Header Ads

PARA PENGANUT AGAMA IBRAHIM, SEBELUM RASULULLAH SAW DIUTUS



PARA PENGANUT AGAMA IBRAHIM, SEBELUM RASULULLAH SAW DIUTUS
Oleh: Gilang al-Qanuni


Seiring perjalanan waktu dan generasi, di sana tetap muncul para pemberi petunjuk dari waktu ke waktu, mengibarkan panji Ibrahim As, meruntuhkan kesyirikan dan kesesatan dengan suara lantang.  Mereka tidak sedikit jumlahnya, sebagian ada yang kita ketahui, sebagian lainnya tidak kita ketahui. Ada yang hidup ratusan tahun sebelum Rasulullah Saw diutus, ada juga yang menjadi pertanda menjelang fajar Rasulullah Saw yang tidak lama lagi terbit. Mereka adalah:

Suwaid bin Amir al-Mushthaliqi, yang termasuk kalangan pertama. Ia secara lantang menyampaikan akidah kebangkitan dan hari pembalasan.

Amir bin Zharib al-Adawani, yang menyampaikan kepada kaumnya, "Aku tidak pernah melihat sesuatu pun menciptakan dirinya sendiri. Semua tempat yang kulihat pasti diciptakan. Setiap yang datang pasti pergi. Andai yang mematikan orang adalah penyakit, tentu obatlah yang menghidupkan mereka!"

Mutalammis bin Umaiyah al-Kinani. Suatu ketika ia berada di tengah-tengah kaumnya di dekat Ka'bah, lalu dengan tegas menyampaikan kepada mereka, "Taatilah aku niscaya kalian mendapat petunjuk. Kalian telah menjadikan banyak sekali Tuhan, padahal Allah adalah Rabb kalian dan berhala yang kalian Sembah itu."

Zuhair bin Abi Sulma. Ia memegang dedaunan pohon yang menghijau setelah dahulu kering dan mati sambil berkata, "Andai saja bukan karena cacian orang-orang Arab, tentu aku beriman bahwa yang menghidupkanmu setelah dahulu engkau kering, kelak juga akan menghidupkan tulang-tulang yang sudah luluh lantak."
Dialah yang menuturkan bait-bait syair berikut: Jangan pernah sembunyikan apapun dalam dirimu
Aku tidak kelihatan oleh Allah 
Seperti apapun disembunyikan 
Allah tetap tahu.

Abu Qays bin Anas, ia menjauhkan diri dari kaum Quraisy dan segala berhala-berhalanya, membuat masjid di dalam rumah yang tidak boleh dimasuki wanita haid ataupun orang junub dan menyatakan, "Aku menyembah Ibrahim." Ia diberi karunia umur panjang hingga  Nabi Saw diutus, lalu masuk Islam bersama beliau.

Qus bin Sa'idah al-Iyadi, ia adalah seorang orator, bijaksana, dan sangat cerdas. Dia memiliki kepandaian dan keistimewaan yang luar biasa. Mengajak orang lain untuk mengesahkan Allah, beribadah kepada-Nya, dan meninggalkan berhala-berhala. Dia juga mempercayai adanya hari kebangkitan setelah kematian. Mengabarkan berita gembira akan datangnya seorang nabi. Dia sempat bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, namun dia terlebih dahulu meninggal sebelum beliau diutus menjadi Nabi.

Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul 'Uzza,  masih terbilang kerabat Khadijah, istri Nabi Muhammad  Saw. Ia menganut agama Nasrani dan tidak menyembah berhala. Ketika mendapat wahyu  pertama di Gua Hira,  bersama Khadijah Nabi menemui Waraqah. Waraqah pun langsung membenarkan risalah Nabi itu. Namun sayang, tak lama setelah itu ia wafat. Nabi pun mengatakan bahwa Allah telah menyiapkan surga baginya. 

Ubaidillah bin Jahsy, ia termasuk orang yang menjaga nilai-nilai agama Nabi Ibrahim. Bahkan ia sempat masuk Islam, hijrah ke Habasyah. Di Habasyah Ubaidillah murtad dan memeluk agama Nasrani. Ia sempat mabuk karena minum-minuman keras, lalu meninggal dalam keadaan murtad. Belakangan istrinya, Ramlah bin Abi Sufyan (Ummu Habibah) dinikahi Nabi Saw saat ia masih di Habasyah, lewat lamaran Raja Habasyah. 

Utsman bin Huwairits, ia termasuk tokoh  yang tidak menyembah berhala. Bahkan, dari bacaan terhadap beberapa kitab sebelumnya, ia tahu bahwa akan ada Nabi akhir zaman. Ia pun menanti dengan penuh harap. Lama menanti, Nabi akhir zaman tak muncul di Makkah. Ia pun pergi menemui penguasa Romawi dan menganut agama Nasrani. Setelah itu tak ada lagi yang meriwayatkan kisahnya. 

Zaid bin Amr, juga termasuk di antara tokoh yang masih menganut sisa-sisa agama Ibrahim. Ia tahu akan datang Nabi akhir zaman. Ia tetap dalam pencarian agama hanifnya hingga pergi ke Syam. Di sana, ia mendengar Nabi akhir zaman itu muncul di Makkah, dalam perjalanan ia dibunuh. Sebelum meninggal, ia sempat berdoa agar anaknya menjadi pendukung  setiap Nabi akhir zaman itu. Berkat doanya, putranya Said bin Zaid menjadi pendukung Nabi, bahkan termasuk di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. 

Orang pertama yang mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab dan mengajak mereka menyembah patung adalah Amr Bin luhaiy bin Qam'ah, leluhur Suku Khuza'ah. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits at-Taimi, dari Abu Shalih as-Saman bahwa dia mendengar Abu Hurairah bertutur:

Aku mendengar Rasulullah Saw berkata kepada Aktsam bin Jun al-Khuza'i, "Wahai Aktsam, aku melihat Amr bin Luhaiy bin Qam'ah bin Khandaf menyeret-nyeret ususnya di neraka. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mirip dengannya daripada engkau, dan tidak pernah melihat orang yang lebih mirip denganmu daripada dia." Aktsam bertanya, "Apakah kemiripanku dengannya berbahaya bagiku, wahai Rasulullah?" beliau menjawab, "Tidak. Engkau adalah mukmin sedangkan dia orang kafir. Dahulu dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ismail, lalu memasang berhala, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada berhala, menyembelih binatang untuk berhala, mempersembahkan unta kepada berhala, dan meyakini unta tertentu tidak boleh dinaiki."

Ibnu Hisyam juga meriwayatkan bagaimana Amr Bin luhaiy mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab:
"Amr bin Luhaiy pergi ke Makkah menuju Syam untuk menjalankan urusannya. Setibanya di Ma'ab, daerah al-Balqa', yang ketika itu dihuni kaum Amalek- keturunan Amlaq atau Amliq bin Lawidz bin Sam bin Nuh- dia melihat mereka menyembah patung. Dia pun bertanya, "Apa patung-patung yang kalian sembah itu?" Mereka menjawab, "Patung-patung itu kami sembah guna meminta hujan sehingga kami diberi hujan; kami meminta kemenangan sehingga kami diberi kemenangan." dia bertanya lagi, "Maukah kalian memberiku satu di antaranya yang bisa kubawa ke negeri Arab untuk mereka sembah?" Maka mereka memberinya sebuah patung yang dinamai Hubal. Dia pun membawanya ke Makkah dan memasangnya, lalu menyuruh orang-orang menyembah dan mengagungkannya.

Sebagian orang Arab menganut agama Nasrani, dan sebagian yang lain menganut agama Yahudi. Akan tetapi, mayoritas dari mereka menyembah patung-patung dan berhala-berhala.  []


Referensi:
  • Khalid Muhammad Khalid. 2019. Khulafaur Rasul. Cet. V. Jakarta Timur: Penerbit Ummul Qura.
  • Dr. Said Ramadan al-Buthy. 2017. Fiqh as-Sirah an-Nawabiyyah Ma'a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah. Cet. II. Bandung: Noura Books. 
  • Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-shallabi. 2012. Sejarah Lengkap Rasulullah. Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar.

@hepiandibastoni 

No comments

Powered by Blogger.