Header Ads

Al-Wakil "Yang Maha Pelindung"


Allah SWT mempunyai nama: Al-Wakil artinya adalah Yang Mengurusi alam semesta. Dialah yang menciptakan alam semesta dan mengurusunya, memberikan hidayah, dan menakdirkannya. Dialah tempat bergantung bagi segenap hambanya-Nya. Dialah Yang Maha Menanggung rezeki dan kemaslahatan segenap hamba. Allah SWT. menjadi wakil bagu segenap orang beriman yang bersujud dengan daya dan kekuatan dari-Nya. Mereka keluar dari daya dan kemampuan mereka sendiri, lalu beriman pada kesempurnaan kekuasaan-Nya. Orang-orang beriman yakin bahwa tiada daya dan upaya tanpa pertelongan Allah. Mereka serahkan segala urusan kepada-Nya sebelum mereka berusaha. Mereka memohon pertolongan kepada Allah dalam usaha mereka. Mereka memuji dengan bersyukur kepada-Nya setelah mendapat limpahan taufik.

Seorang Muslim yang mengesahkan dengan nama ini hendaknya yakin bahwa Allah telah menetapkan rezeki baginya. Maka, janganlah berpangku tangan untuk mencarinnya. Dia harus mencari cara untuk mendapatkan rezeki itu dengan tetap menghindari sifat rakus dan tamak, apalagi rusaknya hati. Jangan sia-siakan hak istri dan anak kendati rezeki mereka ada di tanggan Allah karena orang yang melakukan hal ini adalah orang yang meninggalkan sunnah. 

Derejat dan tingkatan tawakal mesti dipahami oleh seorang muslim agar tidak dianggap sepele. Artinya, jangan sampai ia mengambil satu hal dan meninggalkan hal lainnya.
  • Derajat yang pertama adalah hati yang menghadap kepada Allah secara kontinyu karena ia tahu bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Adapun yang dinamakan 'cara', tidak lain hanyalah seperti sebuah alat di tangan seorang tukang. 
  • Derajat yang kedua adalah anggota badan yang menghadap dan mengusahakan sebab, karena Allah SWT. menetapkan akibatnya untuk sebuah hikmah. Segala sesuatu yang ada, berlaku, dan terjadi sebagai ujian dan cobaan. Adanya hukum atas manusia, adanya balasan kepada orang yang menganiaya dan yang teraniaya dengan pahala ataupun siksa tidak lain agar orang yang bertawakal berdiri tegak di hadapan hukum syariah, menghayati arti karuani dan kesengsaraan.
  • Derajat yang ketiga adalah berserahnya seorang muslim dan rida terhadap hasil-hasil yang telah ditetapkan baginya. Ia tunduk dan rela terhadap Qada dan Qadar Allah yang terjadi setelah ia mengambil sebabnya. Ia tidak menyerah sebelum berusaha karena hal itu menyebabkan tawakalnya tertolak. 
Seorang hamba hendaknya berkeyakinan baik, indah dalam kesabaran, dan memahami hakikat rida sehingga hati menjadi tenang ketika ditimpa berbagai macam kejadian dan bencana. Demikian juga jiwa menjadi tenang dalam memahami hikmah ujian karena mereka meyakini bahwa hanya Allah-lah yang mengatur segenap makhluk sebagaimana yang dia kehendaki. (Dr. Mahmud Abdurrazak Ar-Ridwani, Ad-Du'au bi'l Asmai'l Husna, 2005: 90)

Doa Asmaul Husna
Dari Abu Bakrah Ra., bahwasanya Rasulullah SAW. berdoa ketika ditimpa bencana,
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلِى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Artinya:
"Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harap, janganlah Engakau menyerahkanku kepada diriku sendiri walau hanya sekejap mata, perbaikilah seluruh urusanku, tiada tuhan kecuali engkau." (Sahih Al-Jami: 3388)

No comments

Powered by Blogger.