FIKIH SIRAH: Kondisi Pra-Islam
FIKIH SIRAH: Kondisi Pra-Islam
Oleh: Gilang al-Qanuni
Menurut Abul Hasan Ali an-Nadwi, saat itu terjadi 'jahiliyah secara global'. Bukan hanya bangsa Arab yang rusak, apatah lagi peradaban lainnya yang justru kerusakannya lebih parah. Penguasa dan pemimpin dunia saat itu adalah dua negara adidaya, yaitu Persia dan Romawi. Di bawah keduanya, bangsa dan peradaban lain yang cukup besar di masa itu adalah Yunani dan Hindustan.
Persia telah menjadi tanah subur bagi lahir & berkembangnya aneka macam gagasan keagamaan & filsafat yang sebagian diantaranya saling bertentangan. Di sana muncul Zoroaster, keyakinan yang dianut penguasa Persia. Salah satu ajarannya adalah membolehkan pernikahan seseorang dengan ibunya, putrinya, atau saudara perempuannya sendiri. Misalnya, Yezderged II yang berkuasa dipertengahan abad ke-5 M menikahi putrinya sendiri.
Ada juga aliran Mazdakisme yang sebagaimana dikatakan Imam Asy-Syahrastani, aliran ini diantaranya menghalalkan perempuan & harta benda & menjadikan keduanya sebagai milik bersama masyarakat, sebagaimana mereka berserikat dalam memiliki air, api, dan rumput. Tentu saja aliran tersebut mendapat sambutan luar biasa dari para pengumbar nafsu. (al Milal wa an Nihal-Asy Syahrastani).
Romawi yang didominasi semangat kolonialisme, peradaban itu juga tenggelam dalam perselisihan keagamaan, yaitu penguasa Romawi di satu pihak dan kaum Kristen Suriah, serta Mesir di pihak lain. Romawi mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialismenya untuk menyebarkan & mengandalkan Kristen sekaligus mempermainkan sesuai dengan hasrat nafsu & keutamaan mereka.
Dari sisi akhlak, peradaban Romawi tidak kalah bejatnya dengan Persia. Kemaksiatan, kekejian, dan kezaliman yang merajalela di seluruh pelosok negeri disebabkan berlimpahnya pemasukan negara & berlipatgandanya setoran pajak. (Fikih Sirah-al Buthy).
Yunani, tenggelam dalam lautan takhayul dan mitos yang dituturkan dari mulut ke mulut. Kecenderungan itu mematikan potensi besar bangsa itu & tidak membuahkan hasil yang bermanfaat.
Hindustan, para penulis sejarah Hindustan sepakat bahwa fase terendah negera itu dari sisi keagamaan, moral, dan sosial ada di zaman itu. Kemunduran peradaban itu bermula dari awal abad ke-6 M. Hindustan & negara-negara kecil di sekitarnya tenggelam dalam kemerosotan moral dan sosial. (Madza khasira al alam bi inhithath al Muslimin-Abul hasan ali an nadwi).
Kehidupan masyarakat India stagnan dan jumud. Struktur masyarakatnya dibedakan oleh kelas. Mereka juga membedakan antara keluarga yang memiliki aib & yang bersih dari aib. Kaum laki-lakinya tidak diperbolehkan menikahi para janda. Kemudian dalam hal makanan & minuman mereka membatasi diri dengan sangat radikal. Adapun nasib anak-anak hasil perzinahan, mereka hidup miskin & diasingkan dari komunitas mereka & dari kota mereka. (Sirah Nabawiyah-Abul Hasan an Nadwi).
Bangsa arab secara milieu adalah bangsa yang langka dan sangat mulia dibanding bangsa-bangsa lainnya seperti Persia, Romawi, India (hindustan) dan Yunani. Tapi mengapa Allah Swt. tidak memilih Rasulullah dari kalangan bangsa Persia yang katanya kaya dengan ilmu pengetahuan atau dari bangsa Hindu yang katanya terkenal dengan kehebatan ilmu filsafatnya, atau dari bangsa Romawi yang terkenal dengan dengan artistiknya, atau Yunani yang terkenal dengan sastra dan daya imajinasinya tinggi? Akan tetapi Allah justru memilih Rasulullah Saw dari masyarakat yang peradabannya masih baru seumur jagung. Alasannya adalah karena bangsa-bangsa lain selain Arab biarpun memiliki peradaban tinggi dan kaya ilmu pengetahuan, namun mereka tidak memiliki sesuatu seperti yang dimiliki bangsa Arab; fitrah bangsa Arab yang bersih, cinta kebebasan dan jiwanya yang mulia. (Nazharat fi as-sirah-Hasan al-Banna).
ADAPUN INSPIRASI YANG BISA DIPETIK:
- Islam membutuhkan sebuah lingkungan (demografis) yang kosong dari pemikiran filsafat. Masyarakat Arab, adalah masyarakat yang tidak mempunyai kemampuan militer yang sistematis. Sistem sosial-politik Arab cukup sederhana. (Inspirasi Nabi-Muhammad Elvandi).
- Letak geografis Jazirah Arab memudahkan kawasan ini untuk memikul beban dakwah seperti ini, karena terletak di titik tengah bangsa-bangsa lain. Ini merupakan salah satu faktor yang menjadikan penyebaran dakwah Islam bisa mencapai seluruh bangsa dan negara-negara yang mengelilinginya dengan mudah. (Fikih Sirah-al Buthy).
- Rasul Saw. Diutus ke Makkah, ibu kota tanah Arab. Agar menjadi pusat dakwah yang menyampaikan risalah ke seluruh pelosok sehingga tidak ada lagi hujjah dan alasan di dalamnya bagi siapapun. (Sirah Fi Zhilalil Qur’an-Sayyid Quthb).
- Kebijaksaan Allah Swt. menetapkan Rasulullah Saw. tuna aksara, tidak bisa membaca buku & menulis, sebagaimana difirmankan Allah Swt. yaitu agar manusia tidak meragukan kenabiannya dan agar mereka tidak punya banyak alasan untuk meragukan kebenaran dakwahnya. Dan memilih bahasa Arab agar menjadi bahasa dakwah Islam. Bahwa bahasa Arab jauh lebih istimewa daripada bahasa-bahasa lain. (Fikih Sirah-al Buthy).

Post a Comment