Pendidikan Adab, Melahirkan Generasi Gemilang
Oleh: Gilang al-Qanuni
Umar bin Khattab berkata, “Beradablah kemudian berilmu.” Inilah konsep pendidikan Islam yang berlaku sepanjang zaman. Apatah lagi melahirkan generasi terbaik; generasi sahabat Nabi Saw, generasi Shalahuddin al-Ayyubi, generasi Sultan Muhammad al-Fatih, dan bahkan generasi 1945 dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Toh, mereka tidak muncul begitu saja, tetapi dimunculkan dari pendidikan para ulama sebagai guru sekaligus pemimpin. Inilah kunci kebangkitan suatu bangsa, yang menurut Ibnu Khaldun sebagai subtansi peradaban. Maju mundurnya suatu peradaban itu berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan.
Prof. Syed Muhammad Naquid al-Attas menjelaskan bahwa salah satu masalah yang dihadapi oleh umat dewasa ini adalah masalah eksternal, berupa serbuan pemikiran-pemikiran yang merusak. Tetapi, menurutnya ada masalah internal yang lebih mendasar lagi, yang harus dipahami dan disadari, agar umat dapat memberikan solusi bagi problematika tersebut. Masalah internal yang mendasar bagi umat adalah ‘loss of adab’ atau hilangnya adab/disiplin. Hilangnya disiplin badan, pemikiran, dan jiwa. Seorang beradab menurutnya adalah orang yang memahami dan mengakui posisinya yang tepat dengan dirinya sendiri, dengan masyarakat, dan dengan komunitasnya. Ia juga memahami dan menyikapi dengan betul potensi-potensi fisik, intelektual dan spiritual. Karena tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencetak atau menghasilkan manusia seutuhnya (insan kamil). Artinya, manusia yang memiliki keseimbangan antara kedewasaan intelektual, spiritual, dan moral. Dalam bahasa agamanya, keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal.
Hatta, efek buruk dari fenomena ‘loss of adab’ ini adalah terjadinya kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahun yang selanjutnya menciptakan ketiadaan adab dari masyarakat. Yang pada akhirnya, menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, adalah ditandai dengan lahirnya para pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur, dan kapasitas intelektual dan spiritual yang mencukupi, sehingga semua akan membawa kerusakan di pelbagai sektor kehidupan; baik kerusakan individu, masyarakat, bangsa, dan negara.
Mugkin saja, kita pernah bertanya-tanya. Mengapa bidang pendidikan yang menjadi sasaran untuk dirusak? Bukan dalam bidang ekonomi? Kesehatan? Pertanian? Militer? Dan sebagainya. Menurut Syekh Muhammad Qutbh, pakar pendidikan Islam. Puncak ilmu Zionis (Yahudi) itu ada di dua ilmu; pendidikan dan psikologi. Karena ilmu inilah yang menghasilkan manusia. Pendidikan berhubungan dengan kecerdasan (cara berpikir) manusia. Dan psikologi berhubungan dengan jiwa manusia. Karena unsur yang terpenting dari suatu peradaban adalah manusia. “Saya berpendirian bahwa Islam sebagai peradaban bangkit dan maju menguasai dunia, karena ilmu. Dan saya yakin bahwa penyebab kemunduran Umat Islam saat ini adalah juga karena kemiskinan ilmu. Tidak berarti kita tidak berpendidikan. Tapi, pendidikan yang kita terima bukan pendidikan Islam. Begitu kata Hamid Fahmy Zarkasyi, wakil rektor I UNIDA Gontor.
Menurut G.H. Jansen, dalam buku Islam militan; sebuah uraian dan analisa yang tajam tentang konfrontasi antara Islam dengan Barat saat ini. Sebelum Eropa keluar menjajah, Inggris dan Prancis melakukan penelitian dari Samudra Atlantik sampai Samudra Hindia. Tujuannya untuk mengetahui sebenarnya apa kunci kekuatan kaum Muslimin itu; mereka hebat-hebat, cerdas-cerdas, kuat-kuat, kokoh-kokoh, dan ternyata ada pada pola pendidikan dari kecil (Khuttab). Pola pendidikan dasar ini, anak-anak diajari pendidikan paling dasar tentang al-Qur’an dan bahasa Arab. Saat ini medan perang sesungguhnya bagi Islam, adalah bangku sekolah. Setelah dijajah, pendidikan al-Qur’an dan bahasa Arab dijauhkan dari generasinya. Sehingga tidak heran, ketika Syekh Syakib Arsalan ditanya, “Mengapa Umat Islam mundur dan bangsa lain maju? Apa yang menyebabkan kemajuan bangsa Eropa, Amerika, dan Jepang? Apa dimungkinkan bagi kaum Muslimin, untuk maju dan pada saat yang sama tetap teguh memegang agama mereka?” Beliau menjawab, “Bahwa bangsa lain maju karena meninggalkan agama mereka dan Umat Islam mundur karena meninggalkan agama mereka.” Kedua faktor yang didukung oleh kenyataan bahwa: 1). Semangat umat Islam dalam berkorban sangat rendah. 2). Amal-amal sosial-politik dirusak oleh pengkhianatan para pemimpin umat. Akibatnya, perjuangan umat Islam dalam menghadapi penjajah selalu gagal. Keduanya, tidak lain dan tidak bukan karena lemahnya iman.
Pembaca yang budiman, sistem pendidikan hari ini yang katanya ideal itu justru hanya melahirkan para koruptor, perampok, pezina dan sebagainya. Padahal kita punya sistem pendidikan yang telah terbukti melahirkan generasi gemilang.
Ibn al-Mubarak berkata;
“Mempunyai adab meskipun sedikit lebih kami butuhkan daripada banyak ilmu pengetahuan.”
Hubaib ibn Syahid memberikan nasihat kepada putranya;
“Hai anakku, bergaullah (ikuti dan temani terus) dengan para ahli fiqih dan ulama, belajar dari mereka, dan ambil adab (pendidikan dan akhlak) dari mereka! Karena hal itu lebih aku sukai daripada hanya sekedar memperbanyak hadist.”
Hasyim Asy’ari dalam karyanya, Adab al-Alim wa al-Muta’allim merumuskan kaidah penting akan urgensinya ilmu dan adab;
“Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa yang tidak beriman, ia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, ia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adab; maka barangsiapa yang tidak beradab, (pada hakikatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.”
Pentingnya ilmu dan adab dalam tradisi intelektual Islam ini, telah mendorong perhatian banyak ulama salaf untuk melahirkan banyak karya abadi tentang ilmu dan adab. Dari kajian para ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa adab memiliki perang sentral dalam dunia pendidikan. Tanpa adab, dunia pendidikan berjalan tanpa ruh dan makna.
Selanjutnya, marilah kita biarkan ulama kita berkata, “Wahai putraku, jadikanlah ilmumu seperti garam, dan adabmu sebagai tepung.” Tutur Ruwaim kepada putranya. []
Referensi:
- Dr. Majid Irsan al-Kilani. 2019. Model Kebangkitan Umat Islam;Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina. Depok: Mahdara Publishing.
- Dr. Adian Husaini. 2015. Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab. Surabaya: Bina Qalam Indonesia.
- Dr. Adian Husaini et. al. 2013. Filsafat Ilmu; Perspektif Barat dan Islam. Depok: Gema Insani.
- G.H. Jansen. 1983. Islam Militan;sebuah uraian dan analisa yang tajam tentang konfrontasi antara Islam dengan Barat saat ini. Cet. II. Bandung: Penerbit Pustaka.
- Hamid Fahmy Zarkasyi. 2020. Minhaj:Berislam, dari Ritual hingga Intelektual. Jakarta: INSISTS. Hamid Fahmy Zarkasyi. 2012. Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam. Jakarta: INSISTS-MIUMI.

Post a Comment