Ketika Diam Menjadi Asing
Ketika Diam Menjadi Asing
Salah satu karakteristik yang memastikan manusia sebagai makhluk moral adalah kehendak atau pilihan bebasnya dalam menentukan tindakan yang diambilnya, baik berupa pemikiran, ucapan, atau pun perbuatan. Bagi manusia, kehendak atau pilihan bebasanya itu melekat pada eksistensinya, dan bersifat intristik. Ia adalah karunia Allah SWT yang melekat pada penciptaannya.
Sehubungan dengan kehendak atau pilihan bebas itu, dua kemungkinan yang dapat dilakukan manusia di sepanjang hidupnya, yaitu diam atau tidak diam. Artinya, setiap individu memiliki potensi, secara bebas, untuk diam, tidak melakukan sesuatu, atau tidak diam, melakukan suatu tindakan atau berbagai tindakan.
Kita diam biasanya digunakan untuk menunjuk suatu keadaan yang dikatikan dengan pembicaraan dan perbuatan seseorang. Kendati demikian, orang yang diam tidak berarti seluruh organnya sama sekali diam, tidak ada gerakan.
Bagi manusia hal itu tak mungkin terjadi salama dia masih hidup, karena gerak adalah tanda kehidupan itu sendiri. Seseorang disebut diam ketika ia dengan kehendak bebasnya sedang tidak bicara apa-apa atau tidak melakukan apa-apa. Ringkasnya, ia tidak melakukan suatu tindakan apapun.
Seringkali, diam dihubungkan dengan pasivitas yang menyebabkan tidak sedikit orang yang memandanya sebagai tidak produktif. Akibatnya, banyak orang yang berusaha keras menghindarinya agar dikatakan sebagai manusia aktif. Padahal dalam banyak hal aktivitas itu tidak ada hubunganya langsung dengan produktivitas memberi hasil, aktivitas menghabiskan waktu, sedangkan produktivitas membebaskannya.
Berharga atau tidaknya kedua kemungkinan (diam atau tidak diam) tersebut tergantung kepada tujuan dan motivasi yang melandasi kehendak dan pilihan bebasnya. Di bagian lain, suatu pembicaraan atau perbuatan akan punya nilai bila dilakukan dengan sengaja atas dasar pilihan bebasnya.
Diam itu Emas ?
Dalam salah satu syairnya Imam Syafi'i mengatakan, "Saya menemukan dalam sikap diam saya sebagai modal dasar, maka tetap saya pertahankan, meskipun saya tidak memperoleh untung dan rugi." Di bagian lain ia mengatakan, "Sikap diam bagi seseorang adalah ibarat pedang yang cenderung banyak keuntunganya, mengalahkan pedang yang lain."
Oleh Sebab itu, diam memiliki keutamaan yang sangat bernilai jika ia merupakan hasil dari pemikiran dan perenungan serta pilihan yang tepat. Dalam banyak kasus, maslahat sikap menahan diri (diam) jauh lebih besar dibanding dengan berbicara. Misilnya diam untuk tidak berbicara bohong. Dalam banyak kasus pula diam bisa jadi senjata ampuh. Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya melukiskan diam sebagai pusaka kebajika, "Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah, dan merahasiakan sedekah yang dikeluarkannya." (HR. Thabrani).
Nilai diam bagi seseorang sangat ditentukan oleh faktor pilihan bebasnya. Memang kenyataannya diam itu beragam penyebab dan dampaknya. Oleh sebab itu, tidak semua diam jadi emas, tetapi bisa pula mejadi masalah. Para ulama dulu, sikap diam sangat bergantung kepada niat, cara, situasi, dan kondisi objektif pada diri dan lingkungannya.
Jika seseorang dengan kehendak bebasnya memilih diam, tidak berbicara dan tidak melakkan sesuatu, tidak berarti dia tidak punya nilai. Oleh karena itu, nilai diam sebagai kehendak dan pilihan bebas manusia ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:
"Barangsiapa yang berima kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hirmatilah tamunya." (HR. Muttafaq Alaih)
Apabila kalau missalnya ia lebih memilih diam daripada berbicara bohong. Dalam hal ini, skiap diam justru sangat bernilai karena dilakukan untuk sebuah nilai, diperlukan, strategi, dan tepat momentumnya. "Diam itu emas". Begitu pepatah menggambarkan betapa penting dan bernilannya pilihan diam.

Post a Comment