sukar dan melelahkan.
Bukan jalan yang nyaman lagi mengenakkan. Jalan yang tidak menjanjikan sebuah materi karena jalan dakwah bukan jalan untuk meraih pundi-pundi rupiah melainkan pundi-pundi amal kebaikan yang akan mengantarkan pejuangnya menuju surgaNya. Karena jalan ini adalah jalan para nabi dan syuhada.
Disaat kebanyakan orang sibuk memperkaya diri, membicarakan kehidupan dunia semu yang tak lain adalah tahta, cinta dan harta. Di jalan dakwah kita disibukkan untuk mengabdi dan meraih ridhoh Allah sang pencipta.
Satu hal yang kuyakini tentang jalan ini bahwa diri belum dikatakan pejuang jika belum pernah meneteskan air mata dalam mengarungi kehidupan bersama dakwah. Sebab orang terkuat sekalipun menangis dalam menapakinya, karena berbicara tentang dakwah adalah berbicara tentang umat bukan hanya persoalan diri sendiri.
Saat kita mulai abai maka nasib umat akan semakin bercerai berai, saat kita mulai diam maka nasib umat akan semakin mencekam, karena satu hal yang pasti berdiam diri tak akan menghasilkan apa-apa.
Pejuang dakwah adalah orang-orang yang terhindar dari kelalaian memikirkan dunia yang tak lain hanyalah tempat persinggahan dan senda gurau. Hati dan pikiran mereka telah terpatri untuk menyerukan seruan Allah dan rasulNya kepada umat manusia.
Mereka adalah orang-orang terpilih yang telah menghibahkan hidup dan matinya demi tegaknya amar ma'ruf nahi mungkar di atas muka bumi.
Namun hari ini, kita diperhadapkan pada perang pemikiran (Ghazul Fikri) dimana waktu dan medan perjuangan telah berubah. Oleh karena itu, hendaklah sebagai pejuang mampu menempatkan diri dalam forum strategis sehingga tidak tergilas oleh roda zaman yang semakin canggih dan menantang.
Seorang pejuang harus mampu mengubah pola pikirnya sesuai dengan perkembangan zaman. Karena setiap zaman akan selalu mendatangkan tantangan yang berbeda. Tantangan pejuang di era 70-an sangat berbeda dengan hari ini yang kita sebut era milenial. Hari ini kita dituntut terbuka dan menerima segala perubahan yang terjadi disetiap momentumnya. Karena berdakwah kepada mereka yang terlahir di tahun dan tempat yang berbeda harusnya memiliki strategi yang sesuai dengan peradaban.
Sebab, jika itu tidak kita lakukan boleh jadi kita yang akan meninggalkan jalan dakwah, karena tidak lagi mampu untuk mengambil peran strategis yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Tetapi, ada hal yang lebih kukhawatirkan dari sekedar perang pemikiran.
Aku khawatir ketika semangat meneriakkan kalimat takbir pada saat aksi dan momentum lainnya tetapi sholat, tilawah dan amalan yaumiah lainnya tergadaikan..
Aku khawatir pada sebuah amanah yang dijalankan hanya sekedar penggugur kewajiban melaksanakan program kerja..
Aku khawatir ketika pejuang menjadikan dakwah adalah tujuannya namun enggan menghadirkan diri dalam majelis ilmu.
Aku khawatir pada diri yang mengagungkan nikmatnya berukhuwah tetapi dalam hati masih memiliki sifat dengki dan berburuk sangka kepada pejuang lain atau jamaahnya.
Aku khawatir pada diri yang mengatas namakan pejuang fii sabilillah tetapi hanya mengejar popularitas dan sanjungan dihadapan manusia. Karena itu bukanlah karakter pejuang.
Aku khawatir pada diri yang setiap hari menghabiskan waktu dengan buku-buku bacaan tetapi tidak pernah meluangkan waktunya untuk memahami terjemahan Kitabullah. Karena tujuan utama dakwah kita adalah menyerukan Al Quran.
Aku khawatir ketika pejuang semangat menentang kedzoliman yang otoriter oleh rezim penguasa tetapi diwaktu yang sama jua menikmati sistem saat ini..
Aku khawatir pada diri yang katanya sibuk memikirkan dan melayani umat tetapi mengabaikan kewajiban kepada orang tuanya.
Aku khawatir cita-cita mati syahid dan hidup mulia yang berbuah surga hanyalah khayalan semu karena tak pernah serius diperjuangkan..
Coba renungkanlah apakah pantas dan layak diri berada dalam barisan para pejuang jika rasa takut dan kemalasan masih bertumbuh dan menjalar dalam diri dan sanubari. Jika belum mampu melawan hawa nafsu yang tak berkesudahan memikirkan perkara dunia bahkan jika belum pernah kehilangan harta, keluarga dan pengorbanan lainnya seperti yang dilakukan para nabi, syuhada dan pejuang lainnya.
Pantaskanlah!!! Bukan hanya untuk dia yang belum pasti kedatangannya, karena boleh jadi kematian lebih dulu menjumpai. Tetapi, Pantaskanlah!!! Agar diri menyambut seruan ilahi yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang terpilih. Semoga dengan ini surga menantimu. Karena hari ini banyak aktivis/pejuang lebih sibuk memikirkan jodoh tetapi melupakan apa yang sepantasnya untuk diperjuangkan. Karena berbicara masa depan bukan hanya perkara jodoh. Sadarkanlah diri! Bangunlah dari khayalan, kontribusi dan kehadiranmu sedang dinanti umat. Bukan malah sibuk mengurus diri sendiri game online yang bahkan tak memiliki faedah.
Bangkitlah ! Katanya pejuang dakwah milenial tapi kok lebih banyak rebahan ketimbang bawa perubahan dalam lingkaran.
Bangkitlah ! Katanyalah pejuang dakwah milenial punya mimpi tegaknya kejayaan Islam dan keadilan di bumi pertiwi tapi kok sholat subuh tembus pagi.
Bangkitlah ! Katanya pejuang dakwah milenial punya mimpi melawan kebathilan tapi kok lail sekali sebulan, dhuhah kadang-kadang kalau lagi mood, apalagi tilawah jangankan sehari satu juz, selembar mungkin sudah cukup sekedar memberi predikat pada diri sudah istiqomah tilawah setiap hari. Bagaimana mungkin surga bisa diraih jika perjuangan melawan hawa nafsu belum full.
Bangkitlah ! Banyak manusia yang menanti perjuanganmu karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Tata diri sendiri mulai dari bangun hinggu tidur kembali, sebelum menata keluarga, masyarakat dan negara.
Terus rawat semangat juangmu jangan pernah lelah, hingga Allah katakan waktunya istrahat di pengistrahatan terakhir (Surga).

Post a Comment