Header Ads

Doa; Upaya Menyatukan Kehendak Allah dan Kehendak Manusia


Doa; Upaya Menyatukan Kehendak Allah dan Kehendak Manusia

Setiap manusia pasti mengharapkan keinginan-keinginannya dapat menjadi kenyataan. Orang sering mengatakan bahwa hidup itu harus dengan harapan. Meski demikian, tidak boleh hanya menggantung kepada harapan. Seseorang berharap untuk yang terbaik buat dirinya adalah suatu kebaikan, tetapi akan jauh lebih baik jika harapannya itu disertai dengan usaha maksimal dalam mewu judkannya. Akan jauh lebih baik lagi jika harapan dan usaha maksimal mewujudkannya disertai doa dan berserah diri kepada Yang Maha Memberi segalanya.

Sebagai langkah awal, berharap yang terbaik tentu belum menghasilkan apa-apa dikarenakan belum melakukan suatu tindakan nyata. Bekerja dan bertindak mewujudkannya secara maksimal, berpeluang besar akan menghasilkan kesuksesan. Secara empirik, menyatunya kehendak Allah swt dan kehendak manusia memastikan harapan dan keinginan dapat terwujud secara nyata. Doa, memohon kepada Yang Maha Kuasa dan berserah hanya kepada-Nya adalah jembatann yang mendekatkan kehendak Allah dan kehendak manusia. Sebagaimana kisah Nabi Muhammad saw, ketika telah membulatkan hati untuk berhijrah ke Yastrib dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukannya serta berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan keinginannya berhijrah, ia menegadahkan tanggannya memohon kepada Dzat Yang Maha Kuasa, "Dan katakanlah, "Ya Rabbku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan Keluarkan (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong." (Q.S. Aal-Isra[17]: 80).

Berserah Kepada Allah SWT

Keinginan-keinginan dan harapan-harapan manusia demikian luasnya, bahkan tak terbatas. Akan semakin tidak terbatas jika keinginan berkembang menjadi angan-angan. Akan tetapi, ia tidak dapat merealisasikan semua yang diinginkan dan diharapkan yang tidak terbatas itu menjadi kenyataan karena manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan yang melekat di dalam dirinya. Keterbatasan manusia dalam memenuhi segala harapan dan kebutuhannya identik dengan kelemahan eksistensial manusia sebagaimana dinyatakan Allah swt dalam firman-Nya, "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah."  (Q.S. Al-Nisa[4]: 28).

Betapa banyak yang terjadi pada diri seseorang justru di luar harapannya, bahkan sama sekali di luar perkiraannya. Sebaliknya, hal-hal yang diharap-harapkan dan dengan segala perhitungan yang matang diperkirakan terjadi pada dirinya serta diusahakan dengan segala perhitungan yang matang justru tidak pernah menjadi kenyataan Bahkan, harapan yang coba diwujudkan melalui segala macam cara serta dengan upaya mati-matian pun sering tidak bisa terealisasi. Oleh sebab itulah sejatinya setiap manusia, sesuai dengan eksistensinya sebagai makhluk, yang memiliki kemampuan terbatas tidak bisa luput dari sikap berserah, yaitu menyerahkan diri seutuhnya untuk diatur dan ditentukan oleh yang menjadi tumpuan keberserahannya. Bagi seorang Muslim, kesadaran seperti itu akan membangkitkan satu keyakinan bahwa seluruh motivasi dan perbuatannya harus tunduk kepada kehendak Allah swt.

Kenyataannya, di sepanjang sejarah manusia selalu ditemukan obyek-obyek yang menjadi tumpuan keberserahan. Obyek-obyek yang menjadi tumpuan keberserahan seseorang atau suatu bangsa itu merupakan refleksi utuh tentang kesejatian eksistensinya dan sebagai pantulan dari keyakinan yang menjadi dasar dalam memandang dirinya, alam, dan Tuhan. Keyakinan itu pula yang menentukan obyek dan corak otentik keberserahan seseorang terhadap sesuatu yang menjadi tumpuan keberserahannya. Dengan kata lain, obyek-obyek yang menjadi tumpuan keberserahan itu serta cara keberserahannya sejalan dengan kesadaran diri dan keyakinan yang menjadi acuan hidupnya.

Dengan demikian, sebagai salah satu sikap hidup, berserah merupakan kebutuhan alamiah manusia. Setiap manusia pada hakikatnya memerlukan adanya sandaran bagi keberserahan dirinya. Realitas sikap ini cukup memengaruhi suasana batiniah seseorang dan bahkan menentukan kualitas dirinya.

Faktanya, sikap berserah seseorang kepada obyek yang menjadi tumpuan keberserahanya dalam satu sisi dapat menenteramkan jiwanya dan dalam banyak kasusu dapat pula menepis kegelisahan, ketergesa-gesahan, ketidaksabaran, keraguan, dan kesombongan yang menderanya. Realitas manusia selalu menunjukkan tingkat keberserahan seseorang kepada Dzat Yang Maha Memenuhi segala permintaan hamba, menunjukkan kualitas kemajuan spiritualnya.

Kepada Siapa Berserah?

Kepada siapa seseorang berserah dan seperti apa wujud keberserahannya tergantung pada dua faktor. Pertama, tergantung kepada keyakinan yang menjadi landasan hidupnya dan menggerakkan seluruh perjalanan sejarahnya. Kedua, kepada wawasan yang dimiliki seseorang terhadap eksistensinya dan terhadap Tuhan dan Alam.

Akan tetapi, sehubungan dengan kebutuhan keberserahan tersebut, di dalam diri setap manusia melekat problem. Di satu sisi, ia ingin menumpahkan keberserahan kepada satu obyek, namun di sisi yang lain terdapat kecenderungan yang kuat bahwa dirinya ingin merengkuh kebebasan yang seluas-luasnya, lepas dari segala bentuk ikatan dan ketergantungan.

Oleh karena itu, di dalam diri manusia tertanam dua kecendrungan yang saling berlawanan, yaitu di satu sisi ingin berserah, tetapi di sisi lain dan pada saat yang sama ia juga ingin bebas. Kenyataannya kecendrungan yang bersifat dikotomis ini selalu dirasakan oleh setiap manusia sepanjang hidupnya. Pada kebanyakan orang justru mengalami kesulitan untuk mendamaikan keduanya. Nilai-nilai spiritual dan ajaran-ajaran agama tentang makna hidup sangat berperan dalam membentuk persepsi dan sikap manusia dalam menghadapi kedua realitas yang melekat pada setiap diri tersebut.

Kedua kecendrungan ekstrim tersebut dirasakan sebagai salah satu dilema yang melekat pada diri setiap orang. Akan tetapi, dua kutub seperti itu, dalam pandangan muslim, bukan tidak mungkin untuk didamaikan. Kedua kutub itu justru merupakan refleksi utuh dari realitas konkret manusia yang sejatinya. Setiap individu dituntut menyikapinya secara positif hingga menjadi energi diri yang dapat mengantarkan kepada kemenangannya yang sejati.


Sumber: Buku Bercermin Pada Diri karya Abu Ridha

No comments

Powered by Blogger.