GURU PERADABAN BARAT
GURU PERADABAN BARAT
Oleh: Gilang al-Qanuni
Sekarang kita sedang naik roda zaman, menyusuri lorong masa lampau, lalu kita akan turun di tanah yang diberkahi di muka bumi, kota suci Makkah namanya.
Hari ini, bulan Ramadhan 610 Masehi, sebagaimana yang tercatat dalam al-Manak. Di langit Makkah, nampak cerah tak berawan. Gunung-gunung sekitar, seakan-akan bersujud dan tunduk pada keagungan Allah.
Merayap perlahan bersama semilir angin pagi yang lembut dan menyegarkan, yang sisa kelembutannya bisa dirasakan di atas bebatuan besar bukit Jabal Nur sebagai terminal langit tempat turunnya wahyu dan sumber segala rahmat Allah bagi alam semesta.
Kita berjalan mendaki di atas bukit Jabal Nur, hingga menemukan gua yang hanya berukuran panjangnya sekitar tiga meter, dengan lebar satu setengah meter dan tingginya hanya sekitar dua meter. Orang-orang menyebutnya sebagai Gua Hira.
Sejak beberapa tahun ini, gua ini sering didatangi oleh seorang laki-laki yang bernama Muhammad bin Abdullah. Ia tinggal di sana beberapa hari dan bahkan sampai sebulan lamanya.
Memberi makan orang miskin yang datang menemuinya, dan menghabiskan waktunya untuk beribadah dan merenungkan fenomena alam semesta yang ada di sekitarnya. Serta kekuasaan yang menakjubkan yang ada di balik itu semua. Hingga tibalah saatnya berinteraksi dengan hal gaib ini ketika Allah telah mengizinkannya.
Di tengah kesunyian malam, terdengar suara, "Bacalah Muhammad!" perintahnya. Tentu saja Muhammad takut dan bingung bagaimana akan membaca kalau dirinya buta huruf, sama sekali asing dengan dunia baca tulis. "Aku tidak bisa membaca," jawab beliau dengan nyali ciut dan bibir gemetar.
Sontak orang itu menarik tubuh Muhammad dan mendekapnya kuat-kuat. Beliau merasa ruhnya sudah tercabut dan seluruh persendiannya remuk. Kalau saja tidak segera dilepas mungkin beliau merasa benar-benar sudah tewas. Tetapi itu tak lama karena orang itu mengulangi lagi pertanyaan yang sama, "Bacalah Muhammad!" perintahnya lagi.
Dijawabnya pertanyaan itu seperti jawaban semula, dan direngkuhnya kembali Muhammad kuat-kuat seperti yang pertama. Setelah dilepas, disuruhnya lagi membaca, "Bacalah Muhammad." Tentu saja beliau tetap menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Untuk ketiga kalinya beliau di dekat lagi, lalu orang itu mengucap,
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari 'Alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya." (Q.S. al-Alaq: 1-5).
Pembaca yang budiman, ayat yang pertama kali turun bukanlah ayat tentang shalat, zakat, puasa dan sebagainya. Tapi perintah tentang membaca, mengajar manusia dengan pena, dan mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya. Maksudnya apa? Peradaban Islam, peradaban yang dibangun di atas ilmu pengetahuan. Dalam ayat yang lain, firman Allah Swt, "Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis." (Q.S. al-Qalam: 1).
Nabi sangat menganjurkan untuk mencari ilmu, dalam sabdanya, "Sesungguhnya malaikat merentangkan sayapnya bagi pencari ilmu suka dengan apa yang ia kerjakan." (H.R. Bukhari). al-Qur'an menyuruh manusia agar tidak putus-putus mencari ilmu, "Dan Katakanlah, Tuhanku tambahilah aku ilmu." (Q.S. Thaha: 114).
Gairah keilmuan tampak berkembang pesat di Madinah, setelah kedatangan Nabi, di dalam masjid Nabi membangun suffah: sebuah tempat bernaung bagi kaum muslim yang miskin. Sebuah sekolah malam di mana Ubadah bin al-Shamit mengajari mereka menulis dan membaca al-Quran.
Ketika diketahui ada sejumlah orang miskin dalam tawanan musyrik Perang Badar. Nabi meminta tebusan dengan cara, setiap satu orang dari mereka wajib mengajarkan baca tulis sepuluh anak muslim. Ini adalah gerakan pertama pemberantasan buta huruf dalam Islam, dan di sini lahir sejumlah anak kaum Anshar yang mahir baca tulis, antara lain Zaid bin Tsabit. Madinah telah menjadi kota yang hingga sudut-sudutnya bertebaran orang-orang yang mahir baca tulis.
Dr. Tariq Suwaidan (2015) dalam al-Andalus: al-Tarikh al-Mushawwar, pada mukaddimahnya, tertulis bahwa seorang ulama kontemporer berkata, "Tanyalah sejarah, apakah bintang peradaban kita memudar setelah para penyanyi bersinar." Redaksi bahasanya jelas, bahwa ini salah satu kejatuhan peradaban. Ketika peradaban itu lebih mencintai hiburan daripada ilmu (ulama), maka tunggulah kejatuhannya. Karena kemenangan itu ada syaratnya dan kejatuhan itu ada sebabnya.
Seorang penyair bertutur,
Segala sesuatu yang sempurna, akhirnya akan berkurang juga.
Siapa pun hendaknya tidak teperdaya oleh kesenangan dunia.
Itulah kehidupan, sebagaimana engkau saksikan, bagai roda yang berputar.
Sekarang kita menuju ke abad pertengahan, Abul Hasan al-Amiri, seorang filsuf muslim abad ke-10, berkata bahwa Pythagoras belajar geometri dan matematika dari orang-orang Mesir, sedangkan belajar metafisika dari sahabat-sahabat Nabi Sulaiman. Demikian juga Empedokles, menurutnya, belajar filsafat dalam waktu yang cukup lama dari Luqman al-Hakim, seorang filsuf pada masa Nabi Daud. Namun ketika kembali ke negerinya Empedokles dikatakan mengembangkan ilmu yang diperolehnya itu sesuai dengan corak pemikirannya yang khas.
Proses penerjemahan ilmu dari bahasa satu ke bahasa lainnya terjadi dalam tradisi intelektual peradaban. Sebutlah penerjemahan dari Alexandria ke Baghdad, dari Arab ke Latin yang memuluskan peradaban Barat untuk mencapai kegemilangannya. Sebab kalau tidak, niscaya mereka bakal terus menerus berada dalam jurang kebodohan.
Tidak bisa dipungkiri fakta terjadinya pertukaran, peminjaman, dan saling mempengaruhi ketika dua bangsa, masyarakat, dan peradaban berhubungan satu sama lain. Tidak ada peradaban yang berdiri sendiri ataupun menciptakan seratus persen peradaban lain. Sejatinya setiap peradaban memiliki ciri-ciri khas, elemen-elemen unik yang mungkin tidak terdapat, ataupun tidak berkembang dalam peradaban lain. Tetapi bisa dipastikan juga terdapat unsur-unsur yang dipetik, diambil, atau ditiru dari peradaban lain yang telah ada sebelumnya dan disekitarnya. Inilah yang dinamakan dengan konsep adapsi bukan adopsi; karena tidak semuanya yang diambil, melainkan mengalami proses penyaringan. Sebagaimana orang-orang Yunani kuno berhutang budi kepada orang Mesir dan Babilonia, begitu juga orang-orang Barat (Eropa) berhutang budi kepada orang Islam.
Hati kita serasa diiris menyaksikan apa yang dialami perpustakaan-perpustakaan kita berupa penghancuran dan pembakaran terhadap buku-buku tersebut, yang tak dapat dinilai berapa kerugian ilmu yang terkandung di dalamnya untuk selama-lamanya. Padahal buku-buku itu termasuk peninggalan paling berharga dari pemikiran manusia dalam sejarah.
Petaka itu ditimpakan oleh tentara Tartar ketika mereka menaklukan Baghdad, yang pertama kali dihancurkan sebelum menghancurkan yang lain adalah perpustakaan. Tentara Tartar yang biadab melemparkan semua buku yang mereka dapatkan di perpustakaan perpustakaan umum ke sungai Dajlah sehingga sungai itu penuh dengan buku-buku. Sampai-sampai seorang penunggang kuda dapat melintas di atasnya dari tepi ke tepi sungai, air sungai tetap hitam pekat selama berbulan-bulan lantaran bercampur dengan tinta buku-buku yang ditenggelamkan ke situ.
Petaka serangan Salib juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan paling berharga yang ada di Tripoli, Maarrah, al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya yang dihancurkan mereka. Salah seorang sejarawan menaksir buku-buku yang dimusnahkan tentara Salib di Tripoli sebanyak tiga juta buah.
Petaka pendudukan Spanyol atas Andalus juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan besar yang telah diceritakan sejarawan dengan mencengangkan. Semua buku dibakar oleh pemeluk-pemeluk agama yang fanatik. Bahkan buku-buku yang dibakar dalam sehari di lapangan Granada, menurut taksiran, sebagian sejarawan berjumlah satu juta buah. Yang membuat langit di malam hari menjadi putih, karena asap yang membakar buku-buku. Dan petaka-petaka umum itu beralih kepada fitnah internal umat Islam, yang menghancurkan sendiri khazanah peradabannya.
Inilah pembicaraan tentang perpustakaan kita, pada masa-masa peradaban kita berikut kesudahan yang dialaminya. Kini perpustakaan-perpustakaan di Eropa telah memelihara sisa-sisa yang tertinggal dari pusaka kita, di situ banyak tersimpan karangan-karangan berbahasa Arab yang tak didapati padanannya di seluruh dunia Islam saat ini. Dus, peradaban Islam telah menjadi guru bagi peradaban Barat hari ini. Tetapi, apa yang mereka berikan kepada kita?
Seorang penyair bertutur,
Syam menghadiahi Barat seorang Nabi,
Dia pemaaf, pelipur lara, dan penyabar.
Sedangkan Barat memberi Syam hadiah-hadiah,
Berupa perempuan, judi, dan minuman keras.
Kami berkuasa, maka pemaaf watak kami.
Tatkala kalian berkuasa, darah pun mengalir rata. Tidaklah mengherankan, perbedaan di antara kita. Karena setiap bejana, merembes sesuai isinya. []
Referensi:
- Ali Ath-Thohthowi. 2000. Episide-Episode Kemenangan Sejati: Untaian Kisah Sejarah Bertahtakan Keagungan Nilai-Nilai Etika dan Estetika. Surabaya: Pustaka Progressif.
- Dr. Adian Husaini et. al. 2016. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani.
- Dr. Mustafa Husni As-Sibai. 2002. Min Rawaa'i Hadaraatina. Jakarta: CV. Pustaka Setia.
- Dr. Nizar Abazhah. 2017. Sejarah Madinah. Jakarta: Penerbit Serambi.
- Dr. Nizar Abazhah. 2017. Bilik-Bilik Cinta Muhammad Saw: Kisah Sehari-Hari Rumah Tangga Nabi. Jakarta: Penerbit Serambi.
- Prof. Abdul Malik Asy-Syaibani. 2020. Sirah Fi Zhilalil Qur'an: Sirah Nabawiyah dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur'an. Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar.
- Syamsuddin Arif dkk. 2018. Framework Studi Islam: Kajian Multidisiplin Wacana Keislaman Kontemporer. Jawa Timur: UNIDA Gontor Press.

Post a Comment