Header Ads

UMMU JAMIL; Perempuan Tua Penyebar Fitnah

Ummu Jamil; Perempuan Tua Penyebar Fitnah

Oleh: Gilang al-Qanuni



Nasab dan Silsilah

Bani Abd  Syams dinisbahkan kepada Abd Syam bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Klan tersebut masih satu garis keturunan dengan Bani Hasyim, yaitu bertemu pada Abd Manaf. Bani Abd Syam tidak hanya tinggal di tanah Hijaz, tapi juga menyebar hingga Syam dan Mesir. Bahkan, dinasti Bani Umayyah, yang sempat memangku kekhalifahan selama kurang lebih satu abad, merupakan bagian dari klan ini.

Dari klan inilah, Ummu Jamil berasal. Tepatnya, perempuan ini memiliki silsilah lengkap sebagai berikut: Ummu Jamil binti harb binti Umayyah binti Abdul Syam. Dari pihak ayah, Ummu Jamil memiliki saudara bernama Abu Sufyan Bin harb yang sempat menjadi musuh Rasulullah Saw.  Sebelum masuk Islam. Ayah mereka, Harb binti Umayyah , menikah dengan dua orang perempuan, yaitu Shafiyyah binti Hazn ibn Bujair ibn al-Hazm al-Hilali dan Fakhitah binti Amir ibn Mu'attib al-Tsaqafi (dari  Bani Tsaqif). Dari Shafiyyah,  Harb memiliki seorang anak, Fari'ah dan Abu Sufyan yang nama kecilnya Shakhr.  Sementara itu, dari Fakhitah, Harb memiliki empat orang anak. Mereka adalah Amr, Ummu Jamil, Umaimah, Ummu Hakam. Jadi Ummu Jamil dan Abu Sufyan adalah saudara seayah berbeda ibu.

Dengan statusnya sebagai kakak seayah dari Abu Sufyan, perempuan yang nama sebenarnya adalah Arwa ini jelas bukanlah perempuan sembarangan. Dia merupakan perempuan bangsawan yang berstatus terhormat. Kakeknya, Umayyah, merupakan pedagang yang kaya raya dan mewariskan kekayaan yang luar biasa untuk anak-anaknya. Kekayaan itu menjadi salah satu alat politik untuk mendapatkan kekuasaan, selain kedudukan mereka sebagai keturunan bangsawan.

Kompak Memusuhi Rasulullah Saw

Arwa dan suaminya, setali tiga uang. Mereka ibarat dua sisi kepingan mata uang. Bersama anak-anaknya, mereka saling mendukung satu sama lain. Ketika Abu Lahab tidak suka kepada keluarga Rasulullah Saw, Arwa pun bersikap demikian. Dia bahkan tidak hanya membenci Rasulullah Saw tapi juga membenci istri beliau Khadijah binti khuwailid, yang terkenal cukup kaya.

Ketika dakwah Rasulullah Saw mulai merambah ke keluarga dekat beliau, Arwa melihatnya sebagai hal buruk. Dia menilai anak muda itu berpotensi menjadi pesaing  suaminya di kemudian hari. Oleh karena itu, dia dan suaminya kompak bersikap menentang tanpa peduli pada hubungan keluarga yang sudah terjalin erat sebelumnya.

Sikap tersebut dibuktikan dengan memutus pernikahan anak-anaknya. Setelah kedua anaknya resmi menikah dengan putri Rasulullah Saw, malah berbalik dan mendukung perceraian mereka. Hal tersebut terjadi tak lama setelah surah al-Lahab itu turun. Abu Lahab sangat tersinggung dengan turunnya surah ini. Bersama suaminya arwah lalu menyuruh Utbah, anaknya, untuk menceraikan Ruqayyah, putri Rasulullah Saw. Setelah itu, kebenciannya kepada Rasulullah Saw dan keluarganya semakin menjadi-jadi.

Mendadak Dibutakan Matanya

Arwa tak pernah berhenti berupaya mencelakai Rasulullah Saw. Suatu ketika, Arwa sengaja membawa batu sekepalan tangan. Dia mengintai kedatangan Rasulullah Saw dari arah Ka'bah, tempat beliau terkadang melaksanakan shalat. Beberapa saat kemudian, Rasulullah Saw yang saat itu bersama Abu Bakar r.a lewat di hadapan arwa. Namun, atas kekuasaan Allah arwah tidak bisa melihat Rasulullah Saw meskipun beliau melintas di depannya.

Karena tak melihat Rasulullah Saw,  Arwa pun bertanya kepada Abu Bakar r.a, "Mana temanmu? Aku dengar dia menjelek-jelekkanku. Aku bersumpah, jika bertemu dengannya, aku pasti menyumpal mulutnya dengan batu ini."

Sebelum pergi, Arwa melantunkan sebuah syair:
"Si tercela itu, kami ingkari. 
Kata-katanya tak kami turuti. 
Dan agamanya begitu Kami benci."

Kemudian, Arwa langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Abu Bakar. Melihat kejadian tersebut, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah Saw, "Wahai Rasulullah, tidakkah dia melihatmu?" Rasulullah Saw menjawab, " Dia tidak melihatku. Allah sudah membutakan penglihatannya.

Syair yang dilontarkan Arwa tersebut mendapat perhatian di kalangan ahli Sirah. Rasulullah Saw sendiri pernah mengomentari syair tersebut sebagai 'pujian' yang tak kasat mata terhadap beliau. Arwa sejatinya hendak menghina Rasulullah Saw dengan mengganti nama Muhammad (terpuji) menjadi Mudzamman (tercela). Namun, orang-orang yang mendengar syair tersebut sama sekali tidak akan membayangkan sosok Rasulullah Saw karena tidak ada satu pun kata dalam syair tersebut dapat diasosiasikan dengan Muhammad Saw.

Menanggapi syair tersebut, Rasulullah Saw pernah bersabda, "Tidak takjubkah kalian melihat bagaimana Allah menghindarkanku dari kata-kata orang Quraisy yang menyakitkan? Yang mereka celah adalah Mudzamman. Padahal aku adalah Muhammad?"

Menuduh Jibril sebagai Setan

Kalimat yang begitu menyakitkan itu meluncur dari mulut Ummu Jamil. Dia bermaksud mengejek Rasulullah Saw karena wahyu yang ditunggu-tunggu belum turun juga. Kata-kata tersebut adalah bentuk pengingkaran yang luar biasa dari seorang Ummu Jamil terhadap kenabian Muhammad Saw, setan yang dimaksud Ummu Jamil tentu saja malaikat pembawa wahyu, Jibril a.s.

Kisah itu bermula saat kaum Quraisy ingin membuat opini yang menyudutkan Rasulullah Saw mereka lalu mengirim beberapa orang utusan, termasuk diantaranya Uqbah ibn Abi Mu'aith. Para utusan tersebut diminta untuk mencari-cari kelemahan Rasulullah Saw dari para rabi Yahudi di Madinah. para rabi itu kemudian menyarankan agar para utusan tersebut mengajukan tiga pertanyaan yang akan sulit dijawab oleh Rasulullah Saw, ketiga pertanyaan itu terkait dengan Ashabul Kahfi, Dzul Qarnain dan persoalan arwah (ruh).

Maka, para utusan itu mengajukan pertanyaan yang disarankan para rabi tadi kepada Rasulullah Saw. Menghadapi pertanyaan tersebut, Rasulullah Saw tidak langsung menjawab. Beliau berjanji akan menjawabnya setelah Wahyu turun. 
"Besok aku jawab," Ujar Rasulullah Saw tanpa mengucapkan Insya Allah," tunggulah tiga hari!"

Namun, setelah tiga hari, wahyu yang ditunggu ternyata belum turun juga. Ummu Jamil melihatnya sebagai kesempatan emas untuk menyudutkan Rasulullah Saw. Maka keluarlah kata-kata kasar yang menyakitkan itu dari mulutnya. "Setanmu telah meninggalkanmu!" Serunya dengan penuh rasa puas. Namun, tidak berselang lama, turunnya surah ad-Dhuha sebagai wahyu yang ditunggu-tunggu.

Perempuan Pembawa Kayu

Di dalam surah al-Lahab, Ummu Jamil diberi gelar perempuan pembawa kayu bakar. Dalam kehidupan sehari-harinya, Ummu Jamil memang sering membawa kayu bakar sendiri ke rumahnya. Kayu yang dibawahnya adalah jenis kayu al-hisk yang memiliki buah berduri dan biasanya tersangkut di bulu domba. Namun, sebutan itu sesungguhnya merupakan metafora dari perempuan yang senang menyebarkan fitnah yang memojokkan Rasulullah Saw.

Suatu malam, Ummu Jamil pernah menebar buah berduri di jalan yang akan dilalui Rasulullah Saw. Namun, Rasulullah Saw selamat dari niat busuk perempuan tersebut, guna melancarkan fitnahnya yang bertubi-tubi itu, Ummu Jamil tidak segan-segan menyumbangkan kalung mutiara berharganya untuk mendanai segala bentuk upaya mencelakai Rasulullah Saw.

Mengikuti Jejak Pedih Sang Suami

Kebencian Ummu Jamil yang begitu besar terhadap Rasulullah Saw mengakibatkan dirinya mendapat balasan setimpal di akhir hayatnya, sama seperti suaminya, Abu Lahab. Ummu Jamil meninggal dalam keadaan yang tak kalah menyedihkan. Perempuan tua itu meninggal dalam perjalanan pulang saat membawa seikat kayu bakar. Karena letih, dia berhenti sejenak. Kemudian tiba-tiba dia tertarik ke belakang oleh tali pengikat kayu itu dan meninggal dengan leher terbelit oleh tali.  []






Referensi :
  • Misran dan Armansyah. 2018. Para penentang Muhammad SAW. Bandung: Penerbit Safina.

No comments

Powered by Blogger.