Header Ads

FRIKSI POLITIK PARA SAHABAT #3


FRIKSI POLITIK PARA SAHABAT #3
Oleh: Gilang al-Qanuni


Subuh ini, semilir angin berhembus menusuk sampai ke persendian. Rembulan belum beranjak dari singasananya. Sinarnya, membuat siapa saja yang memandangnya akan takjub olehnya. Kota Iraq masih sunyi dari aktifitas manusia. Tapi berbeda dengan lelaki ini, berjalan menembus kegelapan dan dinginnya Fajar. Ia sudah berumur, perawakannya sedang, wajahnya bundar seperti rembulan, kedua bahunya lebar. Meskipun sudah berumur tapi kedua tangannya tampak masih berotot.

Seperti biasa, lelaki ini melewati jalan-jalan kota, menuju masjid untuk melaksanakan shalat Fajar. Sambil berteriak dengan suara yang lantang, "Ash-Shalah, ayyuhannas ash-Shalah, yarhamukumullah." (Bangunlah wahai kaum Muslimin, marilah kita shalat. Semoga Allah memberi kalian rahmat). 

Di suatu tempat beberapa orang mengendap-endap di kegelapan, melawan dinginnya fajar yang seakan tidak menghalangi niat mereka. 
Tidak seperti raja pada umumnya, lelaki tua ini tidak mempunyai pengawal, sehingga mudah saja bagi mereka yang berniat jahat untuk menyingkirkannya. 

Teringat juga, sehari sebelum dijemput menghadap Khaliqnya, melalui sepucuk surat ia berpesan kepada penduduk Kufah, yang dibacakan setelah shalat Jumat oleh salah seorang sahabatnya di hadapan umat; 

"Amma ba'du, sungguh, demi Allah, saya ingin agar saat ini hendaknya Allah mengeluarkan saya dari lingkungan kalian, dan nyawa saya diambil dengan rahmat-Nya dari sisi kalian. Dan sungguh saya ingin tidak melihat dan mengenal kalian. 

Demi Allah, kalian telah membuat dada saya penuh kemasygulan, dan menyumbat nafas saya dengan kepahitan serta merusak buah pikiran saya dengan kedurhakaan. Bahkan Karena ulah kalian, orang-orang Quraisy mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah seorang pemberani, namun tidak mengerti apa-apa tentang perang. Akan tetapi, memang tidak ada artinya pendapat seseorang yang tidak ditaati."

Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib menemui Khaliqnya, karena tebasan pedang beracun, pedang itu tepat mengenai di bagian kepala, darah mengucur deras hingga membasahi jenggotnya. 

Beberapa saat kemudian datanglah orang-orang dan membawa Amirul Mukminin ke rumahnya, dalam keadaan yang sangat membutuhkan banyak perhatian, justru menyuruh orang-orang untuk segera menunaikan shalat Fajar yang waktunya telah masuk. 

Setelah melaksanakan shalat Fajar, mereka kembali menjumpainya. Di saat itu, masuklah orang-orang yang membawa seorang laki-laki yang dituduh sebagai pembunuh, lelaki itu berkulit hitam, yang salah satu lengan atasnya seperti payudara wanita. Adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij. Begitu ia masuk dan Ali melihatnya, maka ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan duka seraya berkata, "Engkaukah kiranya yang melakukan itu? Bukankah selama ini aku sudah berbuat baik kepadamu?"

Pembaca yang budiman, peristiwa di atas terjadi di Iraq (Karbala), 21 Ramadhan 40 H/28 Januari 661 M. Sebelum peristiwa itu, terjadi perang dahsyat di antara kaum Muslimin, antara pihak Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, dalam Perang Shiffin. 

Mengapa bukan Ali bin Abi Thalib yang dinobatkan menjadi khalifah pertama? Mengapa kondisi kaum Muslimin pada masanya sangat labil?

Menurut Badiuzzaman Said Nursi, dalam buku Kumpulan Mukjizat Nabi Muhammad Saw. Seorang wali qutub dari kalangan ahlul bait berkata, "Rasulullah Saw sebetulnya ingin kalau Ali yang menjadi khalifah (pertama), namun beliau mengetahui bahwa Allah menghendaki yang lain. Oleh karena itu, beliau mengungkapkan keinginannya demi mengikuti kehendak Allah. Para sahabat sangat membutuhkan kesepakatan dan persatuan sepeninggal Nabi Saw. 

Andai kata Ali menjadi khalifah pertama, kemungkinan besar kondisinya yang tidak sejalan dengan yang lain, serta kemandirian pendapatnya, sikap zuhudnya yang hebat, kegagahannya yang langka, dan sikapnya yang tidak membutuhkan yang lain, di samping keberaniannya yang luar biasa, bisa memicu munculnya semangat persaingan antar banyak tokoh dan kabilah. Sehingga menimbulkan perpecahan di antara barisan umat Islam, seperti sejumlah fitnah yang terjadi pada masa kekhalifahannya."

Adapun sebab penundaan kekhalifahan Ali, salah satunya adalah sebagai berikut; Badai fitnah telah berhembus di tengah-tengah umat Islam yang terdiri dari sejumlah kaum yang memiliki pemikiran yang beragam. Di mana masing-masing membawa benih perpecahan hingga menjadi 73 kelompok. Seperti yang diberitakan Rasul Saw, maka harus ada satu sosok karismatik yang memiliki kekuatan yang tak tertandingi, keberanian yang luar biasa, dan firasat yang tajam, serta berasal dari keturunan mulia, yakni dari keluarga ahlul bait dan Bani Hasyim. Agar mampu bertahan dalam menghadapi fitnah yang ada. Sosok luar biasa tersebut terwujud dalam pribadi Ali, dan terbukti dia mampu bertahan dalam menghadapi badai fitnah itu. Nabi Saw telah menginformasikan bahwa ia akan berperang demi membela penakwilan al-Qur'an, sebagaimana Nabi Saw berperang demi membela penurunannya.

Mengapa kekhalifahan tidak bertahan di lingkungan ahlul bait, padahal mereka yang paling berhak atasnya?

Kekuasaan dunia bersifat menipu, sementara ahlul bait bertugas menjaga berbagai hakikat Islam dan hukum-hukum al-Qur'an. Maka Siapa yang memegang kendali kekhalifahan tidak boleh tertipu oleh dunia, ia harus ma'sum (terpelihara dari dosa dan kesalahan) seperti Nabi Saw atau harus orang yang sangat bertakwa, dan sangat zuhud seperti Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Aziz, dan al-Mahdi pada masa kekuasaan Abbasiyah. 

Hal itu agar khalifah tidak terlena dan tertipu. Karenanya, kekuasaan dunia tidak cocok untuk ahlul bait. Sebab bisa membuat mereka lupa kepada tugas utamanya yaitu; menjaga agama dan dan berkhidmat untuk Islam. Kekhalifahan Daulah Fatimiyah yang tegak atas nama ahlul bait di Mesir, pemerintahan kaum Muwahidin di Afrika, Daulah Safawiyah di Iran, semuanya menjadi bukti bahwa kekuasaan dunia tidak cocok berada ditangan ahlul bait. Sementara ketika meninggalkan kekuasaan dunia tersebut, mereka dengan sangat gigih mengarahkan upaya luar biasa dalam berjihad untuk Islam dan mengibarkan panji al-Qur'an.


Bagaimana sikap Ahli Sunnah  wal Jamaah terhadap peperangan di antara kaum Muslimin?

Umar bin Abdul Aziz ditanya tentang peperangan yang terjadi di antara para sahabat. Ia menjawab, "Allah telah menyelamatkan tanganku dari darah mereka, lantas mengapa aku tidak membersihkan lisanku darinya. Perumpamaan para sahabat Rasulullah Saw adalah seperti penyakit mata, dan obat penyakit itu adalah dengan tidak menyentuhnya." al-Baihaqi memberikan komentar terhadap perkataan Umar bin Abdul Aziz ini dengan ungkapan, "Ungkapan ini bagus dan indah, karenanya, diamnya seseorang dari suatu masalah yang bukan urusannya adalah sikap yang benar."

Hasan al-Bashri ditanya tentang peperangan yang terjadi di antara para sahabat. Dia menjawab, "Itu adalah peperangan yang diikuti oleh para sahabat Rasulullah Saw dan kita tidak hadir. Mereka mengetahui dan kita tidak tahu. Mereka berkumpul, namun kita mengikuti Mereka berselisih dan kita diberi taufik (untuk tidak mencela mereka)." Makna dari perkataan Hasan al-Bashri ini bahwa sahabat adalah orang yang paling mengetahui apa yang mereka lakukan itu. Kita tidak memiliki hak apa-apa kecuali mengikuti mereka dalam hal-hal yang mereka sepakati. Kita harus berhenti ketika melihat perselisihan dan tidak membuat-buat sebuah pendapat yang baru. Kita mengetahui bahwa mereka melakukan ijtihad, dan menghendaki keridaan Allah Swt karena keagamaan mereka tidak dituduh.

Ibnu Taimiyah ketika menjelaskan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah tentang perselisihan yang terjadi di antara para sahabat berkata, "Mereka menahan diri dari perselisihan di antara para sahabat itu dan berkata, 'Berita-berita yang menyebutkan keburukan mereka (para sahabat), sebagian bohong dan sebagian lain ditambah-tambah, serta diubah dari yang sebenarnya. Yang benar bahwa mereka itu memiliki alasan yang dapat diterima; bisa jadi mereka adalah para mujtahid yang sampai kepada kebenaran, dan bisa jadi mereka adalah para mujtahid yang salah."

Ibnu Katsir berkata, "Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka sepeninggal Rasulullah Saw, di antaranya terjadi tanpa ada unsur kesengajaan, seperti Perang Jamal, dan diantaranya bersumber dari ijtihad, seperti Perang Shiffin. Sedangkan ijtihad itu kadang-kadang salah dan kadang-kadang benar, tetapi pelakunya dimaafkan. Walaupun dia salah dan diberi pahala juga. Adapun orang yang benar dia mendapatkan dua pahala."

Ibnu Hajar berkata, "Ahli Sunah sepakat atas kewajiban menahan diri dan tidak mencela satu sahabat. Karena sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka, walaupun telah diketahui orang yang berada di pihak yang benar. Di antara  mereka tidak berperang kecuali karena ijtihad, sudah diakui bahwa orang yang salah ijtihadnya mendapatkan satu pahala dan orang yang benar mendapatkan dua pahala."

Jadi, seluruh Ahli Sunnah wal Jamaah sepakat untuk diam dari perbincangan tentang fitnah-fitnah yang terjadi di antara para sahabat Saw. Setelah Utsman terbunuh dan mendoakan rahmat bagi mereka. Menjaga keutamaan para sahabat, dan mengakui mereka sebagai orang-orang yang lebih dahulu dalam keutamaan dan menyebarkan kebaikan mereka. Semoga Allah Ridho terhadap mereka semua.

Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwa dia berkata, "Saya bermimpi melihat Rasulullah, sedangkan Abu Bakar dan Umar duduk di sisinya. Aku mengucapkan salam kepadanya dan duduk. Ketika saya sedang duduk tiba-tiba di datangkanlah Ali dan Muawiyah. Keduanya dimasukkan ke dalam sebuah rumah dan pintunya ditutup. Sedangkan aku melihat alangkah cepatnya Ali keluar sambil berkata, "Perkara untukku telah diputuskan, demi pemilik Ka'bah." Setelah itu Muawiyah juga cepat keluar sambil berkata, "Sudah ada ampunan bagiku, demi pemilik Ka'bah." (al-Bidayah wan Nihayah: VIII/133). []


Referensi:
  • Badiuzzaman Said Nursi. 2019. Kumpulan Mukjizat Nabi Muhammad Saw. Cet. II. Banten: Risalah Nur Press.
  • Khalid Muhammad Khalid. 2019. Khulafaur Rasul. Cet. V. Jakarta Timur: Penerbit Ummul Qura.
  • Tim Ummul Qura. 2013. Passport Khalifah Rasulullah. Jakarta Timur: Penerbut Ummul Qura.  

No comments

Powered by Blogger.