Header Ads

TOLERANSI, SUMBANGAN PERADABAN ISLAM UNTUK DUNIA


Seorang ilmuan besar Eropa berkata, "Kalau Muslimin berinteraksi dengan cara Eropa, seperti Eropa berinteraksi di akhir kepemimpinan Andalusia. Maka tidak ada Yahudi, Nasrani yang tersisa ketika kaum Muslimin berkuasa." Sebab ketika Islam masuk di Syria, orang-orang Kristen yang merasa selamat dari Romawi dan Yunani. Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui “Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari Selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi”. 

Ketika pasukan Muslim dibawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, pendukuk Kristen setempat menulis surat kepadanya. Yang isinya “Kami lebih bersimpati kepada suadara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami. Pemerintah Islam lebih adil daripada pemerintah Byzantium”. Seorang specialist sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul The Ornament of the World (2003) berterus terang. Ia menulis "Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non-Muslim lebih baik daripada dibawah Kristen Eropa”. Tapi berakhirnya kekuasaan Islam, berakhir pula toleransi itu. 

Syahdan, Rasulullah Saw. mengenang kembali ketika ia memasuki Kota Mekkah. Beliau menundukkan kepala hingga janggutnya menyentuh pusar dan air matanya berderai. Beliau terus bertasbih dan menyebut nama Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Sampai ketika berdiri di hadapan seluruh kaum Quraisy yang tertunduk kalah, beliau berkata, "Bubarlah! Kalian semua bebas." Beliau tidak menahan seorang pun, apalagi membantai musuh, atau bahkan sekedar menodai kehormatannya. 

Teringat juga ketika Umar bin Khattab berhasil membebaskan Syam. Beliau menolak menunggangi kuda kebesaran dan memakai baju mewah yang diberikan kaum Muslimin, yang turut dalam pembebasan sebagai upaya mengimbangi gaya hidup penduduk setempat. Umar lebih memilih mengenakan baju lusuhnya yang tampak penuh dengan tambalan itu. Ia memasuki kota al-Quds dengan berjalan kaki sedang pelayannya naik kendaraan. 

Dan terulang kembali, ketika Shalahuddin al-Ayyubi berhasil membebaskan kota al-Quds, dari tangan pasukan yang ketika dahulu kuda-kuda mereka berjalan di atas kubangan darah orang-orang shaleh, para ulama, pencari ilmu, dan ahli ibadah yang menetap di kota suci itu.

Kemudian, marilah kita mengenang kembali, ketika Muhammad al-Fatih membebaskan Konstantinopel, seluruh masyarakat konstantinopel ketakutan, para pendeta dalam gereja Hagia Shopia pun gemetar, bahwa mereka semua akan dibantai. Tapi apa kata Muhammad al-Fatih, "Kalian tidak akan disakiti. Silahkan! Yang mau tinggal di negeri ini, tinggallah dengan aman. Yang mau pergi, kami akan mengantarkannya sampai ke negeri tujuannya dengan aman."

Pembaca yang budiman, di Indonesia, Islam masuk tanpa peperangan. Islam masuk dan diterima oleh masyarakat yang memiliki kepercayaan Hindu yang kuat. Namun karena kekuatan konsepnya, Islam mudah merasuk ke dalam pandangan hidup masyarakat nusantara waktu itu, maka dalam kehidupan secara menyeluruh. Ini bukti bahwa Islam tersebar bukan melulu karena pedang. Islam tersebar, menguasai dan menyelamatkan (mengislamkan)  masyarakat di kawasan-kawasan yang didudukinya. Daerah-daerah  yang dikuasai atau diselamatkan umat Islam justru menjadi kaya dan makmur. Itulah watak peradaban Islam yang sangat berbeda dengan peradaban Barat yang eksploitatif. 

Bahkan  non Muslim yang berada di bawah pemerintahan Islam, akan mendapat perlindungan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Ingatlah, siapa yang mendzalimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’).

Tanyalah sejarah, apakah yang terjadi ketika mereka berkuasa? 

Ketika Muslim berada di bawah kekuasaan non Muslim, hasilnya lebih sering berupa pengusiran massal dan bentuk awal pembersihan etnis. Pengalaman Muslim di Spanyol setelah keruntuhan Granada pada tahun 1492 merupakan contoh yang tepat. Dan memuncak pada deret 1609 yang mengusir sisa-sisa terakhir orang Muslim yang menyembunyikan diri (sebutan untuk orang Morisco) ke Afrika Utara. Orang Yahudi lebih buruk nasibnya. Mereka diberi waktu empat bulan untuk meninggalkan Spanyol setelah runtuhnya Granada. Jumlah total orang Muslim yang diusir selama periode tersebut mencapai dua juta. Jumlah orang Yahudi sekitar 100.000.

Banyak Muslim yang digiring ke hadapan Dewan Inkuisisi untuk kemudian dikristenkan. Dewan Inkuisisi semakin rajin mencari dan menyelediki siapa yang Muslim, atau mirip Muslim, atau kaitan apa pun dengan Islam untuk kemudian dimusnahkan dan dibinasakan! Pembakaran, pembunuhan, pemenjaraan, dan pengusiran adalah cara Dewan Inkuisisi untuk mengeluarkan orang-orang dari akidahnya. Bersamaan dengan itu, keyakinan atau keimanan  yang tersembunyi di dada kaum Muslim menjadi sesuatu yang terlarang. Hal sekecil apapun yang mengindikasikan itu akan diganjar hukuman mati. Betapa mudahnya! Padahal gunung-gunung  kokoh pun takkan sanggup memikul derita ini!

"Betapa mengerikan pemandangan yang aku lihat. Aku pun langsung berharap buta supaya tidak melihatnya." Begitu kata orang-orang yang mengalami dan menyaksikannya langsung.

Dus, penaklukan-penaklukan yang dilakukan kaum Muslimin untuk memuluskan cahaya Allah menembus jiwa manusia. Adalah penaklukan hati sebelum penaklukan jasad. Penaklukan hati (fath al-nufus), mereka melihat keseharian kaum Muslimin, kesenangan dan kesedihannya, keseriusan dan senda guraunya, interaksi dan ibadahnya. Sehingga berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah berkat ketulusan kaum penakluk. Ia menunjukkan itu, karena ajaran-ajaran Islam dan kecintaannya untuk menunjukkan hidayah kebenaran kepada orang lain. Indonesia misalnya negara yang ditaklukkan bukan dengan senjata/perang, melainkan dengan kemuliaan dan ketulusan orang-orang yang memperlihatkan wajah islam yang sesungguhnya. Karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. []


Referensi :
  • Ali A. Allawi. 2009. Krisis Peradaban Islam: Antara Kebangkitan dan Keruntuhan Total. Bandung: Penerbit Mizan. 
  • Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. 2010. Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya.Cet. I. Jawa Timur: CIOS. 
  • Dr. Majid Irsan al-Kilani. 2019. Model Kebangkitan Umat Islam; Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina. Depok: Mahdara Publishing.
  • Dr. Tariq Suwaidan. 2015. Dari Puncak Andalusia. Cet. I. Jakarta: Penerbit Zaman.
  • Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi. 2012. Sejarah Lengkap Rasulullah. Cet. I. Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar. 

No comments

Powered by Blogger.