Header Ads

FIKIH SIRAH: PERISTIWA PENTING SEBELUM KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW




FIKIH SIRAH: PERISTIWA PENTING SEBELUM KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW

Oleh: Gilang al-Qanuni

Kisah tentang penggalian sumur zam-zam oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw. 

Syahdan, Abdul Muthalib berkata, “Aku tertidur di atas sebongkah batu, tiba-tiba ada orang yang mendatangiku dan berkata, ‘Galilah Thayyibah’, aku pun balik bertanya, “Apa maksud Thayyibah?” Dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah pergi menjauh dariku.”

Kejadian itu terjadi beberapa kali dengan perintah yang berbeda, sampai pada suatu hari, dia kembali mendatangi Abdul Muthalib sembari berkata, “Galilah Zamzam!” aku bertanya, “Apa itu Zamzam?” kali ini ia menjawab, “Ia tidak akan kering dan tidak  akan dicela. Memberi minum jamaah haji yang jumlahnya banyak. Ia berada di antara kotoran dan darah yang terletak di tempat di mana burung gagak mematuk-matuknya, tempat di mana terdapat sarang semut.”

Abdul Muthalib tahu tempat yang dimaksud, maka ia segera ke sana dan ternyata benar. Dia kembali ke sana keesokan harinya bersama putranya, al-Harits bin Abdul Muthalib dengan membawa kampak. Setelah beberapa saat menggali, mereka menemukan sumur  seraya bertakbir.  Seketika itu juga penduduk Quraisy datang sembari berkata, “Wahai Abdul Muthalib, kami juga punya hak atas sumur ini. Ia adalah sumur ayah kita, Ismail. Dengan demikian kami pun berserikat denganmu dalam memanfaatkan sumur itu.” jawab Abdul Muthalib, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa, sesungguhnya sumur itu hanya aku yang menemukannya, bukan kalian, dan aku akan memberikan air yang kalian minta tapi tidak untuk memiliki sumur itu.”

“Kami akan melakukan sesuatu yang menurut kami adil. Sesungguhnya kami tidak rela meninggalkanmu hingga kami berniat menggugat kamu dalam masalah sumur tersebut.” kata mereka kepada Abdul Muthalib. “Pilihlah salah seorang di antara aku dan kalian setuju untuk memutuskan masalah ini.” jawab Abdul Muthalib. “Kami memilih seorang peramal dari Bani Sa’ad bin Hudzaim.” jawab mereka. “Ya aku setuju, dia orang terpandang di negeri Syam.” jawab Abdul Muthalib. 

Lalu mereka berangkat menuju Syam, saat itu kondisi gurun pasir sangat menyengat, sehingga membuat perbekalan air mereka menipis. Dan mereka yakin akan binasa karena kehausan. Kemudian Abdul Muthalib berkata, “Aku berpendapat, hendaklah setiap orang dari kalian menggali untuk dirinya sendiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Maka jika ia mati, teman-temannya yang lain tinggal mendorongnya ke lubang yang telah ia gali, dan menguburnya. Sampai akhirnya yang tersisa hanya satu orang. Maka sesungguhnya membinasakan satu orang itu lebih ringan dibandingkan membinasakan sekelompok orang.” mereka kemudian berkata, “Benar sekali apa yang engkau perintahkan.”

Setelah selesai, mereka duduk, menunggu mati kehausan. Abdul Muthalib kemudian berkata kepada teman-temannya, “Demi Allah, sesungguhnya kita tidak bisa berbuat apa-apa karena kita semua lemah. Semoga Allah menganugerahkan rezeki berupa mata air kepada kami di beberapa negeri yang tersebar di muka bumi ini.” maka pergilah kalian semua. “Mereka pun akhirnya pergi, ketika Abdul Muthalib beranjak menuju kendaraannya, tiba-tiba memancar air tawar dari celah lubang-lubang  yang telah mereka gali. Mereka pun bertakbir, dan meminum darinya. Mereka semua minum hingga hilang dahaga mereka. Lalu mereka berkata, “Sungguh, Allah telah menetapkan sesuatu kepada kami melalui engkau. Demi Allah kami selamanya tidak akan menggugatmu dalam masalah air Zamzam.” Kemudian mereka pulang dan membatalkan niat pergi ke peramal di negeri Syam dan membiarkan sumur Zamzam menjadi milik Abdul Muthalib. 

Kisah Pasukan Bergajah

Syahdan, ketika itu ada seorang raja Yaman yang bisa menundukkan seekor gajah. Raja Yaman itu berasal dari Habasyah (Ethiopia) yang bernama Abrahah. Dia berniat ingin memindahkan ritual haji yang biasa dilakukan orang-orang Arab dahulu ke Yaman. Oleh karena itu ia bersumpah ingin menghancurkan Ka’bah. 

Suatu hari ada seorang raja Himyar bernama Dzu Nafar. Ia berusaha untuk menyerang Abrahah, namun gagal, dan Abrahah berhasil menangkap raja Himyar tersebut dan membiarkannya tetap hidup. Setelah itu, Abrahah melanjutkan perjalanannya untuk menghancurkan Ka’bah lalu kembali dihadang oleh seseorang yang bernama an-Nufail bin Habis al-Khats’ami dan beberapa orang dari kabilah Yaman. Namun Abrahah mampu mengalahkannya beserta pasukannya. Lalu an-Nufail berkata, “Wahai raja, sesungguhnya aku tahu mengenai tanah Arab, maka janganlah engkau membunuhku. Aku ulurkan  kedua tanganku bersama para pengikutku dan kami akan tunduk di bawah kekuasaanmu.” 
Akhirnya Abrahah pun membiarkan an-Nufail hidup dan menjadi penunjuk jalan menuju ka'bah berada. 

Tatkala rombongan Abrahah sampai di Thaif, Mas’ud bin Mu’attab bersama para pembesar penduduk Tsaqif  keluar untuk menemui Abrahah sembari berkata, “Wahai sang raja, kami adalah budakmu  dan kami mengetahui kehebatanmu. Kami tidak akan menghalangimu untuk menghancurkan Ka’bah di Makkah. Oleh karena itu, kami berniat mengutus seseorang yang akan menunjukkan jalanmu ke sana, yang bernama Abu Righal." Kemudian mereka berangkat, tetapi ketika rombongan sampai di Mughammas,  Abu Righal meninggal dan akhirnya dikubur di situ. 

Abrahah kemudian mengutus salah seorang penduduk Mughammas yang bernama al-Aswad bin Maqshud menuju Mekkah. Kedatangan Aswad disambut oleh penduduk Makkah. Mereka kemudian bernegosiasi, hingga akhirnya Abdul Muthalib harus kehilangan 200 ekor unta miliknya yang berada di daerah Arik. 
Kemudian Abrahah kembali mengutus Hunathah al-Himyari ke Mekkah dengan membawa pesan, “Tanyakan pada penduduk Makkah dan sampaikan padanya jika kedatanganmu ke Makkah bukan untuk berperang. Aku datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah.” Hunathah pun pergi, setelah sampai di Makkah, dia bertemu Abdul Muthalib dan menyampaikan pesan Abrahah. “Kami tidak akan berperang dengan Abrahah, kami membiarkan dia melakukan apa pun kepada Ka’bah. Urusan dia dengan Ka’bah, kami pasrahkan semuanya kepada Allah. Sungguh demi Allah kami tidak memiliki daya untuk mencegahnya.” jawab Abdul Muthalib. 

Kemudian mereka pergi menemui Abrahah, setelah sampai di tendanya Abrahah, Abdul Muthalib berkata padanya, “Wahai sang raja, engkau telah mengambil harta bendaku yang banyak, karena itu aku memohon agar engkau mengembalikannya lagi kepadaku.” kemudian Abrahah berkata, “Sungguh aku kagum padamu saat aku melihatmu, namun sungguh aku berpaling darimu.” Abdul Muthalib menjawab, “Mengapa demikian?” Abrahah menjawab, “Aku datang untuk mengambil Ka'bah dan ia adalah agamamu dan agama nenek moyangmu. Ia adalah benteng dan kekuatan kalian. Lalu aku berniat untuk menghancurkannya, tapi kamu malah membicarakan perihal 200 untamu.” Abdul Muthalib menjawab, “Aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan menjaganya.” dengan nada sombong Abrahah menjawab, “Tidak ada yang bisa mencegah keinginanku.” Abdul Muthalib berkata, “Silahkan itu urusanmu dengan pemilik Ka'bah.” 

Lalu Abrahah memerintahkan bawahannya untuk mengembalikan 200 ekor unta milik Abdul Muthalib. Kemudian setelah dia mendapatkan kembali untanya, maka ia pun pergi mengabarkan kepada penduduk Quraisy dan menyarankan agar mereka mengungsi ke daerah perbukitan. Sedangkan Abrahah telah menyiapkan bala tentaranya untuk memasuki Kota Makkah. 

Dia mendekati seekor gajah yang menjadi kendaraannya. Dengan angkuhnya dia berdiri di atas gajah. Tapi manakala dia menggerakkan gajahnya, tiba-tiba gajah tersebut tidak mau beranjak seakan-akan kakinya terikat dan berlutut. Tak lama kemudian dari arah laut tiba-tiba datang burung-burung dan setiap ekor burung membawa tiga batu. Dua batu di kakinya dan satu batu lagi di paruhnya. Laksana membawa kacang dan adas, burung-burung tersebut beterbangan di langit menuju Abrahah dan tentaranya. Batu-batu yang dibawa  burung tersebut dihujamkan ke bawah manakala ia melintas di kepala Abrahah dan bala tentaranya. Sesiapa saja yang terkena batu tersebut pasti akan hancur binasa. 

Bala tentara Abrahah berjatuhan terkena batu itu. Abrahah yang berusaha menghindari diri dari batu tersebut sempat mengenai jari-jarinya, sehingga menimbulkan borok dan rontok satu persatu. Dari jari-jarinya keluar darah dan nanah. Abrahah pulang ke Yaman dan menderita sakit yang teramat parah. Abrahah tak ubahnya seperti tengkorak burung dan akhirnya Abrahah pun mati. 

INSPIRASI  YANG BISA DIPETIK:

  1. Menjelaskan tentang mulianya Ka'bah. Ia adalah rumah yang pertama kali dibangun untuk manusia. Kala itu, betapa kaum musyik Arab mengagungkan & menyucikannya. Mereka tidak mau menukarkan apa pun dengannya. Kemuliaan Ka'bah ini merupakan bagian dari warisan ajaran Nabi Ibrahim as. & Ismail as. (as Sirah an Nabawiyah-Ali Muhammad Ash Shallabi).
  2. Irinya orang-orang Nasrani & kedengkian mereka terhadap Kota Makkah. Orang-orang Arab yang mengagungkan rumah suci ini. Oleh karena itu, Abrahah berniat memalingkan mereka dari pengagungan terhadap Ka'bah dengan cara membangun tandingan berupa Gereja besar bernama al-Qulais. (as Sirah an Nabawiyah-Ali Muhammad Ash Shallabi)
  3. Pertempuran antara Allah Swt. & musuh-musuh-Nya. Hal ini terlihat dari perkataan Abdul Muthalib, pemimpin Makkah, "Kami akan membiarkan urusan Abrahah dengan Ka'bah, kami pasrahkan semua itu kepada Allah Swt. Sungguh kami tidak mempunyai daya apapun atas Baitullah."Perkataan ini merupakan pengakuan mendalam atas hakikat peperangan yang terjadi antara Allah Swt. dan musuh-musuh-Nya. Sebesar apapun kekuatan musuh, namun sedikit pun tak akan mampu melawan kekuasaan Allah Swt. (as Sirah an Nabawiyah-Abu Faris)
  4. Kisah tentara bergajah memuat sinyalemen kenabian. Al-mawardi berkata, "Tanda-tanda keagungan Allah Swt. sangatlah jelas bukti-bukti kenabian sangatlah nyata. Bukti tersebut di awali dengan beberapa peristiwa yang tidak dipungkiri kebenarannya & bukan hanya sekedar anggapan. Bukti kenabian terkait dengan peristiwa serangan tentara bergajah terhadap Ka'bah adalah bahwa pada saat itu Muhammad Saw. sudah ada dalam kandungan ibunya di Makkah. Beliau lahir 50 hari setelah peristiwa penyerangan tentara bergajah & setelah kematian ayahnya, pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal.
    Bukti kenabian terkait peristiwa ini dapat dilihat dari 2 segi: 
    Pertama;
    bisa dibayangkan bahwa jika Abrahah & bala tentaranya berhasil menaklukkan Kota Makkah, pasti mereka akan menjadikan penduduk Kota Makkah  sebagai tawanan & budak. Oleh karena itu, Allah membinasakan mereka demi melindungi Rasulullah Saw. baik ketika beliau sudah lahir maupun di dalam kandungan. Kedua; penduduk Quraisy tidak memiliki ajaran ketuhanan yang memotivasi mereka untuk mengusir tentara bergajah. Mereka juga bukan ahli kitab, karena mereka adalah para penyembah berhala, beraliran pagan, atau mungkin tak beragama & murtad. Akan tetapi ketika Allah berkehendak untuk menampakkan Islam melalui pengagungan terhadap Ka'bah & kenabian. Manakala apa yang Allah telah lakukan terhadap tentara bergajah tersebar di kalangan masyarakat Arab, maka penduduk Quraisy akan semakin mengagungkan Ka'bah & memuliakannya." (A'lam an Nubuwwah-al Mawardi).
  5. Allah tidak menakdirkan Ahlul kitab – Abrahah dan pasukannya – dapat menghancurkan Baitul Haram atau menguasai tanah suci, bahkan meski kesyirikan telah menodainya, dan kaum Musyirikin para penjaga serta pelayannya. Itu agar rumah ini tetap merdeka dari kekuasaan para penjajah dan terlindung dari makar para pembuat makar. Agar kebebasan negeri ini tetap terjaga hingga akidah yang baru dapat tumbuh di sana dengan sebebas-bebasnya, tanpa dikuasai oleh sebuah kekuasaan, tidak diinjak oleh thagut. Agar agama baru yang datang untuk mendominasi agama-agama lama itu beserta para hamba ini, serta untuk menuntun manusia bukan dituntun. Ini adalah pengaturan Allah terhadap agama dan rumahnya sebelum ada seseorang pun mengetahui bahwa Nabi agama ini telah dilahirkan pada tahun ini. (Sirah fi Zhilalil Qur’an-Sayyid Qutbh). 
  6. Hancurnya tentara bergajah menjadi catatan sejarah tersendiri bagi orang-orang Arab. Mereka menganggap peristiwa tersebut sangat fenomenal, sehingga mereka tidak mau melewatkannya. Mereka berkata, "Peristiwa ini terjadi pada Tahun Gajah bertepatan dengan lahirnya seorang anak pada tahun 570 M. (as Sirah an Nabawiyah-Abul Hasan an Nadwi).   []

No comments

Powered by Blogger.