ISLAM PROTESTAN
ISLAM PROTESTAN
Oleh: Gilang al-Qanuni
Suatu ketika, di sebuah warung makan pinggir jalan. Seorang pelanggan memesan makanan beserta minumannya.
"Mau pesan apa Pak?"
"Nasi kuning pakai telur, dengan 'es teh panas' ya!"
"Maaf Pak, bisa diulangi minumannya?"
"Es teh panas."
Mungkin kita bertanya-tanya, apa maksud 'es teh panas' pesanan pelanggan di atas? Kerancuan yang disebabkan oleh bersatunya dua kata yang saling berlawanan, es dan panas. Yah, itulah yang coba dipaksakan oleh para penganut faham Islam Liberal. Secara bahasa Islam berarti tunduk dan patuh, sedangkan liberal berarti bebas. Bagaimana mungkin seseorang yang telah tunduk dan patuh bisa sekaligus menjadi bebas. Bagaimana mungkin ada orang yang telah menyerahkan hidupnya untuk diatur oleh Allah, namun pada saat yang sama juga dia menolak batasan yang telah ditetapkan oleh Allah. Sangat kontradiktif, begitulah wajah Islam Liberal. Keduanya jelas berlawanan, namun berdasarkan prinsip relativisme, keduanya harus dipaksakan untuk terima sebagai kebenaran.
Pada awalnya, nama Islam Liberal adalah Islam Protestan. Namun, karena wacana Islam Protestan tidak dihiraukan oleh umat Islam, maka dipakailah istilah Islam Liberal. Gerakan ini terinspirasi dari gerakan Martin Luther, yang pernah mem-protestan-kan agama Kristen Katholik di Barat. Sehingga lahirlah gerakan mem-protestan-kan Islam. Michel Foucault menyebutnya sebagai penjajahan wacana. Menurutnya, "Untuk menjajah pemikiran, kuasai wacana!".
Sebagaimana tulisan sarjana hukum asal India, Ali Asghar Fyzee (1899-1981). "Kita tidak perlu menghiraukan nomenklatur, tetapi jika sebuah nama harus diberikan padanya, marilah kita sebut itu Islam Liberal." Bahkan, Fyzee menggunakan istilah lain untuk Islam Liberal, yaitu Islam Protestan. Islam Liberal ini lebih cocok disebut sebagai 'agama baru', yakni 'agama liberal'. Apatah lagi bersifat anti-agama, bahkan kata 'liberal' pun sudah mereka khianati. Kalau ingin liberal, janganlah setengah-setengah. Liberallah secara kaffah, karena ketidakjelasan uraiannya masih tampak di sana-sini.
Mengapa Barat memilih sekuler-liberal? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Dr. Adian Husaini (2005), Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal.
- Adanya trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (kristen) di zaman pertengahan.
- Problem pada teks Bible.
- Problem teologis ajaran Kristen. Problem-problem ini saling terkait, sehingga memunculkan sikap traumatis terhadap agama, pada akhirnya memunculkan sikap berpikir sekuler-liberal dalam tradisi pemikiran Barat modern.
Di Barat, sejarah ateisme juga berasal dari sikap liberal seperti itu. Kajian Michael Buckley dalam at The Origin of Modern Atheism membuktikan bahwa ketika orang mulai mempertanyakan orisinalitas Bible, mereka lalu berani mempertanyakan konsep teologinya. Ketika pertanyaan bebas itu tidak terakomodasi, maka para penanya akan menjadi ateis. Mereka harus menafsirkan kembali ajaran agama Kristen supaya tetap relevan dengan perkembangan kehidupan masyarakat modern yang sekuler. Dan gejala ini sudah mulai nampak di kalangan Muslim Liberal.
Bebas bagi kaum sekuler-liberal adalah bebas melampiaskan hawa nafsunya, bertelanjang ria dan pornografi dianggap sebagai kebebasan. Jangan heran jika sebagian negara Barat, kaum Muslim tidak bebas membangun menara Masjid; di Prancis, muslimah tidak bebas mengenakan jilbab. Tapi di Denmark dan negara-negara lainnya. Mereka biarkan kaum kafir sebebas-bebasnya menghina Nabi Muhammad Saw, bahkan menghina Tuhan mereka sendiri. Seperti kata Nietzsche, "Tuhan telah mati." Tap ternyata, Nietzsche masih kalah kerdil dibandingkan dengan Fir'aun, yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan.
Itulah bedanya dengan Islam! Bagi Muslim, bebas artinya bebas dari hawa nafsu. Kaum Muslim tidak bebas memilih yang buruk. Muslim hanya bebas memilih yang baik (khayr). Sebab seorang Muslim sudah bersyahadat, sudah menyatakan tunduk kepada Allah dan rasulnya, tetapi hatinya benci kepada agama Allah itu namanya munafik (Q.S. al-Baqarah: 13-20).
Jadi pada hakekatnya, manusia tidak ada yang bebas sama sekali! Ketika mengendarai motor, kaum liberal tidak bebas memilih, harus mengenakan helm. Mereka tidak protes kepada polisi yang mengganggu kebebasan mereka. Tapi ketika dipaksa memakai jilbab, mereka protes. Itu mengganggu kebebasan! Pada akhirnya tiap manusia sudah diberi pilihan; bebas dari Tuhan atau bebas dari setan! Kita patutnya bersyukur kepada Allah, telah menurunkan agama ini dengan penuh kejelasan. Bagaikan misykat yang menerangi kegelapan.
Selanjutnya marilah kita biarkan David Thomas, Pendeta dan Professor Teologi di Selly Oak College, Universitas Birmingham, Inggris berkata, "Apalah artinya Athena tanpa Jerussalem." Maksudnya, apa artinya kemajuan ilmu pengetahuan jika tanpa didukung oleh agama. Apa arti ilmu tanpa iman. []
Referensi:
Abdul Mutaqin. 2013. Kyai Kocak VS Liberal. Jakarta: Salsabila.
Akmal Sjafril. 2012. Islam Liberal 101. Depok: Indie Publishing.
Dr. Adian Husaini et.al. 2016. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani.
Dr. Adian Husaini. 2015. Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab. Surabaya: Bina Qalam Indonesia.
Hamid Fahmy Zarkasyi. 2018. Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam. Cet. IV. Jakarta Selatan: INSISTS-MIUMI.

Post a Comment