Bukan Tuhannya Para Filosof dan Ilmuwan
Bukan Tuhannya Para Filosof dan Ilmuwan
Oleh: Gilang al-Qanuni
Dalam agama Islam, keimanan dimulai ketika seseorang itu telah mengucapkan syahadat, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Akan tetapi, pernyataan syahadat ini selalu dipertanyakan oleh orang-orang yang ateis. Kata mereka, “Orang-orang Islam itu dibohong-bohongi. Mereka mengatakan ‘bersaksi’, padahal tidak jelas kapan mereka melihat Allah dan Muhammad.” Menurut mereka itu hanyalah tafsiran manusia yang sifatnya relatif. Mengingat iman itu mengandung makna keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan, dan yang terpenting adalah pengamalan dengan anggota tubuh, alias dengan perbuatan. Pengertian iman yang lebih tinggi adalah cinta. Beriman artinya mencintai. Maka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti mencintai Allah dan Rasul-Nya. Meskipun itu tidak mampu dibuktikan dengan wujud, karena berislam juga harus dengan mata hati.
Umar bin Khattab berkata, “Seandainya ada seekor kambing tergelincir dan mati di jalanan Irak, kelak kalian pasti akan melihatku dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Aku pasti akan ditanyai, ‘Mengapa engkau tidak membuatkan untuk kambing itu jalan yang bagus, Umar?” Seandainya kita telah mencapai derajat iman yang paling rendah, yaitu menyingkirkan gangguan dari jalanan. Maka ini pun sudah sangat dahsyat. Tidak akan ada lagi kekacauan lalu lintas; saling serobot lampu merah, parkir sembarangan, jalanan berlubang yang memakan banyak korban jiwa, dan seterusnya. Ternyata, dana ratusan milyar atau bahkan triliyunan untuk menciptakan kenyamanan perjalanan. Masih belum memastikan bahwa kita semua, rakyat dan pemerintah telah mencapai derajat terendah dari iman itu.
Imam al-Hulaimi menulis kitab al-Minhaj fi Syu’abil Iman, menghitung ada sekitar 77 cabang iman. Sebagian dari cabang-cabang iman itu masih mencantumkan rukun Islam berupa shalat, zakat, puasa, dan haji. Ini berarti Islam dan Iman itu tidak bisa dipisahkan.

- Hamid Fahmy Zarkasyi. 2020. Minhaj:Berislam, dari Ritual hingga Intelektual. Jakarta: INSISTS. Hamid Fahmy Zarkasyi. 2012. Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam. Jakarta: INSISTS-MIUMI
- Abdul Mutaqin. 2013. Kyai Kocak VS Liberal. Cet.I .Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar.
Post a Comment