Header Ads

KETELADANAN DUA UMAR #3


KETELADANAN DUA UMAR #3
Oleh: Gilang al-Qanuni


Syahdan, sekarang kita berada di hadapan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Saat itu beliau mengutus Umair bin Said sebagai gubernur di Kota Homs. Selama setahun tinggal di sana, ia tidak mengirimkan hasil pajak dan bahkan tidak ada sedikitpun kabar mengenainya. Lalu Umar berkata kepada sekretarisnya, "Tulislah surat untuk umair, aku khawatir jika ia menjadi seorang pengkhianat." Lalu ia mengirim surat itu untuknya untuk memanggilnya.

Pada suatu hari ruas-ruas jalan Kota Madinah menyaksikan seorang lelaki yang rambutnya berdebu dan tidak rapi, ia diliputi oleh lelahnya perjalanan. Hampir saja kedua telapak kakinya lepas, karena kesulitan panjang yang ia hadapi selama perjalanan dan karena perjuangan besar yang ia curahkan. Di atas pundak kanannya, terdapat kantong terbuat dari kulit dan mangkuk. Di atas pundak kirinya, terdapat geriba kecil berisi air. Ia bersandar pada tongkat dikarenakan fisiknya yang lemah.

Kemudian ia melangkah dengan gontai menuju Umar lalu mengucapkan, "Assalamualaikum wahai Amirul Mukminin." Umar pun menjawab salamnya kemudian melontarkan beberapa pertanyaan padanya, hatinya tersiksa dengan apa yang ia saksikan pada lelaki tersebut; jerih payahnya dan kelelahan.

"Ada apa denganmu, hai Umair," ujar Umar.
"Urusanku sebagaimana yang kau saksikan sekarang. Bukankah engkau melihatku memiliki badan sehat dan darah yang suci? Dunia bersamaku dan aku menyeretnya dengan tanduknya," jawab Umair.

Umar bertanya, "Apa yang kau bawa?"
Umair menjawab,  "Aku membawa kantung untuk perbekalanku, mangkuk yang kugunakan untuk makan, kantung air untuk membawa air wudhu dan air minum, dan tongkat untuk bersandar (di saat lelah) dan untuk melawan musuh yang menghalangi dan menggangguku. Demi Allah, tidaklah dunia ini kecuali salah satu dari kepemilikanku."

"Apakah engkau datang dengan berjalan kaki?" Tanya Umar.
Ia menjawab, "Ya."
"Apakah engkau tidak mendapatkan orang yang mendermakan hewan tunggangannya untuk kau naiki?"
"Mereka tidak melakukannya dan aku juga tidak meminta kepada mereka." 
"Lalu apa yang telah engkau kerjakan sejak kami mengutusmu hingga sekarang?"

"Aku mendatangi wilayah yang engkau utus aku kepadanya. Lalu aku kumpulkan orang-orang Shaleh dari mereka, dan aku beri tugas mereka untuk mengumpulkan harta fai' dan harta-harta mereka. Sehingga ketika mereka semua berhasil mengumpulkannya, aku langsung membagi-bagikannya kepada yang berhak. Jika saja harta-harta tersebut tersisa  niscaya aku akan membawanya kepadamu."

Umar bertanya, "Lalu engkau tidak membawa sesuatu pun kepada kami? 
"Tidak."
Umar berkata dengan penuh gembira, "Perbaharuilah kontrak tugas untuk Umair!" Umar justru berkata, "Masa-masa tersebut telah berlalu, aku tidak akan bekerja padamu dan siapapun setelahmu."

Sungguh celaka besar bagi pejabat yang berpikir bahwa Umair akan memberikan hadiah kepada Umar sebuah hadiah. Yang benar adalah mereka semua merupakan orang-orang cerdas karena mereka tidak pernah dan tidak mau sama sekali menjerumuskan diri mereka ke dalam perkara ini.

Marilah sejenak kita tinggalkan Umar bin Khattab, kita menuju Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz. 

Bibi Umar bin Abdul Aziz, Ummu Amir bin Marwan, dimanjakan oleh para khalifah dan gubernur Bani Marwan. Ia juga sosok mulia di mata Umar bin Abdul Aziz. Ia sangat mencintai dan menghormati bibinya ini.

Ketika seluruh hak-hak istimewa Bani Marwan dihapus, termasuk hak-hak istimewa bibinya. Sang bibi segera datang menemui Umar, ia dikejutkan saat Umar duduk menyantap makan malam.

Ia mengucapkan salam lalu duduk, menatap tajam seakan tidak percaya apa yang ia lihat. Kini makanan Umar hanya roti kering, sepiring adas, dan garam.

Ia terperanjat dan kaget. Inikah Umar yang dulu tenggelam dalam kenikmatan? Sekarang makanannya hanya seperti itu, padahal ia menjadi seorang khalifah yang ditaati.

Karena tak mampu menguasai diri, ia pun menangis dan berkata, "Aku datang sebenarnya untuk suatu keperluan. Akan tetapi, saat melihatmu, menurutku kau berhak untuk mendapatkan keperluan itu lebih dulu sebelum aku."

"Keperluan apa itu, bibi?" tanya khalifah. "Makanlah makanan yang lebih lunak dari makanan ini," katanya.
"Hanya ini yang aku punya, bibi. Andai punya yang lain tentu aku makan," jawabnya.

Dulu, pamanmu Abdul Malik, sering memberiku jatah seperti yang kau ketahui. Berikutnya, saudaramu al-Walid, bahkan ia memberi tambahan. Setelah itu Sulaiman, dia juga memberi tambahan. Lantas setelah kau menjabat (khalifah), kau menghentikan jatahku," katanya.

"Bibi! Pamanku, Abdul Malik, saudaraku, al-Walid dan Sulaiman, memberi bibi (jatah) dari harta milik kaum Muslimin. Harta itu bukan milikku, sehingga bisa kuberikan pada bibi. Kalau mau aku akan memberi bibi dari hartaku sendiri," sahut khalifah.
"Apa hartamu wahai Amirul Mukminin?" Tanyanya.
"Jatahku dua ratus dirham setiap tahunnya," jawab khalifah.
"Bisakah jatahmu memenuhi kebutuhanku?" 
Setelah itu ia pun pergi dengan putus asa, dialah wanita di mana para khalifah Bani Marwan tunduk pada keinginannya, dan apa maunya segera dituruti. 

Masihkah ada bantuan atau ambisi orang di sana?

Tentu tidak, seluruh ambisi terbakar habis di dalam bara api keikhlasan Umar bin Abdul Aziz. Keikhlasan ini dilindungi oleh rajutan yang menangkal seluruh usaha menjadi tak berdaya dan merugi. Juga dilindungi penutup rasa aman jiwa yang tak bisa dilubangi oleh janji, ancaman, ataupun rasa takut. []


Referensi:

  • Khalid Muhammad Khalid. 2019. Khulafaur Rasul. Cet. V. Jakarta Timur: Penerbit Ummul Qura.

No comments

Powered by Blogger.