KETELADANAN DUA UMAR
KETELADANAN DUA UMAR
Oleh: Gilang al-Qanuni
Namanya Umar bin Khattab, Amirul Mukminin. Teringat kembali, ketika setiap kali dihadapkan suapan makanan-makanan nan lezat, minuman yang dingin, dan pakaian yang baru, air matanya menetes. Air mata yang menyisakan garis-garis hitam di bawah bola matanya, disebabkan tangisannya yang sangat lama. Di dalam dirinya ia mengatakan, "Apa yang akan kau katakan kepada rabb-Mu kelak?"
Inilah penguasa orang-orang jahiliyah pada masanya, dan pahlawan Islam. Dialah Amirul Mukminin yang panji-panjinya menaklukkan hati seluruh dunia, dan manusia menyambut pasukannya seakan-akan mereka adalah pembawa kabar gembira. Dialah seorang imam yang menangis ketika ia memimpin shalat, dan isak tangisnya terdengar hingga barisan paling belakang.
Dialah sang pemimpin yang rela berlari mengejar unta milik negara yang lepas dari ikatannya, lalu ia bertemu dengan Ali bin Abi Thalib. Dan Ali pun bertanya, "Hendak ke mana engkau wahai Amirul Mukminin?" Ia menjawab, "Aku pergi mencari unta hasil zakat milik baitul mal yang lepas."
Ali menyahut, "Sungguh engkau telah membuat kesulitan bagi orang-orang yang datang setelahmu." Umar pun berkata dengan suara gemetar, "Demi Dzat yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, jika ada seekor kambing lari ke tepi sungai Eufrat, niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat."
Apakah ketakutan Umar kepada Allah seperti takutnya seorang budak dari pukulan tongkat dan cambukan cemeti tuannya? Tidak! Sungguh bukan seperti itu ketakutannya, melainkan seperti takutnya seorang hamba yang mengharap kecuali kemuliaan dari sisi Rabb-nya, yang tunduk kepada-Nya untuk mengagungkan dan membesarkan-Nya, dan malu jika Allah menemuinya dalam keadaan serba kekurangan.
Berikut ini ungkapan yang selalu ia lantunkan;
"Engkau dahulu berada dalam kerendahan lalu Allah mengangkatmu, engkau berada dalam kesesatan lalu Allah memberi petunjuk kepadamu, dan engkau dahulu hina lalu Allah memuliakanmu. Apa yang akan kau katakan kepada Rabb-mu jika engkau menghadapnya nanti?"
Kali ini, kita berada di hadapan sosok Umar yang lain, yakni Umar bin Abdul Aziz. Dialah cucu Umar bin Khattab.
Setelah dilantik menjadi Khalifah, Umar bersiap-siap untuk berjalan menuju kemah kekuasaan, sebuah acara rutin yang digelar sebagai pertemuan pertama antara khalifah baru dan orang-orang dekat. Belum juga menjejakkan kaki di jalan, Umar melihat sebuah pawai besar, kuda-kuda putih nan indah. Di tengah-tengahnya, ada sebuah kuda yang dirias bak pengantin wanita, untuk dijadikan tunggangan sang khalifah. Seketika Umar gemetar dengan nada mengingkari bertanya, "Apa ini?"
"Kuda-kuda pilihan ini belum pernah ditunggangi, semuanya dipersiapkan untuk pawai khalifah baru?" kata mereka.
Umar kemudian memanggil pelayannya, "Muzahim! Masukkan semua ini ke dalam baitul mal."
Umar berjalan kaki hingga tiba di tenda kekuasaan, ternyata di dalamnya begitu menarik laksana istana Kisra. Umar kembali bergetar dan bertanya, "Apa ini?"
"Ini tenda yang dipersiapkan untuk menyambut khalifah baru," kata mereka.
Umar kemudian memanggil pelayannya, "Muzahim! Masukkan semua ini ke dalam baitul mal."
Kemudian Umar meminta sebuah tikar untuk digelar di atas tanah, setelah itu duduk dengan senang hati.
Tidak lama setelah itu, pakaian-pakaian penuh hiasan dan baju-baju panjang mewah didatangkan.
Umar lantas bertanya, "Apa ini?"
"Ini pakaian khalifah, digunakan oleh setiap khalifah baru," kata mereka.
Umar kemudian memanggil pelayannya, "Muzahim! Masukkan semua ini juga ke dalam baitul mal."
Setelah itu, budak-budak wanita diperlihatkan agar Umar memilih siapa pun di antara mereka, sebagai pelayan-pelayan istana. Saat itulah Umar bangun dengan kaget, menghampiri mereka satu persatu dan bertanya, "Kamu siapa, milik siapa, dari mana asalmu?"
Setelah bertanya kepada mereka semua, Umar memanggil, Muzahim! Urus mereka semua, kembalikan mereka semua ke kampung halaman dan keluarganya masing-masing.
Simpan dulu raga kagum dan kaget kita, karena kita akan menghampiri sebuah alam yang penuh dengan mukjizat-mukjizat serupa...!
Referensi:
- Khalid Muhammad Khalid. 2019. Khulafaur Rasul. Cet. V. Jakarta Timur: Penerbit Ummul Qura.

Post a Comment